PALU – Pers dan politisi dua wilayah pengabdian yang berbeda, namun keduanya saling membutuhkan. Politisi tanpa pers tentunya tidak bisa berbuat banyak. Demikian pula pers tanpa politisi sebagai narasumber juga tidak bisa berbiat apa-apa. Politisi membutuhkan pers sebagai media untuk menyampaikan pesan-pesannya kepada publik (konstituen) sebaliknya, pers membutuhkan narasumber untuk disajikan kepada khalayak. Penegasan itu disampaikan Ketua PWI Sulteng H Kamil Badrun SE M.Si saat menjadi pembicara pada workshop yang diikuti para caleg terpilih di Hotel Citra Mulia, Sabtu (25/7) malam tadi. Membawakan materi peran media dalam penyebaran informasi mengatakan, jika politisi dan pers berjalan sesuai dengan fungsinya masing-masing secara proporsional maka tidak ada hal ini akan memberikan pendidikan yang baik bagi masyatrakat. Menurut Kamil, politisi tidak perlu takut kepada pers demikian pula sebaliknya. Pernyataan itu sekaligus merespons pertanyaan sejumlah peserta yang mempertanyakan sepak terjang para pekerja pers dewasa ini yang tidak terkontrol bahkan pada kasus-kasus tertentu, membuat para pejabat menjadi takut.
Menurut Kamil ini adalah salah satu bias dari terbukanya katup demokrasi dimana pada era Orde Baru orang kesulitan mendirikan perusahaan pers. Namun ketika reformasi bergulir penerbitan di Sulawesi Tengah sudah mencapai ratusan. Dalam perjalanannya urai Direktur PT Radar Sulteng Membangun – perusahaan yang menerbitkan Harian Radar Sulteng, ini banyak kolaps karena dikelola dengan managemen yang pas-pasan. Secara berkelakar mantan Pemred Kendari Pos (Jawa Pos Grup) ini, sekarang ada sejumlah usaha penerbitan yang menggantungkan hidupnya dari kebaikan hati pejabat. Misalnya pejabat tersebut dibuatkan tulisan dengan harapan pejabat tersebut yang membiayai cetakan korannya. Selanjutnya untuk edisi cetakan berikutnya akan dicari pejabat yang lain. Untuk mengelola usaha penerbitan seperti sekarang ini, masih diperlukan upaya yang lebih keras lagi agar bisa survive.
Namun cara ini kata Kamil masih lebih baik dari pada menjadikan koran sebagai media untuk memeras. Pada kesempatan itu, Kamil juga melakukan otokritik kepada kalangan pers. Bahwa pers jangan sampai menempatkan dirinya sebagai kelompok yang mesti dihargai. Insan pers dihargai karena kualitas karyanya yang bisa memberikan pencerahan kepada publik secara luas, bukan karena posisinya sebagai pekerja pers. (yar)
Sabtu, 08 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar