Rais Lamangkona
Pemerintah Berhasil Tingkatkan Pembangunan Infrastruktur
PALU – Pembangunan infrastruktur memegang peranan penting dalam peningkatan ekonomi warga. Menurut Kepala Bappeda Sulteng Drs Rais Lamangkona MT, mengungkapkan, selama pemerintahan HB Paliudju mencatat pembangunan infrastruktur yang signifikan. Pembangunan infrastruktur untuk meningkatkan aksesibilitas barang dan jumlah penumpang melalui darat, laut dan udara sampai 2008 mengalami peningkatan dengan berbagai upaya melalui pembangunan dan rehabilitasi sarana dan prasarana transportasi darat, laut dan udara. Pembangunan infrastruktur yang berhasil dibangun antara lain jalan dengan panjang total 11.027,73 Km, terdiri dari, jalan negara totalnya 1.805,96 Km. Dari panjang tersebut kondisi mantap sepanjang 1.147,65 Km dan tidak mantap 658,81 Km. Kemudian jalan propinsi panjangnya mencapai 2.037,06 Km . Kondisi mantap sepanjang 1.257,73 Km, dantidak mantap = 779,33 Km. Kemudian jalan kabupaten panjangnya 7.184,21 Km. Kondisi mantap sepanjang3.803,51 Km, sedangkan yang tidak mantap 3.380,70 Km. Terakhir jalan desa dan jalan usahatani panjangnya 5.242,43 Km.
Untuk pelabuhan laut terdapat 14 (empat belas) pelabuhan, yakni 2 (dua) pelabuhan yang diusahakan yaitu Pantoloan / Donggala dan ToliToli, 12 (dua belas) pelabuhan yang tidak diusahakan yaitu Luwuk, Poso, Ampana, Parigi, Kolonedale, Pagimana, Bunta, Leok, Wani, Moutong, Ogoamas.
Dari sisi transportasi laut, menurut Rais Lamangkona telah memiliki pelabuhan penumpang tetapi belum memadai untuk melakukan bongkar muat barang. Dari sisi tranportasi udara, memiliki bandara Mutiara yang layak didarati oleh pesawat Boing 737 seri 100, sehingga perlu penambahan landasan pacu serta sarana penunjang lainnya dan untuk beberapa Kabupaten baru didarati oleh pesawat perintis lainnya.
Masih menurut Rais, dalam rangka pembangunan, peningkatan dan rehabilitasi infrastruktur jalan tansportasi darat, udara telah mengalami peningkatan yang cukup signifikan selama kurun waktu 2006-2008.
Olehnya untuk mendukung peningkatan infrastruktur yang menjadi salah satu prioritas dalam Rencana Pembangunan Jangka Menengah Daerah (RKPD) 2006-2011, melalui beberapa program baik yang bersumber dari dana APBN maupun dari APBD Provinsi dan Kabupaten/Kota diharapkan mampu meningkatkan aksesibilitas baik orang, barang dan jasa, meningkatnya perekonomian masyarakat dengan terbukanya kantong-kantong produksi yang secara langsung dapat meningkatkan pendapatan masyarakat.
Hal ini katanya dapat dilihat dari meningkatnya kondisi jalan baik pada 2007 sepanjang 1.162,93 Km meningkat menjadi 1.263,25 Km Tahun 2008, serta menurunnya Kondisi jalan buruk Tahun 2008 543,21 Km dibanding Tahun 2007 sepanjang 643,53 Km.
Khusus angkutan darat yang meliputi angkutan orang, angkutan barang, pengendalian operasional angkutan sungai danau dan penyeberangan, saat ini dilakukan penataan secara bertahap yaitu khusus pengembangan sarana angkutan jalan melalui peningkatan fasilitas prasarana terminal, jaringan trayek maupun fasilitas keselamatan lalu lintas jalan (rambu lalu lintas, pagar pengaman jalan, dan peralatan penimbangan). Selain itu Pemerintah Daerah juga telah melakukan upaya Peningkatan Pelayanan Angkutan Penyeberangan di Sulawesi Tengah yaitu di Kabupaten Banggai yang menghubungkan Banggai Daratan dengan Banggai Kepulauan, yaitu lintas Luwuk – Salakan – Banggai yang menghubungkan Sulawesi Tengah dengan Sulawesi Utara, yaitu Lintas Pagimana – Gorontalo serta Lintas Taipa (Sulawesi Tengah – Balikpapan – Kalimantan Timur).
Bidang Perhubungan Laut, meliputi angkutan laut, kepelabuhanan, perkapalan, kepelautan serta penjagaan dan penyelamatan. Dalam kaitannya dengan hal tersebut pelayanan transportasi laut mencakup penyediaan fasilitas pelabuhan, keselamatan pelayaran dan pengembangan armada pelayaran nasional baik pelayaran nusantara, pelayaran rakyat, pelayaran perintis, pelayaran khusus dan pelayaran samudra. Untuk menunjang kelancaran pelayaran angkutan laut di Propinsi Sulawesi Tengah, terdapat 14 (empat belas) pelabuhan yakni 2 (dua) pelabuhan yang diusahakan yaitu Pantoloan / Donggala dan ToliToli, 12 (dua belas) pelabuhan yang tidak diusahakan yaitu Luwuk, Poso, Ampana, Parigi, Kolonedale, Pagimana, Bunta, Leok, Wani, Moutong, Ogoamas, dan Banggai serta 10 Satuan Kerja yang berfungsi sebagai pelabuhan pengawas dan pembinaan kegiatan kapal-kapal ukuran kecil dari dan ke lokasi tersebut. Disamping itu terdapat pula 24 lokasi dermaga khusus dan 20 lokasi pelabuhan khusus.
Pembangunan Pelabuhan Samudera Tangkiang dan berlokasi Kapet Batui, dimaksudkan untuk mendukung percepatan pembangunan ekonomi di bagian Timur Sulawesi yang meliputi Kabupaten Banggai, Banggai Kepulauan dan Morowali, yang diharapkan dapat melengkapi dan mendukung Pelabuhan Peti Kemas Bitung Manado dan Pelabuhan Peti Kemas Makassar serta Pantoloan.
Pembangunan pelabuhan pendaratan ikan di Kampal Kabupaten Parigi Moutong melayani kawasan laut Teluk Tomini, menjadi pusat pendaratan ikan dari semua hasil tangkapan ikan di Kawasan Teluk Tomini, baik yang akan diantar pulau, maupun ekspor ke luar negeri.
Bandara Udara Mutiara Palu merupakan pintu gerbang utama bagi arus pergerakan manusia, barang dan jasa dari dan ke Sulawesi Tengah melalui udara. Saat ini semakin menuntut peningkatan aktifitas pelayanan penerbangan. Untuk mengantisipasi kesiapan daerah dalam menghadapi perdagangan bebas dan era globalisasi, maka pemerintah daerah memprogramkan pengembangan Bandara Mutiara Palu agar dapat di darati pesawat yang berbadan besar, saat ini baru melayani pesawat jenis Boeing MD 80 / MD 82 / MD 83, Boeing 737-300 / 200, Fokker 28 / 100.
Selain itu terdapat pula Bandar Udara untuk penerbangan perintis seperti Bandar Udara Bubung di Kabupaten Banggai yang dapat didarati jenis pesawat Cassa 212, Fokker 100, 28, dan Fokker 27, Bandar Udara Lalos di Kabupaten ToliToli dan Bandar Udara Pogogul di Buol. (yar)
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar