Ingin Sukseskan Dua Agenda
Penting di Pemerintahan
PALU - Dituding sebagai penipu politik, caleg DPR RI terpilih dari PKS Adhyaksa Dault langsung angkat bicara. Ia merasa perlu membantah pernyataan sejumlah warga Palu, seperti yang dilansir salah satu harian terkemuka ibukota, bahwa, dirinya membohongi rakyat Sulteng sehingga pantas diberi julukan penipu politik. Adhyaksa yang menghubungi Radar Sulteng, Sabtu pecan lalu mengemukakan ia merasa sedih mendapat tudingan semcam itu.
Adhyaksa mengemukakan, langkah yang diambilnya telah melalui pertimbangan matang baik terhadap dirinya, partai maupun posisi Sulawesi Tengah dalam percaturan nasional. Dari aspek kepentingan partai, dirinya ingin memberikan
kesempatan kepada kader lainnya untuk mengorbit di tingkat nasional. Dari aspek kepentingan jangka panjang Sulawesi Tengah, ia ingin agar dua tugas penting yang saat ini sedang diperjuangkan bisa mencapai finish dan itu dimotori oleh menteri Tolare asal Sulawesi Tengah.
Dua agenda penting tersebut adalah Undang Undang Olah Raga, yang saat ini tinggal menunggu pengesahan dari DPR dan saat ini ada sekitar 350 atlet potensial yang direkrut dari berbagai daerah. Ini membutuhkan landasan hokum karena menyangkut anggaran. Sebentar lagi Perppres (peraturan presiden) sudah akan ditandatangani. Ia mengatakan, jika dirinya harus masuk parlemen, itu berarti harus mundur dari kabinet. ‘’Jika saya mundur dari cabinet, maka dua agenda penting ini hampir dipastikan tidak bisa dirampungkan setidaknya dalam waktu dekat ini,’’ katanya dengan terisak. Saat memberikan penjelasan via telepon kepada Radar Sulteng, Adhyaksa mengaku sedih karena dituding oleh teman-teman sedaerahnya sebagai penipu politik, pragmatis dan mengkhianati aspirasi rakyat Sulteng yang memilihnya. ‘’Saya ini bukan orang politik, sehingga saya sedih dituding seperti itu oleh saudara sendiri,’’ ujar Adhyaksa.
Padahal sikap mundur dari caleg terpilih yang diambilnya itu semata-mata agar dua agenda tersebut bisa sukses ditangan menteri asal Sulawesi Tengah. ‘’Saya minta ini dipahami supaya tidak ada ada salah pengertian di antara kita,’’ katanya menambahkan.
Seandainya dirinya lebih memilih materi, tentunya ia tidak akan mundur dari DPR RI, yang setiap bulan mendapat tunjangan hampir Rp100 juta perbulan ditambah dengan fasilitas rumah dinas. Ia juga tidak ingin dikatakan mengincar kursi di kabinet. Selesai mengabdi sebagai Menegpora, dirinya akan kembali sebagai rakyat biasa atau bekerja untuk kepentingan bangsa dan Negara sesuai kompetensi yang dipunyainya. (yar)
Sabtu, 08 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar