Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Kamis, 06 Mei 2010

Kondisi Ekonomi Daerah 2008 dan Proyeksi 2009

Kamis, 06 Mei 2010
Kondisi Ekonomi Daerah 2008 dan Proyeksi 2009

Paliudju: Pertumbuhan Ekonomi yang Tinggi,
Belum Mampu Imbangi Penyerapan Naker///sub

PALU - Dibawah kepemimpinan pemerintahan saat ini, Provinsi Sulawesi Tengah berhasil mencatat pertumbuhan ekonomi yang signifikan. Setidaknya, ini bisa dilihat dari kinerja pada 2008 yang mencatat pertumbuhan positif sebesar 7,76 persen. Walau ini memang lebih sedikit lambat dibanding 2007 yang mencatat pertumbuhan hingga 7.99 persen. Gubernur HB P,aliudju saat memberikan keterangan pers kepada Radar Sulteng beberapa waktu lalu mengungkapkan, walau ada mengalami penurunan namun secara keseluruhan kinerja ekonomi Sulteng cukup baik. Ini ditunjukan dengan kemampuan Pemda menurunkan indeks kerepotan dan kesusahan ekonomi.
Indeks Kerepotan ekonomi ini ditunjukan oleh besarnya angka pengangguran yang dibarengi oleh angka inflasi yang tinggi sehingga mempengaruhi daya beli masyarakat menjadi rendah. Sedangkan
Indeks Kesusahan ekonomi adalah sebuah kondisi yang menunjukan tingkat prosentase masyarakat miskin, angka pengangguran dan inflasi yang cukup tinggi, sehingga menunjukan kondisi pekonomian masyarakat menjadi sangat sulit.
Menurut Paliudju, dalam dua tahun terakhir ini, pemerintah berhasil menggenjot produksi di sejumlah sector mengalami peningkatan. Misalnya, pertanian 4,61 persen, industri pengolahan 6,39 persen sedangkan dari sisi pengeluaran pembentukan modal total bruto (PMTB) tumbuh 9,47 persen jauh di atas pertumbuhan 2007 yang hanya 7,09 persen. Masih pada tahun 2008, transaksi perdagangan ke mancanegara ketika kondisi permintaan global melemah yang dipicu oleh krisis keuangan global, ekspor Sulawesi Tengah tetap tumbuh dalam level yang signifikan sebesar 10,13 persen.
Pada saat itu urai Paliudju perekonomian Sulawesi Tengah masing domnan karena didorong oleh konsumsi masyarakat yang tumbuh pada kisaran 5,52 persen, belanja pemerintah 7,50 persen. Sedangkan untuk memperkuat dan mempertahankan keberlanjutan ekonomi, pemerintah tambah Paliudju peranan industri manufaktur perlu terus diupayakan sehingga memberikan nilai tambah pada komoditas ekspor dan tidak hanya sebatas berupa barang primer seperti yang ada selama ini. Walau mencatat pertumbuhan ekonomi yang signifikan namun harus diakui belum mampu menyerap tenaga kerja atau menyerap lapangan kerja baru.
Namun masalah ini katanya seringkali diakibatkan karena ketersediaan lapangan kerja tidak sesuai dengan kualifikasi pendidikan dan keterampilan yang dibutuhkan.
Di Sulawesi Tengah, angka pengangguran terbuka mencapai 62.282 orang (5,45 persen) dari total angkatan kerja (Agustus 2008). Tetapi kondisi ini jauh lebih baik dari tahun 2007 dengan pengangguran terbuka sebesar 8,39 persen (99.219 orang ).


TANTANGAN DAN PROSPEK PEREKONOMIAN DAERAH TAHUN 2010 DAN 2011
Lebih jauh ia mengatakan, pelaksanaan pembangunan dan kepastian berusaha dipengaruhi oleh lingkungan internal dan eksternal. Olehnya, diharapkan tahun 2009 dan 2010 situasi politik dan keamanan kondusif guna menjamin kelancaran aktivitas usaha swasta.
Diharapkan pula keberhasilan pemilu memberi dampak perbaikan ekonomi, sehingga dapat menekan tingkat pengangguran terbuka tetap dibawah 6 persen
Pada 2009 hingga 2020, ia memprediksi kinerja ekonomi setidaknya akan dipengaruhi empat faktor dominan. Pertama sukses Pemilu 2009, lingkungan kehidupan masyarakat kondusif, kepercayaan masyarakat pulih terhadap proses perbaikan ekonomi yang sedang berlangsung, dan keempat membaiknya perekonomian global.
‘’Saya kira empat hal ini masih cukup dominan menentukan pertumbuhan ekonomi kita setidaknya dalam dua tahun kedepan ini,’’ ujarnya memprediksi.
Khusus kondisi global walau berpengaruh namun pengaruhnya tidak terlalu besarterhadap perekonomian Sulawesi Tengah, ini karena perdagangan luar negeri di dominasi bahan baku sektor primer yang menjadi input industri negara pengimpor. Import conten juga terbatas untuk beberapa bahan tertentu, misalnya pakan ternak.

Selain itu, ekspor Sulteng tetap konsisten, baik dilihat dari neraca perdagangannya yang selalu memiliki nilai surplus tiap tahun dengan penyumbang terbesar meliputi sub sektor perkebunan, kehutanan dan perikanan dan penyumbang terbesar devisa Sulteng. Tetapi komoditi ekspor masih dalam bentuk barang mentah sehingga nilai tambah dan multipliernya rendah dalam perekonomian daerah.
Olehnya menurut Paliudju, dibutuhkan kebijakan perdagangan luar negeri untuk meningkatkan nilai tambah dan volume eksport melalui, peningkatan daya saing, struktur eksport, dan perluasan negara tujuan (market share).
Kemudian sisi produksi 2008 pertanian tumbuh 4,46 persen, dua tahun mendatang diperkirakan pertumbuhan sektor ini akan terus membaik.
Sedangkan sektor industri pengolahan diperkirakan ikut mendorong perekonomian Sulteng dengan rata rata tumbuh 6,39 persen pertahun.

Menurutnya, ketahanan ekonomi yang tinggi di dukung oleh alokasi sumber daya pembangunan yang lebih baik, diharapkan akan meningkatkan efesiensi perekonomian, yang ditunjukan pada penurunan angka incremental capital output ratio (icor) diperkirakan menurun di bawah 4 pada 2008.
Selain itu, pertumbuhan ekonomi Sulteng 2009 juga akan didorong oleh keberhasilan semua sektor, seperti sektor pertanian tetap dominan dengan andil 42,3 persen, yang bertumpuh pada kekuatan ekonomi rakyat dan usaha mikro kecil dan menengah (small medium enterprice) dan tetap menjadi pendorong utama perekonomian Sulteng.
Ia menambahkan, percepatan pertumbuhan ekonomi Sulteng ke depan di samping pertanian dan pertambangan ( minyak mentah dan nikel) juga diharapkan berasal dari penguatan kemampuan sektor sekunder dan jasa. Hal ini urai Paliudju harus didukung oleh dana yang memadai, dukungan investasi swasta serta stabilitas politik hingga keamanan dan iklim investasi yang kondusif dan menjanjikan.
Sumber-sumber yang mampu mendorong ekonomi ke depan adalah sektor pertanian dengan perkembangan dan peranan yang cukup besar meliputi, padi, kakao, kelapa sawit, kelapa, cengkeh kopi, jambu mete, udang beku
Dan potensi ikan laut
Selain itu komoditi galian golongan c dan minyak mentah juga bisa mendorong pertumbuhan ekonomi.
Beberapa bahan tambang yang masih bersifat eksplorasi, seperti ladang minyak dan gas di batui (Tiaka dan Donggi Senoro), serta nikel di Morowali diharapkan akan menjadi sumber pertumbuhan baru dan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi Sulteng kedepan.
Perkembangan ekspor dominan komoditi pertanian dalam beberapa tahun terakhir terus menunjukan peningkatan. Meningkatnya volume perdagangan dan tingginya harga komoditas di pasar internasional menurut Paliudju diharapkan dapat di manfaatkan eksportir daerah untuk meningkatkan kegiatan usahanya.
Capaian ekonomi ril tahun 2008 menunjukan kondisi meningkat dan membuka peluang yang prospektif, dengan memperhatikan permintaan agregat ternyata lebih rendah dibandingkan permintaan potensial.
permintaan tersebut menurut Paliudju di dorong oleh permintaan komsumsi domestik yaitu komsumsi rumah tangga dan komsumsi pemerintah. Selain itu, meningkatnya konsumsi rumahtangga terkait dengan stabilnya tingkat harga umum (inflasi 10,4 persen) dan tingkat suku bunga cukup rendah.
Lebih jauh ia mengatakan, kegiatan ekonomi Sulawesi Tengah bertumpuh pada permintaan domestik.
Olehhnya untuk mencapai ini kuncinya adalah peranan masyarakat dan swasta harus terus di dorong terutama di bidang investasi.
untuk mencapai pertumbuhan ekonomi tahun 2009 dan tahun 2010 diatas 7 persen peranan investasi masyarakat sebagai rasio terhadap produk domestik regional bruto di upayakan terus meningkat. Pada 2008 mencapai 20,17 persen, tahun 2009 dan berikutnya diharapkan meningkat.
Dalam periode tersebut urainya sumbangan investasi masyarakat terhadap pertumbuhan ekonomi dapat meningkat menjadi 1,86 persen pada 2008. Sedangkan laju pertumbuhan konsumsi masyarakat diperkirakan meningkat hingga tahun 2010 dan sumbangannya terhadap pertumbuhan ekonomi sekitar 3,23 persen.
Masih menurut Paliudju, di bidang pengeluaran pengeluaran investasi mengalami pertumbuhan positif tetapi harus diakui pertumbuhannya masih rendah.
Ini terlihat pada 2008 investasi atau pembentukan modal tetap domestik bruto mencatat pertumbuhan 9,47 persen. Hal ini terkait dengan membaiknya program penyaluran kredit perbankan dengan bunga rendah.
Pengeluaran investasi pemerintah merupakan stimulus bagi bangkitnya ekonomi. Selain itu pengeluaran investasi pemerintah tidak lagi didominasi kebijakan jangka pendek untuk menanggulangi krisis, tetapi kebijakan ekonomi untuk membangun kinerja ekonomi daerah dengan strategi yang jelas untuk kurun waktu tertentu ke depan.
Ini diharapkan realisasi penanaman modal asing (PMA) dan dan daerah (PMDN) terus mengalami peningkatan berkaitan dengan makin baiknya perekonomian nasional dan regional serta kondusifnya makro ekonomi Sulteng.
Dengan demikian peningkatan kegiatan ekonomi Sulteng dari sisi permintaan tetap didorong oleh peningkatan permintaan domestik dan permintaan ekpor.
Masih terkait dengan ekspor. Ekspor Sulteng akan meningkat, walau permintaan internasional melemah. Namun karena dibutuhkan sebagai bahan baku industri negara maju dan daya saing produk ekspornya masih lebih baik.
Sejalan dengan meningkatnya kegiatan ekonomi dan pendapatan masyarakat permintaan impor kemungkinan akan melemah, dengan demikian surplus perdagangan diperkirakan akan meningkat.
Dikatakannya, dengan membaiknya kinerja ekspor maka sumbangan eksport netto terhadap pertumbuhan ekonomi diperkirakan meningkat tahun 2009 dan 2010.

TANTANGAN DAN KENDALA KEDEPAN
Selain peluang prospektif kedepan, Paliudju juga merilis sejumlah tantangan dan kendala yang mungkin muncul. misalnya melemahnya permintaan kossumsi dan melemahnya investasi swasta. Hal ini harus dapat memperbaiki sisi produksi. Dalam jangka pendek potensi gejolak inflasi diperkirakan berfluktuasi dan cukup besar.
Meningkatnya ketahanan ekonomi akan terjadi perubahan sentimen konsumen dari pesimistis menuju optimistis. Menurut Paliudju ini ditunjukan semakin meningkatnya kepercayaan konsumen yang didorong oleh peningkatan ekspektasi dan membaiknya situasi ekonomi dan kepercayaan dunia usaha.
Dan bertambahnya keyakinan masyarakat tersebut diharap menimbulkan dampak positif terhadap kelangsung perekonomian secara keseluruhan.
Meningkatnya kepercayaan masyarakat dapat dilihat dari dari minat investasi.
Terumatan dari rencana investasi PMDN, yang meliputi, perikanan (tambak udang dan penangkapan ikan laut, industri papan textalite, industri pengolahan coklat dan jasa akomodasi (cottage dan wisata tirta) selain PMDN juga ada rencana investasi PMA yang meliputi, industri fish procesing unit, industri komponen bahan bangunan dan pengolahan kayu dan perdagangan eksport biji coklat serta industri pengolahan kayu maupun industri keramik. (yar)

0 komentar:

Posting Komentar