Fungsi Baliho, Pencitraan atau Penampakan? (2) ///sub
Jangan terpedaya dengan Ungkapan di Baliho
Pesan-pesan yang disampaikan dalam baliho caleg, terkesan hanya jargon belaka ketimbang program riil yang kelak bisa dilakukan setelah terpilih. Bahkan ada sebagian klaim-klaim itu yang justru berlawanan dengan perjalanan dan track record sang caleg. Masyarakat diminta tidak terjebak dengan jargon jargon itu. Nalar dan akal sehat tetap dibutuhkan untuk mencerna pesan-pesan tersebut.
Dengan demikian kita bisa membedakan sosok heroik dan paranoid.
LAPORAN: YARDIN HASAN
Ruang-ruang terbuka di kota Palu, yang sebelumnya banyak dijejali dengan iklan rokok, kini mulai tergantikan dengan baliho milik para calon legislatif (caleg) yang mencoba peruntungan pada pemilu legislatif, pada 9 April 2009 mendatang. Iklan rokok dengan penempatan yang relatif teratur, namun tetap saja menyulut protes dari berbagai kalangan. Sedangkan baliho caleg yang dipasang secara serampangan dan merusak nilai estetika kota, justru tidak mendapat suara minor sama sekali. Warga seolah merestui pandangan mereka ’’dirusak’’ oleh aneka baliho yang dipasang secara sporadis. Padahal pesan dalam iklan rokok kurang lebih sama berbahayanya dengan pesan yang disampaikan dalam baliho caleg. Masyarakat dijejali dengan pesan-pesan manis berisi ajakan yang belum tentu bisa lakukan jika kelak terpilih menjadi wakil rakyat.
Terkait dengan ini, Slamet Riyadi Cante dan Irwan Waris keduanya dari Universitas Tadulako telah mengingatkan agar masyarakat tidak terpedaya dengan pesan-pesan yang disampaikan dalam baliho milik caleg. Karena baliho sebagai salah satu media meraih popularitas instan sama sekali tidak bisa dijadikan referensi untuk menentukan pilihan terhadap wakil rakyat.
Menyimak pesan-pesan yang disampaikan dalam baliho atau spanduk serta kalender, masyarakat menurut Slamet memang perlu berhati-hati agar tidak terbuai atau terninabobokan dengan kata-kata manis yang terangkai indah dalam bingkai baliho. Misalnya ada yang menulis, tidak pernah berhenti berjuang dan memikirkan rakyat. Di baliho lain tertulis, akan berjuang untuk rakyat dan akan selalu menempatkan kepentingan rakyat dalam prioritas tertinggi. Di sejumlah baliho, salah satu caleg DPR RI mengklaim dirinya sebagai Ibu Poso. Ngewa Sowolino salah satu warga Poso yang dimintai pendapatnya tentang pencantuman Ibu Poso mengaku tidak mengerti dari mana munculnya kata-kata seperti itu. Yang pasti katanya, selama ini tidak ada komitmen dari warga Poso untuk mengangkat Ibu Poso. ’’Saya tidak tahu, kenapa tiba-tiba muncul ungkapan-ungkapan seperti itu,’’ katanya heran.
Tak jarang kata-kata yang terlihat bombastis itu, diungkapkan oleh politisi yang tidak jelas keberadaannya di masyarakat.
Geri Dj Wullur SE, caleg DPRD provinsi dari dapil Sulteng II (Donggala) mengungkapkan, ia berusaha menghindari penggunaan kalimat yang sekiranya mengundang sinisme publik. Justru kata dia, ungkapan ungkapan dalam spanduk miliknya dipilih sangat dengan hati-hati, terukur dan diupayakan tidak memuat kata-kata yang berlebihan. ’’Tapi memang ungkapan-ungkapan itu perlu. Itu namanya soundbite yang berfungsi sebagai pengingat. Misalnya SBY-JK menggunakan kata-kata Bersama Kita Bisa. Ini diingat terus oleh masyarakat. Asalkan jangan berlebihan,’’ kata Geri.
Murad U Nasir, caleg DPR RI dari dapil Sulteng mengemukakan, tidak ada yang salah dengan pencantuman berbagai ungkapan dalam baliho caleg. Soal apakah tema yang disampaikan sesuai dengan track record sang caleg biarlah rakyat sendiri yang menilai. ’’Yang tidak boleh jika pesan-pesan itu bermuatan sara’ atau menyerang kehormatan individu lain,’’ ujar Murad. Namun sejauh ini katanya, sejumlah tema yang ia sampaikan di balihonya berisi filosofi hidup yang tinggi. Misalnya, ungkapan untuk menjadi yang terhormat maka jagalah kehormatan. Ungkapan-ungkapan semacam ini katanya bisa memberikan inspirasi dan pendidikan yang baik bagi rakyat.
Sayangnya, ungkapan-ungkapan itu justru ada pula yang diungkapkan oleh para caleg oportunis. Caleg-caleg yang saban pemilu terus berganti partai, terlihat sangat aktif menjajakan dirinya melalui berbagai media. Kemudian ada juga mencoba mengekploitasi sentimen primordial untuk meraih simpati. Misalnya menggunakan atribut kesukuan untuk kepentingan politiknya. Menurut Slamet Riyadi Cante, caleg yang mencoba membangun basis politik dari kantong-kantong primordial adalah bentuk ketidakmampuan caleg tersebut membangun paradigma politik yang berbasis kebangsaan. Caleg-caleg itu terpaksa menempuh jalan pintas dengan mengeksploitasi isu-isu sektarian demi menjaga popularitas dirinya. ’’Politik identitas seperti ini memang paling murah dan gampang digarap, dan banyak yang berhasil. Emosi konstituten dapat dengan sangat mudah digarap. Namun mereka yang menggarap basis politik seperti ini sebenarnya selain tidak mendidik juga menjadi ancaman demokrasi. Mengeksploitasi fanatisme primordial adalah sikap yang berbahaya bagi bangsa ini,’’ kata Slamet mengingatkan.
Begitu banyaknya baliho berisi klaim dan jargon sebagai pahlawan rakyat. Namun di antara ribuan caleg-caleg itu terselip satu dua yang mungkin moralitasnya diragukan. Ada politisi kutu loncat atau caleg yang dalam menjalankan perannya di sektor lain banyak merugikan rakyat. Misalnya doyan melakukan pembalakan hutan atau catatan minus lainnya yang lolos dari rekam jejak masyarakat. Namun justru mereka inilah yang paling getol mengampanyekan diri sebagai figur yang layak dipilih. Olehnya menurut Irwan Waris rakyat perlu berhati-hati. Penampilan sang calon di baliho kadang menipu dan tidak seindah wajah aslinya. Akibatnya, masyarakat kesulitan membedakan antara sosok heroik dan paranoid. (habis)
Selasa, 04 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar