Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Rabu, 05 Mei 2010

Rabu, 05 Mei 2010
Parpol Pendatang Baru Lebih Pede

PALU – Koreksi Mahkamah Konstitusi terhadap UU Pemilu terkait penentuan caleg yang lolos ke parlemen dari Sistem nomor urut ke suara terbanyak, membuat sejumlah parpol khususnya parpol pendatang baru lebih pede (percaya diri). Bahkan mereka juga lebih percaya diri lagi jika berhadapan dengan partai-partai besar yang pada setiap Pemilu selalu mendominasi perolahan suara. Sebut misalnya, Partai Golkar, PDIP atau PPP.
Seperti yang dikemukakan oleh Ketua PPRN Sulteng, Irwan Alamsyah, pemilu kali ini memberikan peluang yang sama kepada semua caleg untuk lolos ke parlemen. Persoalannya adalah nilai jual sang caleg. Seperti halnya Partai PPRN walaupun masih tergolong pendatang baru, namun partai yang dipimpinnya optimistis bisa bersaing dengan parpol-parpol lama yang sudah berkali-kali memenangkan pemilu. Ini karena kata Irwan, masyarakat pemilih tidak lagi memilih partai tetapi lebih pada track redord figure yang dicalonkan. ‘’Itu berarti figure lebih memegang peran penting daripada partai pengusung,’’ kata Irwan. Terlebih katanya, caleg-caleg yang ditampilkan PPRN didominasi oleh tokoh masyarakat serta figure yang belum mempunyai cacat politik di mata publik. Ini tentunya imbuh Irwan memberikan keuntungan politik buat partai dan caleg PPRN.
Namun demikian bukan partai-partai lama tetap diuntungkan dibandingkan partai baru. Pertama, partai-partai itu relatif telah dikenal luas oleh masyarakat. Demikian pula dengan caleg-calegnya. Kedua, katanya, parpol-parpol lama sudah mempunyai investasi sosial karena mungkin mereka sudah berbuat lebih ketimbang partai pendatang baru. Tak Irwan Alamsyah yang optimistis dengan peluang partai pendatang baru. Walaupun tidak menyebut target politik, namun caleg PPPI mampu bersaing dengan tokoh-tokoh yang ditampilkan partai-partai lama. ‘’Sistem sekarang membuat persaingan lebih terbuka. Masyarakat yang sudah paham, tidak lagi melihat parpol tetapi lebih fokus pada figure. Dengan demikian parpol tidak lagi memegang peranan penting tapi track record,’’ ulas Ahrul.
Pada prinsipnya persaingan terbuka ini tidak perlu dikhawatirkan akan menggerus perolehan suara partai-partai lama. Pasalnya, semua parpol mempunyai tokoh mumpuni untuk menjadi pengumpul suara. (yar)

0 komentar:

Posting Komentar