Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Kamis, 06 Mei 2010

Menikmati Keagungan Tuhan Melalui Imajinasi Suiseki

Kamis, 06 Mei 2010
f-yar
BARTHO’s COLLECTION – Bartolomeus Thandigala CES di depan Bartho’s di lokasi pameran Lapangan Vatulemo Palu

Menikmati Keagungan Tuhan Melalui Imajinasi Suiseki

PALU - Bagi sebagian balangan, batu suiseki adalah batu alam yang tak ubahnya seperti batu-batu biasa. Namun bagi sebagian kalangan lainnya, suiseki adalah wahana yang tidak saja sekadar menyalurkan hobi, tetapi juga media untuk meresapi kekuasaan Tuhan melalui mahakarya agung sang pencipta.
‘’Suiseki termasuk salah satu hasil karya alam yang indah dan penuh misteri,’’ ujar salah satu pencinta suiseki di Kota Palu, Bartholomeus Tandigala CES di sela-sela pameran yang berlangsung di Lapangan Vatulemo- Palu Sabtu (7/3).
Di pameran yang berlangsung tiga hari itu, Bartho berusaha menjelaskan keberadaan batu suiseki mulai dari jenisnya, keunikannya dan usia hingga asal-usul batu suiseki tersebut.
Ia menjelaskan suiseki termasuk salah satu hasil karya alam yang indah dan penuh misteri. Terbentuk secara alami dari proses panjang lewat kekuatan alam selama ribuan bahkan jutaan tahun. ‘’Waktu mengamatinya para pehobi suiseki punya beragam imajinasi. Itu sebabnya hobi unik ini disebut sebagai seni imajinasi,’’ jelas Bartho kepada pengunjung yang memadati stand Bartho,s Suiseki Collection.
Masih menurut Bartho, bagi mereka penikmat suiseki akan merasakan bahwa di balik kekerasan, bentuk dan kekuatannya terdapat kelembutan alami yang sangat memukau yang mampu menggetarkan sukma.
Namun demikian suiseki katanya tidak ada kaitannya dengan ideologi atau aliran kepercayaan tertentu. Filosofi tersebut menurutnya karena manusia mau mengenal lebih jauh tentang alam dan isinya. Suiseki sebagai salah satu mahakarya agung sang pencipta, yang tersebar di permukaan bumi, adalah wujud nyata besarnya keagungan Tuhan. Olehnya, manusia yang dikaruniai kelebihan di banding mahluk lainnya diberikan amanat untuk menjaga dan melestarikannya.
Kepada pengunjung, ia pun berbagi tip bagaimana cara menikmati pesona suiseki. ‘’Mengamati suiseki bisa dengan cara menyemprotkan air ke batu. Tiap batu punya karakteristik tersendiri. Ada yang sepuluh menit kering, ada pula yang kering setelah 30 menit bahkah lebih. Itu semua menunjukan jenis suiseki,’’ kata Bartho detail.
Secara perlahan dan pasti katanya, dari sinilah akan terlihat imajinasi suiseki berjalan. Pada keadaaan setengah basah, batu bisa memberikan asumsi tentang alam. Pesonanya akan terlihat seiring dengan proses menguapnya air dari permukaan batu.
Puncak kebahagiaan dalam menatap pemandangan itu umumnya tutur Bartho, dirasakan pada saat batu perlahan-lahan mengering. Berubah sedikit demi sedikit dari gelap menjadi terang. Ini persis dengan terbitnya mentari pagi yang membawa pesan kuat kepada mahluk dan seisinya.
‘’Mungkin terkesan berlebihan. Tapi bagi saya, pada saat proses itu berjalan, nyaris tidak ada syair pujangga yang mampu mendeskripsikan dengan syairnya soal keindangan pemandangan yang berlangsung dengan tenang, indah dan syahdu itu,’’ paparnya.
Masih menurut Bartho, makna filosofis yang terkandung, adalah adanya kesabaran menanti datangnya momen tersebut sebagai suatu intrik kedispilinan yang terbentuk dalam mengagumi suiseki.
‘’Pada saat ini kolektor suiseki akan terbawa dalam ketenangan yang sempurna. Jika sudah demikian nilainya tidak bisa diganjar dengan uang. Kepuasan batin adalah jawaban segalanya,’’ katanya.
Para kolektor suiseki klaim Bartho, umumnya orangnya rendah hati, pencinta kedamaian dan alam. Paling tidak dia sadar bahwa segala sesuatunya harus ditempuh dengan pengorbanan. Karakter ini menurutnya setidaknya terlihat dari proses batu suiseki itu sendiri - mulai dari awal kejadiannya hingga sampai ke lemari display para penikmati suiseki di seluruh dunia. ‘’Penderitaan’’ panjang sebuah batu terjadi ribuan hingga jutaan tahun. Selama itu, batu dibentuk secara alami lewat kikisan air sungai, derasnya air hujan, ganasnya gelombang laut dan dahsyatnya kekuatan alam. ‘’Proses panjang inilah inilah yang ikut membangunkan alam bawa sadar para penikmati suiseki sehingga lebih sabar dan kokoh dalam menghadapi kerasnya kehidupan,’’ ulasnya.
Selain itu, batu ini mempunyai nilai ekonomis tinggi. Bartho mengaku ia mempunyai suiseki termasuk salah satu koleksi favoritnya ditawar oleh pengusaha asal Korea Selatan sebesar Rp500 juta. Namun tawaran itu ditampiknya.
Lantas berapa nilai investasi yang sudah melayang untuk mengumpul batu-batu sungai itu? Tidak jawaban dari sang kolektor yang sudah mengoleksi suiseki sejak 20 tahun lalu. Namun salah satu rekan Bartho menyebut, sekitar Rp2 miliar telah melayang demi memenuhi hobi ini. Sejumlah pengunjung tampak antusias namun ada pula yang mengaku tidak bisa mendapati dimana letak keindahan batu suiseki ini. Salah satunya adalah H Sidik Ibrahim. Dirinya yang berprofesi sebagai kontraktor mengaku tidak bisa mendapatkan dimana letaknya keindahan suiseki. Apalagi untuk menikmatinya butuh waktu dan konsentrasi tinggi. ‘’Jangan-jangan saat kita sibuk berkonsentrasi untuk suiseki, realisasi pekerjaan kita masih rendah, terakhir kita diputus kontrak gara-gara suiseki,’’ ujar Sidik serius.
Kepada Radar Sulteng Bartho mengaku, walaupun sudah mempunyai koleksi ratusan batu, namun perburuan suiseki akan terus berjalan sampai ia tak kuat atau tak punya uang lagi untuk membeli suiseki kegemarannya. (yar)

0 komentar:

Posting Komentar