Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Kamis, 06 Mei 2010

Yang Muda yang Berkarya

Kamis, 06 Mei 2010
Menjadikan Tantangan Sebagai Peluang

Tingginya angka pencari kerja di negeri ini memang telah menjadi problem klasik. Masalah ini juga memaksa negara turun tangan. Bahkan tak jarang persoalan tenaga kerja membuat relasi dua negara panas dingin. Yang teranyar adalah mencuatnya kasus Siti Hajar, TKW asal Jawa Timur diperlakukan seperti anjing kurap di negeri orang, tak pelak membuat para penyelenggara negeri ini sibuk bukan kepalang.
Kecilnya peluang dunia kerja, maka tak heran PNS masih dianggap sebagai satu-satunya pintu akses menuju dunia kerja. PNS menjadi favorit yang diburu oleh ratusan ribu tenaga kerja. Tapi betulkah dunia kerja di luar pintu PNS tertutup sama sekali bagi para pencari kerja? Yusri MB Restoran Manager KFC Palu dan Zainuddin ST Pimpinan CV Tinta Kaili – dua pemuda ini menuturkannya kepada Radar Sulteng, setidaknya bisa menginspirasi para pencari kerja seusianya

Apa yang menyebabkan kecenderungan para pencari kerja lebih tertarik melamar PNS dari pada membuat usaha yang bisa menciptakan lapangan kerja?

Yusri: Pertama mungkin persoalan mind set (pola pikir) bahwa dengan menjadi PNS hidup di hari tua lebih terjamin. Jadi mungkin persoalannya tidak saja pada si pencari kerja itu sendiri tetapi juga lingkungan ikut memengaruhi pola pikir khususnya orang-orang terdekat dalam hal ini orang tua

Zainuddin: Kalau saya kurang lebih seperti itu. Paling dominan memang orang tua. Mereka ingin anaknya mendapat kepastian masa depannya sehingga menginginkan anak-anaknya masuk ke PNS, karena kalau di PNS ada jaminan hari tua (pensiun, red)

Bagaimana sebenarnya peluang dunia kerja di luar PNS?

Yusri: Sebenarnya peluang itu sangat banyak dan terbuka bagi siapa saja. Setidaknya dari pengalaman saya sendiri bahwa dunia kerja memang memberikan peluangnya kepada siapa saja tergantung sejauhmana kita mampu mengakses peluang itu. Problem terbesar kita adalah kuran pasnya kebutuhan dunia kerja dan sumber daya manusia yang tersedia. Artinya adanya kekurangpasan antara kebutuhan dunia kerja dengan kualitas SDM dari si pencari kerja itu sendiri. Masalahnya memang di situ.

Zainuddin: Sebenarnya dunia kerja bisa diciptakan sendiri tergantung sejauhmana kita memanfaatkan peluang yang ada. Sebagai orang dengan latarbelakang teknik, kita dirangsang untuk memaksimalkan kreativitas untuk menciptakan lapangan kerja yang kelak bisa menyerap tenaga kerja. Seperti yang kami lakukan di Tinta Kaili, awalnya terdiri dari dua unit usaha yang terpisah antara percetakan dan konveksi. Lambat laun seiring dengan tingginya order semakin berkembang sehingga dua divisi usaha ini menjadi satu managemen. Ini juga setelah kita mampu mendapatkan kepercayaan dari lembaga perbankan.


Ada fenomena para pencari kerja kita suka jalan pintas, untuk sukses. Setidaknya ini bisa dilihat dari tingginya minat ke PNS bahkan yang ada juga pada usia-usia produktif banyak yang banting setir menjadi politisi dengan harapan dapat menjadi anggota dewan?

Yusri: Soal mau menjadi PNS atau politisi ini kan persoalan pilihan. Kalau dia chemistry nya disitu, saya kira itu perlu dihargai. Tetapi saya hanya ingin mengatakan peluang menuju sukses memang tidak bisa secara instan butuh kerja keras dan kualitas sumber daya yang memadai serta kemampuan memanfaatkan situasi.

Zainuddin: Saya sendiri tidak tahu mengapa. Tapi saya sama sekali tidak ada keinginan untuk menjadi PNS. Beberapa kali orang tua saya mendesak untuk melamar menjadi dosen, tapi sampai saat ini belum terbetik keinginan seperti itu. Saya enjoy dengan dunia yang dijalani saat ini. Memang cukup menantang tapi paling tidak kita bahagia karena bisa menyerap tenaga kerja, ha…ha..ha….

Apa sebenarnya yang harus dilakukan supaya tidak sekadar menggantungkan harapan menjadi PNS atau pada belia sudah menghabiskan waktu menjadi politisi?

Yusri: Kuncinya memang pada mental. Tidak boleh cepat menyerah. Kadang orang yang bisa bertahan lalu kemudian menapak tangga sukses adalah orang-orang yang harus jatuh bangun. Karena dari situ ia bisa mendapatkan kiat bagaimana mengatasi yang dihadapi. Kita tidak boleh lari hanya karena mendapatkan sandungan di satu tempat. Saya mencontohkan Kolonel Harlan Sanders, pendiri restoran cepat saji KFC di Amerika. Beliau 39 kali jatuh bangun. Tapi karena mentalnya yang kuat, KFC menjadi konsumsi global. Ini menjadi contoh bahwa persoalan mental memegang peran penting untuk menuju sukses

Zainuddin: Ini soal budaya, soal kebiasaan kita yang suka menghindar dari masalah. Padahal itu bukan solusi, karena lari dari masalah justru kita mencari masalah lain yang kita sendiri belum tahu seperti apa cara menaklukan masalah itu. Jadi seberat apa pun risiko itu harus dihadapi. Saya sangat percaya filosofi ini. Setidaknya hal itu saya bisa rasakan saat pertama terjun di bisnis ini. Berbagai kendala kerap menghampiri tapi yang paling berat adalah soal pendanaan. Untuk mendapatkan kepercayaan dari lembaga keuangan sulitnya minta ampun. Coba kalau saat itu, kita tidak menghindar dari masalah pelik ini, maka Tinta Kaili tidak akan dikenal seperti saat ini. Kendala lain tingginya kompetisi dari usaha sejenis. Tapi karena kita mampu mengatasi kendala itu kita pun bisa survive hingga hari ini.

Komentar Anda berdua soal, kecenderungan di usia-usia produktif melibatkan diri dalam politik praktis untuk kepentingan menjadi anggota dewan?

Yusri: Wah saya tidak ada komentar soal itu. Inikan soal pilihan, kembali pada individu masing-masing saja. Kalau merasa enjoy saya kira tidak apa-apa, asal jangan merasa terpaksa dan dipaksa saja

Zainuddin: Saya kira terserah pada masing-masing individu saja. Kalau dia merasa mampu kenapa tidak

Terakhir, apa komentar Anda di usia yang muda sudah memimpin satu divisi usaha yang mempekerjakan banyak orang?

Yusri: Alhamduliah. Di antara ratusan ribu orang muda di daerah ini, saya diberikan amanah memimpin sebuah unit usaha dengan brand internasional. Tapi bukan sekadar itu, saya bahagia karena di KFC ditanamkan suasana kerja yang sangat professional, tugas-tugas terdistribusi secara proporsional dalam suasana enjoy. Walau kadang saya juga harus turun tangan, tapi itu bukan karena kekurangpercayaan kita pada orang dibawah kita. Memang managemen KFC mewajibkan pimpinannya harus seperti itu bisa menghandle semua divisi. Entah itu bagian cleaning service, kasir atau bagian produksi hingga bagian teknisi.

Zainuddin: Saya bahagia karena kerja keras ini bisa berhasil. Bisa memperkerjakan teman-teman. Dari pekerjaan ini bisa menghidupi keluarga dan orang-orang terdekat mereka. Saya kira tugas saya belum selesai karena tantangan berikutnya adalah bagaimana menjaga kepercayaan konsumen di tengah persaingan yang semakin kompetitif. (yardin hasan)

0 komentar:

Posting Komentar