PALU – DPRD Sulteng telah mengajukan surat pergantian antar waktu (PAW) terhadap tiga anggota DPRD Sulteng kepada eksekutif. Surat tersebut kini sudah berada di meja gubernur. Tiga anggota DPRD Sulteng yang bakal di PAW tersebut adalah Tirta Qomariyah Lamadjido SH MKn, Drs H Safruddin Sangkota dan Drs H Syamsuridjal Anggo. Ketiganya di PAW sebagai respons induk partai terhadap pilihan politik yang diambil oleh ketiga anggota DPRD Sulteng tersebut. Tirta Qomariyah Lamadijdo adalah anggota Fraksi Golkar yang kini menjadi caleg Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN) kemudian Syafruddin Sangkota dari Partai Bulan Bintang yang menyeberang ke Partai Pelopor dan Syamsuridjal Anggo anggota Fraksi Bakti dari Partai Amanat Nasional (PAN) dan kini tercatat sebagai caleg Partai Barisan Nasional (Barnas).
Informasi yang berhasil dihimpun Radar Sulteng di DPRD Sulteng menyebutkan, Golkar mengajukan …..untuk menggantikan Tirta Qomariyah Lamadjido. Pada pemilu 2004, …..ini memperoleh suara…..Tirta sendiri memperoleh suara….di daerah pemilihan Sulteng IV Kabupaten Poso, Morowali dan Touna. Sedangkan Syafruddin Sangkota akan digantikan Mansur Ba’di. Pada Pemilu 2004, Mansur meraup suara….di dapil Sulteng V yang meliputi, Kabupaten Banggai dan Bangkep. Berikutnya masih dari dapil yang sama, Syamsuridjal Anggo akan digantikan oleh seniornya Basir Nursin. Di dapil Banggai-Bangkep, Basir meraup suara….Basir Nursin sebelumnya adalah anggota DPRD Sulteng periode 1999-2004. Pada pemilu 2004, ia harus merelakan kursinya ditempati Syamsuridjal Anggo yang menempati nomor urut 1.
Proses PAW tiga anggota DPRD Sulteng itu sebelumnya dilatarbelakangi oleh permasalahan di internal partainya masing-masing. Tirta misalnya, sebelumnya sudah ada gesekan dengan pengurus partai Golkar. Ini tidak terlepas dari manuver politik yang diambil mantan Ketua KPPG Sulteng itu, yang kadang-kadang dianggap berlawanan dengan kebijakan induk partai. Sebut misalnya, langkah Tirta yang melakukan syafari ke sejumlah partai di Kabupaten Morowali untuk mendaftar menjadi kandidat bupati. Padahal Partai Golkar sendiri telah mempunyai jago yang harus diamankan, pasangan Zainal Abidin Ishak dan Roland Marunduh. Kemudian Tirta juga tercatat melakukan ‘’perlawanan’’ terhadap sikap politik fraksi Golkar di DPRD Sulteng. sumber Radar Sulteng menyebutkan salah satunya adalah keengganan Tirta menyetujui pembayaran proyek prestisius kolam renang di eks STQ. Sedangkan Syamsuridjal Anggo disebabkan rivalitas yang tajam antara kubu Syamsuridjal versus kubu Lutfi Lembah dan kawan-kawan yang kemudian melahirkan PAN kembar. Kubu Syamsuridjal bermarkas di Sekretariat PAN Jalan Suprapto, sedangkan kubu Lutfi Lembah mendirikan sekretariat baru di Jalan Setiabudi, di kediaman salah satu pentolan PAN Baso Rustam Efendi. Polemik tajam memaksa DPP PAN untuk melakukan intervensi. Hasilnya, DPP menurunkan Hadi Djamal sebagai Plt ketua menggantikan Syamsuridjal Anggo. Sampai akhirnya Syamsurdijal Anggo hengkang ke Barnas dan tercatat sebagai caleg nomor 1 dari dapil Sulteng V. Terakhir adalah Syafruddin Sangkota. Berbeda dengan dua rekannya yang terpaksa hengkang karena adanya permasalahan serius di internal partainya. Sekretaris Komisi II DPRD Sulteng ini mengaku memilih Partai Patriot setelah dalam pencalegan, dirinya di plot pada nomor urut 2. ‘’Sepantasnya kita kan mendapat nomor urut 1, karena setidaknya kita juga sudah berkontribusi pada partai,’’ keluh Syafruddin kepada Radar Sulteng beberapa waktu lalu. Karena merasa tidak sreg dengan kebijakan partai, Syafruddin pun memilih menjadi caleg Partai Pelopor dengan nomor urut 1 dari dapil Banggai-Bangkep. (yar)
Rabu, 05 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar