TIGA manusia pilihan yang mendapat predikat teladan mengaku akan menjadikan predikat teladan sebagai cemeti untuk bekerja lebih baik. drg Lutfiah Sahabuddin, adalah salah satunya yang mengaku akan terus mencurahkan perhatiannya untuk kepentingan kemanusiaan. ‘’Kebetulan profesi saya banyak bersinggungan dengan masyarakat, insya Allah komitmen ini akan terus saya jalankan selagi saya mampu untuk melakukannya,’’ ujar istri wartawan Tempo Darlis Muhammad ini. Perempuan yang masih fresh di usia mendekati kepala empat ini mengaku, sangat menikmati hari-harinya sebagai dokter. Setiap hari berhadapan dengan pasien dengan beragam latarbelakang membuat dirinya semakin menyadari, bahwa posisi profesinya sangat krusial. ‘’Menurut saya, kebanggaan seseorang bukan karena status sosialnya, tetapi sejauhmana keberadaan dirinya memberikan kontribusi untuk kepentingan orang-orang di sekitarnya,’’ tambah perempuan berjilbab ini. Ada atau tidak ada predikat dokter terbaik, komitmen untuk kemanusiaan akan terus dilakukannya.
Rekannya Arni, bidan teladan dari Kabupaten Buol juga mengemukakan hal serupa. Bahwa predikat yang didapatkannya itu, bisa memberikan energi positif untuk pelayanan kepada warga khususnya para bumil (ibu hamil) yang masih terus mendapatkan bimbingan. ‘’Walaupun saya jauh dari ibukota, tapi saya enjoy menjalaninya. Saya juga akan memilih mengabdi di desa seandainya diberi pilihan apakah mengabdi di kota atau di desa,’’ tandas ibu yang bersuamikan tentara ini. Ia beralasan, jika di desa tantangannya sangat dinamisi, karena selain geografisnya yang membutuhkan tantangan tersendiri, ia juga bangga jika mind set warga bisa diubah dengan melakukan penyuluhan secara intensif. ‘’Sedangkan di kota, segala sesuatunya sudah tersedia. Transportasi lancar, fasilitas kesehatan juga memadai,’’ katanya.
Satu lagi yang mendapat predikat teladan adalah Syamsudin Ladjawa. Meraih predikat sebagai nutritsionis teladan, Syamsudin sangat terobsesi untuk menjadikan anak-anak di kabupaten Banggai bebas gizi buruk pada 1019. ‘’Saya sangat tertantang karena ini sesuai dengan program pemerintah kabupaten Banggai,’’ katanya.
Ketiganya juga sepakat, akan terus berkiprah di dunia yang sedang digeluti saat ini. Salah satu tantangan masyarakat Indonesia saat ini adalah menjadikan warga untuk sadar terhadap kesehatan. ‘’Ini bukan persoalan gampang, karena terkait mentalitas, budaya dan juga mind set dari masyarakat itu sendiri. Tapi disitulah tantangannya. Ini juga sejalan dengan jargon, rakyat sehat negara kuat,’’ tandas Lutfiah mewakili teman-temannya. (yardin hasan)
Sabtu, 08 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar