.
Wajah Baru Caleg DPRD Kota Palu Periode 2009-2014
Ernawatie, Seorang Single Parent yang Berobsesi Membentuk Kaukus Politisi Perempuan
Nama-nama baru berhasil menggusur wajah-wajah lama anggota dewan. Dari beberapa incumbent yang mencalonkan diri di daerah pemilihan Palu Selatan, hanya empat di antaranya yang kemungkinan kembali menduduki gedung dewan. Berikut wawancara Radar Sulteng dengan salah seorang new comer (pendatang baru) anggota DPRD Kota Palu
LAPORAN: YARDIN HASAN
Perebutan kursi legislatif dari daerah pemilihan (dapil) Palu Selatan ternyata cukup mengejutkan. Nama-nama yang diprediksi sebagai caleg jadi ternyata merupakan wajah-wajah baru. Hanya sebagian kecil incumbent yang mampu bertahan di dapil tersebut. Salah satunya yang berintung adalah Ernawatie SE, MM seorang wanita yang sejak 1999 menjadi single parent. Peran tersebut terpaksa dilakoninya setelah ia memilih bercerai dengan sang suami yang telah memberinya dua anak. Ernawatie mengelak merinci identitas sang suami. ‘’Mungkin kebanyakan warga Palu kayaknya kenal dia. Tapi sudahlah itu masa lalu. Bagi saya, dia itu sudah selesai, tidak perlu dingat-ingat lagi’’ ujarnya tersenyum kecut.
Wanita kelahiran Makassar 3 September 1967 silami ini mengungkapkan, kehadirannya kelak di gedung dewan sedikitnya bisa memberikan sumbangsih terhadap perjuangan kesetaraan gender, pencegahan kekerasan dalam rumah tangga (KDRT) serta pencegahan trafficking (perdagangan perempuan) yang selama ini menjadi masalah terbesar yang membelit kaum wanita. Untuk untuk mewujudkan itu, ibu dari Awal Muhammad Aufar Amran dan Anisah Nurul Hanifah Amran ini berharap terbentuknya sebuah wadah yang menghimpun politisi perempuan lintasfraksi di DPRD Kota Palu. Wadah ini katannya akan menjadi kelompok penekan untuk menggolkan kepentingan-kepentingan perempuan yang selama ini selalu terabaikan. Misalnya yang mendesak, tutur Dosen Ekonomi Unismuh dan Sekolah Tinggi Ilmu Kesehatan Widianusantara ini adalah sudah saatnya dibentuk Perda Anti Trafficking dan Perda KDRT. ‘’Ini bisa dilakukan jika ada semacam konsensus bersama dari politisi perempuan lintasfraksi untuk mendesak dibuatnya Perda ini. Kalau perlu Perda perda semacam ini menjadi hak inisiatif dewan. Tapi ya itu tadi harus ada semacam kaukus sebagai alat penekan agar upaya ini efektif,’’ tandas caleg nomor urut tiga dari dapil Palu Selatan ini. Ia yakin gagasan-gagasannya ini tidak mendapat resistensi dari politisi perempuan lainnya. Masalahnya, persoalan trafficking dan KDRT adalah sebuah realitas sosial yang telahg menjadi musuh bersama tidak saja oleh perempuan itu sendiri melainkan pemerintah dan masyarakat pada umumnya.
Hal inilah kata Ernawatie yang memotivasi dirinya terjun dalam politik praktis. Namun katanya, untuk mengegolkan itu, bukan perkara gampang, apalagi jika harus dilakukan seorang diri. ‘’Untuk isu-isu besar seperti ini, butuh kebersamaan, kolektivitas. Tidak bisa dilakukan dengan one man show. Makanya ini tidak cukup hanya disuarakan tetapi juga diperjuangkan dengan motor para politisi perempuan itu sendiri,’’ tegasnya.
Sebagai new comer di gedung dewan, yang identik dengan urusan-urusan serius, Ernawatie mengaku telah membekali diri sedikit demi sedikit dengan berbagai literatur yang berkaitan dengan legislasi, anggaran dan pengawasan. Selain itu, learning by doing artinya kata wanita berjilbab ini bisa sambil jalan sambil belajar dari koleganya di dewan kelak.
Sebagai caleg wakil rakyat perempuan, Ernawatie mengaku gembira dengan tampilnya sejumlah koleganya politisi perempuan yang lolos ke gedung DPRD Kota Palu. ‘’Kehadiran sejumlah anggota dewan perempuan kelak, mudah-mudahan bisa membawa angin perubahan yang signifikan bagi perjuangan kesetaraan hak perempuan di daerah ini,’’ demikian Ernawatie. ***
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar