f-yardin
TETAP BERKANTOR – Walau volume kerja turun drastis, namun aktivitas kerja para pegawai tidak surut. Mereka bekerja seperti sediakala sembari menunggu Sekprov baru
Melihat Suasana Kerja Staf Sekprov Sepeninggal Gumyadi
Gumyadi Kemasi Barang Pribadi, Staf Tetap Berkantor
Sejak Gubernur HB Paliudju mengambil kebijakan memensiunkan Sekprov Sulteng H Gumyadi, praktis suasana kerja di lantai tiga kantor Gubernur Sulteng itu turun drastis. Kini sekitar 10 staf bagian Sekprov tidak lagi disibukan melayani para tamu dengan berbagai kepentingan termasuk menerima proposal dari masyarakat luas yang jumlahnya ratusan.
LAPORAN: YARDIN HASAN
Ruangan terasa sunyi senyap. Tidak ada lagi tumpukan map yang biasanya terlihat di meja kerja Sekpri Sekprov. Demikian pula telepon yang biasanya tidak pernah berhenti berdering tiba-tiba ‘’mati’’. Untuk diketahui line telepon di bagian Sekprov adalah yang paling sibuk dibandingkan line telepon di bagian Sekpri Gubernur ataupun apalagi ruang Wagub. Wartawan yang ngepos di kantor Gubernur terbiasa menyaksikan Sekpri Sekprov Gumyadi – Drs Arpan M.Si kewalahan menerima telepon. Dalam hal-hal tertentu, Arpan bahkan harus menerima tiga deringan telepon sekaligus. Selain itu satu set sofa di bagian ruang tamu juga tak pernah sepi. Bahkan tak jarang, tamu harus berdiri di luar karena tidak kebagian tempat duduk. Untuk membunuh waktu para tamu membaca sejumlah koran yang disediakan oleh staf Sekprov. Kini keadaan berbalik 180 derajat.
Aktivitas padat yang sudah akrab sejak lima tahun terakhir ini tiba-tiba hilang. Meja-meja tampak teratur rapi. Tidak ada lagi tumpukan map, tidak ada lagi deringan telepon atau para tamu. Semua tampak teratur rapi – sesuatu yang tak lazim terlihat di salah satu bagian kantor Gubernur yang dikenal paling sibuk itu. Tidak ada lagi tamu yang mencari Ibu Sofiah Sandagang atau salah stafnya yang bernama Ulfah. Dua pegawai ini adalah pegawai ‘’favorit” yang menjadi buruan para tamu Sekprov. Maklum Sofiah Sandagang adalah bendahara sedangkan Ulfa adalah staf di bagian pembayaran.
Radar Sulteng yang dalam beberapa hari terakhir ini menyempatkan diri menyambangi ruangan yang terletak di lantai tiga itu menangkap kesan sunyi. Tidak ada lagi kepulan asap rokok memenuhi ruangan tamu. Suasana sentimentil sangat terasa, mengisyaratkan ada sesuatu yang hilang dari tradisi yang ada selama ini. Pelan-pelan terdengar alunan lagu Nuansa Bening tembang lawas yang dibawakan kembali oleh Vidi Valdano keluar dari sebuah speaker mungil memenuhi ruangan, semakin melengkapi suasana sentimentil ruangan yang tak seberapa luas itu. Di sudut ruangan, tampak televisi menyiarkan suasana politik Indonesia. Tapi tidak ada lagi orang duduk menyimak siarannya.
Menurut Ulfa yang masih setia di depan monitor komputer layar datar kesayangannya, kesibukannya mereka memang turun tajam, tapi bukan berarti tidak ada pekerjaan. Ia tampak sesekali ia meng-klik komputer yang didalamnya menyimpan data identitas para penerima bantuan yang dikeluarkan dari Sekprov Sulteng. Di ruangan berukuran 3 x 4 meter itu, ditempati oleh lima staf yang semuanya perempuan. Kemana yang lainnya? tanya Radar Sulteng. ‘’Wati dan Desi ada di bawah. Mereka ada di bagian Desk Pilkada. Sekda kan juga membawahi Desk,’’ ujar Ulfah lancar. Jam kerja staf di bagian Sekprov katanya tetap seperti biasa, tidak ada yang berubah. ‘’Pagi kita apel siangnya juga apel. Tidak ada yang bolos hanya karena pekerjaan kurang atau bos sedang tidak ada,’’ ujar rekannya Ani menambahkan.
Ditanya soal kasus Gumyadi yang lengser tanpa Keppres pemberhentian dari Presiden RI, Ulfah mengaku tidak terlalu paham seluk beluk kasus itu. Selaku staf katanya dirinya terbiasa untuk mengerjakan pekerjaan-pekerjaan teknis dan tidak terlalu menghiraukan adanya permasalahan di level atas. Ditanya soal kesannya terhadap sosok Gumyadi, Ulfah menjawabnya diplomatis. ‘’Saya di sini sudah pengalaman dengan beberapa Sekda. Dan kesan saya, mereka baik-baik semua tidak ada yang perlu keluhkan. Soal style kepemimpinan pastinya berbeda tapi pada prinsipnya mereka baik-baik koq. Tergantung kitanya menempatkan diri,’’ cerocos Ulfah. Ulfah dan Ani mengaku, hanya mengikuti kasus Gumyadi melalui media massa.
Demikian pula di bagian Desk Pilkada, para pegawai hadir dalam formasi lengkap. Desi dan Wati, dua perempuan ceria tampak kompak bekerja. Kepada Radar Sulteng mengaku, sampai saat ini mereka belum tahu siapa pejabat yang diplot untuk Sekprov yang baru. ‘’Kita ini kan staf, jadi tidak tahu soal pergantian seperti itu. Itu bukan urusan kita-kita ini,’’ jawabnya kompak.
Demikian pula apakah Gumyadi sudah pamitan kepada staf-stafnya. Selama ini katanya mereka belum bertemu dengan Gumyadi. Termasuk ketika Gumyadi mengambil semua perlengkapan pribadi berupa foto dan sejumlah perlengkapan lainnya, mereka tidak bertemu. ‘’Waktu itu beliau hanya ketemu Pak Asisten I, tapi tidak kesini dengan kita-kita,’’ ungkap Ulfah. Radar Sulteng yang melongok kedalam ruangan Sekprov, melihat tidak ada lagi foto-foto pribadi yang dipajang di lemari bagian belakang. Toples yang selalu terisi dengan kue kering juga tampak tidak terlihat. Meja kerja yang biasanya ditumpuki dengan map terlihat rata mengilap. Perlengkapan salat milik Gumyadi juga tidak terlihat lagi. Bahkan kamera CCTV juga sudah dimatikan.***
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar