Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Sabtu, 08 Mei 2010

Mewah Tapi Kurang Greget

Sabtu, 08 Mei 2010
Peringatan HUT Proklamasi
Berlangsung Lancar

PALU – Tidak seperti tahun-tahun sebelumnya, peringatan detik-detik Proklamasi kemerdekaan RI selalu dilaksanakan di halaman depan kantor Gubernur Sulteng. Tahun ini even tahunan itu digelar di halaman belakang kantor gubernur, bersebelahan dengan gedung pertemuan Pogombo. Oleh Gubernur HB Paliudju lapangan upacara tersebut diberi nama lapangan Pogombo kantor gubernur. Pemberian nama tersebut sekaligus menghindari penyebutan halaman belakang yang selalu diasosiasikan dengan hal-hal yang kurang pantas. Lapangan upacara yang pembangunannya menelan anggaran hampir Rp1 miliar itu, memang terlihat ekslusif. Tempat upacara menggunakan paving dan tribun kehormatan dilapisi ubin dengan kualitas terbaik serta dikelilingi dengan pembatas stainles yang mengkilap.
Taman buatan yang didominasi hijau semakin melengkapi kesempurnaan lapangan upacara yang dapat menampung 1000 lebih peserta itu. Namun suasana ekslusif itu dianggap kurang memberikan suasana nyaman tidak saja bagi undangan yang duduk di VIP B tetapi juga para pejabat yang duduk di bagian VIP A. Di deretan ini duduk gubernur dan Muspida, ketua dan anggota DPRD Sulteng, para veteran pejuang dan caleg terpilih yang bakal dilantik pada 26 September mendatang.
Dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya upacara peringatan HUT Proklamasi di lapangan yang menguras dana APBD hampir Rp1 miliar tersebut terasa kurang greget dan tidak khidmat. Setidaknya itulah yang dialami oleh beberapa undangan di VIP A, yang memilih pergi ke ruang basement karena merasa kurang nyaman dengan suasana baru itu. ‘’Sepertinya tidak ada lagi nilai sakral yang dirasakan. Kayak acara arisan ibu PKK atau acara sunatan massal saja,’’ celoteh salah satu petugas di kantor gubernur yang terlihat rapi dengan setelah jas hitamnya. Radar Sulteng sempat merekam kegelisahan para undangan. Selain udara yang panas, undangan yang duduk di kursi belakang juga terlihat tidak nyaman dan terpaksa berdiri untuk menyaksikan proses upacara yang sedang berlangsung. Suasana khidmat juga tidak terasa, tergantikan dengan celotehan para peserta upacara yang memilih berbicara dengan teman-temannya daripada menyaksikan proses upacara. Suasana menjadi sedikit ramai dengan suara gemuruh orang-orang yang ada di belakang panggung VIP A maupun VIP B. Bahkan petugas protokol upacara terlihat harus berjinjit karena pandangannya terhalang oleh orang yang ada di depannya.
Belum lagi terjadi insinden kecil yang dilakukan oleh anggota Paskibraka, saat aba-aba berhenti tidak secara serempak, semakin melengkapi kekurangsempurnaan peringatan HUT Proklamasi tahun ini.
Ini berbeda dengan pelaksanaan upacara pada tahun-tahun sebelumnya. Pada detik-detik peringatan HUT Kemerdekaan, suasana sakral sangat terasa. Tidak ada suara yang keluar, kecuali suara aba-aba dari komandan upacara atau inspektur upacara. Selain itu, undangan juga tidak perlu berebut kedepan karena posisi tribun kehormatan yang lebih tinggi sehingga sudut pandang yang cukup luas itu membuat undangan merasa nyaman menyaksikan tahap demi tahap pelaksanaan upacara.
Pada upacara kemarin, hadir pula Sekdaprov H Gumyadi yang dinonaktifkan oleh Paliudju beberapa bulan lalu. Ia duduk di VIP A di deretan Muspida Sulteng dan hanya diantarai beberapa kursi dari HB Paliudju. Penampilan Gumyadi itu, merupakan penampilan perdana di depan publik sejak dilengserkan dari jabatan Sekdaprov Sulteng.


LUNCURKAN PERANGKO SULTENG
Masih dalam rangkaian peringatan HUT ke 64 Proklamasi Kemerdekaan RI, PT Pos Indonesia bekerjasama dengan pemerintah provinsi meluncurkan perangko lambang Sulawesi Tengah. Peluncuran perangko tersebut bersamaan dengan 11 provinsi lainnya di Indonesia. Untuk Sulawesi Tengah peluncuran perangko tersebut dilakukan di belakang kantor Gubernur seusai peringatan HUT Kemerdekaan RI. Menurut Gubernur Paliudju, peluncuran perangko lambang provinsi tersebut sebagai babak baru untuk membawa daerah ini lebih dikenal lagi dalam percaturan nasional. Kelak kata dia, dengan layanan PT Pos Indonesia yang menggunakan perangko lambang daerah, secara perlahan akan memupus stigma negatif bahwa Sulawesi Tengah sarang konflik yang harus dijauhi oleh siapapun juga. Lambang provinsi Sulawesi Tengah yang berlatar Souraja dan sarung tenun Donggala, menurut Paliudju mencitrakan bahwa daerah ini mempunyai nilai budaya yang tinggi. Selain peluncuran perangko lambang Provinsi Sulteng, peringatan HUT ke 64 Proklamasi RI juga dirangkaikan dengan penyematan Satya Lencana Karya Satya dan penyerahan piagam penghargaan secara simbolis kepada PNS di lingkungan Pemprov Sulteng dan penganugerahan tanda penghargaan lainnya. (yar)

0 komentar:

Posting Komentar