Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Selasa, 04 Mei 2010

Caleg dan Ikon partai

Selasa, 04 Mei 2010
Ketika Caleg Ramai-Ramai Memasang Tokoh Partai sebagai Ikon///sub
Efektifkah Ikon Partai Mendongkak Suara Caleg?

Memasang tokoh partai sebagai ikon dalam baliho caleg seolah menjadi hal yang wajib. Sejumlah caleg ramai-ramai memajang tokohnya disetiap baliho. Efektifkah keberadaan ikon ikon itu sebagai pendulang suara?

LAPORAN: YARDIN HASAN

Hampir semua caleg memajang tokoh partai dalam balihonya. Apakah ketua partai di tingkat pusat atau pimpinan partai di tingkat daerah, namun memasang tokoh-tokoh partai seolah menjadi hal yang wajib. Setidaknya bagi tiga partai yang terlihat jorjoran memajang gambar pimpinan partainya. Ketiga partai tersebut adalah, Partai Demokrat yang memajang Ketua Dewan Penasehatnya Susilo Bambang Yudhoyono, Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP) memajang foto ketua umumnya, Megawati Soekarnoputri dan Partai Keadilan Persatuan Indonesia (PKPI) memajang Ketua DPP nya Mayjend TNI (Purn) HB Paliudju dalam setiap baliho calegnya. Masih ada beberapa caleg lainnya yang juga memasang tokohnya seperti, Partai Republikan dengan yang memajang foto Raja Jogya Sultan Hamengkubuono ke-X serta PNI Marhaenisme yang memasang foto sang proklamator Bung Karno. Pertanyaannya sejauhmana keberadaan para tokoh elit partai itu mampu menopang suara untuk sang caleg?
Dr Kristian Tindjabate dari Fisip Untad mengatakan, tidak ada korelasi antara tokoh elit partai dengan perolehan suara caleg pada pemilu nanti. Menggunakan karisma para elit partai dengan harapan dapat mendongkrak suara sang caleg menurut Kristian adalah pandangan yang keliru. ‘’Memanfaatkan ketokohan tokoh partai untuk mendongkrak perolehan suara caleg, membuktikan kalau caleg-caleg itu tidak percaya diri,’’ kritik Kristian. Di era suara terbanyak seperti sekarang ini, kualitas dan kapasitas caleg yang bersangkutan menjadi satu-satunya penentu apakah caleg yang bersangkutan terpilih atau tidak. ‘’Jadi bukan karena keberadaan sang ikon,’’ katanya menambahkan.
Namun demikian ada sisi positifnya dengan adanya para tokoh partai itu ditempatkan dalam baliho caleg. Rata-rata para elit partai itu adalah yang digadang-gadang menjadi calon presiden. Seperti Susilo Bambang Yudhoyono dari Partai Demokrat, Megawati dari PDIP dan Sri Sultan Hamengkubuono dicalon oleh Partai Republikan, maupun Prabowo Subianto yang menggunakan Partai Gerindra sebagai kendaraan menuju kandidat capres. Dengan demikian kata Tindjabate, masyarakat akan bisa menilai para calon pemimpin-pemimpin itu. ‘’Apakah mereka layak dipilih atau tidak masyarakat akan bisa menilai. Karena wajahnya sudah terpampang di sejumlah baliho,’’ ulas Tindjabate.
Namun di mata aktivis partai dan caleg, keberadaan tokoh partai sebagai ikon adalah hal yang perlu dan mutlak. Sekretaris DPP PKPI Sulteng Ir H Zaenal Abduh , mengemukakan, menempatkan wajah partai dalam baliho sang caleg adalah hal yang lumrah. Bahkan bagi partai seperti PKPI, hal itu bisa dikatakan sebagai kewajiban. Ini menandakan kuatnya ikatan emosional kader partai dengan pimpinan. ‘’Bukankah dalam sebuah partai soliditas dan solidaritas kader dan pimpinan partai sangat diperlukan,’’ tanya Zainal.
Ia mengatakan, menempatkan foto Paliudju dalam baliho caleg PKPI bukan asal pampang. Melainkan telah melalui kajian dan evaluasi kritis di lapangan. Hasilnya, popularitas Paliudju cukup tinggi. ‘’Dengan alasan itu maka kami menganjurkan caleg-caleg kami untuk menempatkan foto beliau. Pasar politik masih menerima figure Pak Paliudju baik sebagai tokoh partai, tokoh masyarakat maupun tokoh pemerintahan,’’ ulasnya. Saat ditanya minimnya foto Ketua DPN PKPI Dr Meutia Hatta di baliho caleg PKPI, menurut Zaenal hal itu bukan berarti Meutia Hatta kalah popular dari Paliudju. Namun dalam politik katanya unsure proximity (kedekatan) sangat memegang peranan penting. ‘’Bukan berarti Pak Paliudju lebih popular dari Ibu Ketua Umum, tapi memang dalam konteks politik praktis, emosional kedaerahan kadang ikut bermain. Tapi kalau di Sumatera Barat, bisa saja Ibu Meutia menjadi sangat popular dan melebihi SBY atau Megawati,’’ ujar Zaenal. Apakah menjamurnya baliho Paliudju terkait proyeksi politik pada 2011 (suksesi) atau ada agenda politik lainnya? Ditanya demikian, Zaenal mengatakan Paliudju dan PKPI sama sekali belum memikirkan proyeksi politik kedepan. Justru kata dia pemerintahan dibawah kepemimpinan Paliudju memberikan konsentrasinya untuk menuntaskan agenda pemerintahan.
Sementara itu, caleg PDIP Matindas Janus Rumambi S.Sos mengaku, caleg-caleg PDIP yang mencantumkan foto Megawati dalam setiap baliho maupun kalender adalah yang mutlak dilakukan. Karena langkah tersebut sebagai upaya untuk mengampanyekan Megawati sebagai calon presiden yang diusung PDIP. ‘’Jadi ini bukan karena caleg PDIP kurang pede, sehingga harus mendompleng nama besar Ibu Mega. ‘’Sebagai kader kami wajib memberikan loyalitas kami kepada beliau. Salah satunya dengan menyosialisasikan Ibu Mega sebagai capres,’’ tandas Janus.
Masih menurut Janus, dalam pemilu, yang terjadi sebenarnya pertarungan pencitraan partai termasuk para calegnya. Jadi masalahnya adalah bagaimana partai dan caleg bisa merebut hati rakyat. ‘’Karena PDIP sangat berkepentingan dalam dua momentum pemilu, Pilpres dan pemilu Legislatif maka, caleg PDIP disamping mengkampanyekan dirinya dalam waktu yang bersamaan ikut pula menyosialisasikan capresnya,’’ demikian Janus.
Pandangan yang sama juga dikemukakan oleh caleg Demokrat Lucy Shanti. Ia mengemukakan, pencantuman foto SBY di baliho caleg Demokrat adalah anjuran pimpinan partai. Ini karena SBY pada Pilpres mendatang adalah calon yang berstatus incumbent. Jadi kata Luci persoalannya bukannya caleg-caleg itu kurang percaya diri sehingga harus ‘’dikawal’’ para petinggi partai. Toh kata Lucy tidak ada salahnya jika dirinya dan caleg Demokrat lainnya mencantumkan foto SBY. ‘’Sebagai presiden yang berasal dari Partai Demokrat, SBY cukup berhasil mengemban amanah rakyat. Sebagai incumbent kami juga berkewajiban menyosialisasikan beliau sebagai capres Demokrat,’’ kuncinya. (***)

0 komentar:

Poskan Komentar