POSE BERSAMA - Anak-anak Uventumbu sesaat setelah mengikuti pelajaran Paket B. Pose bersama sebelum pulang ke rumah
Melihat Keseharian Anak-Anak di Dusun Uventumbu – Kawatuna
Ingin ke Sekolah Negeri, Tapi Orang Tua Tak Mampu Bayar Ojek
Semangat Hari Pendidikan Nasional (Hardiknas) yang diperingati 2 Mei 2009 kemarin, mestinya tidak sekadar sebuah rutinitas seremonial belaka yang euphoria-nya kadang hanya milik segelintir pejabat dan anak orang gedongan di kota. Jauh di pelosok sana, di dusun di ngarai dan di lembah pedalaman, ratusan atau bahkan ribuan anak usia sekolah yang membutuhkan perhatian dari pemerintah, saying mereka tak mendapat perhatian memadai dari para pengemban amanah. Peringatan Hardiknas tidak sekadar orasi di mimbar kehormatan atau pidato berisi janji terhadap komitmen penyelenggaraan pendidikan gratis yang kadangkala tak lebih dari sekadar komoditas politik untuk menaikan rating popularitas menjelang hajatan Pemilu.
Tak perlu jauh-jauh, di Dusun Uventumbu di wilayah Kelurahan Kawatuna, sekitar 10 kilometer dari jantung kota Palu, puluhan atau mungkin seratusan anak usia sekolah karena ‘’dipaksa’’ oleh kondisi sehingga tidak mampu mengakses pendidikan halnya teman-temannya di kota.
Radar Sulteng mencoba merekam kata hati mereka dalam sebuah perbincangan hangat di sebuah bangunan permanen di punggung bukit Uventumbu. ‘’Sebenarnya kami ingin sekolah di bawah sana (SD Negeri, red) tapi papa tidak mampu. Tidak bisa bayar ojek,’’ cerocos Nefian sesaat setelah Radar Sulteng menanyakan pilihan mereka sekolah di paket B dan sekolah negeri.
Ia terlihat percaya diri menyampaikan pendapatnya. Berbeda dengan teman-temannya yang tampak pemalu, gadis 16 tahun ini tampak berani mengeluarkan pendapatnya dengan sangat argumentatif. Sayang, kecerdasan Nefian itu tidak bisa ia diekplor lebih jauh karena ia sendiri tidak tahu setelah ujian nasional (UN) akan kemana. Jika Nefian lulus dari Paket B akan meneruskan kemana? Pertanyaan Radar Sulteng itu direspons dengan tundukan sejenak lalu kemudian menggeleng, pertanda ia sendiri tidak tahu akan kemana setelah ini. Tak hanya Nevian yang tidak tahu kelanjutan pendidikannya setelah ini. Maturin (17) satu-satunya pria di antara enam temannya juga mengatakan serupa. Maturin hanya menggeleng, ketika disodori pertanyaan serupa. Yang juga mengharukan adalah pengakuan polos Nurfiana (16). Seandainya boleh memilih Anda akan sekolah kemana, jika kelak orang tua memberikan kesempatan sekolah lagi. ‘’Saya inginnya ke SMA. Bisa SMA apa saja asalkan sekolah. Tapi untuk saat ini saya belum tahu,’’ kata gadis bungsu dari enam bersaudara ini.
Mayoritas jawaban yang diperoleh, mereka tetap ada keinginan sekolah namun kendala yang dihadapi, tak semudah dengan keinginannya untuk melanjutkan pendidikannya ke jenjang lebih tinggi. Seminggu mereka diberi kesempatan tiga kali untuk mengikuti pelajaran di Paket B yang jaraknya dari pemukiman antara 3-4 kilometer. Setiap pertemuan mereka menghabiskan dua jam untuk belajar. ‘’Diupayakan keluar sebelum setengah lima, jika kelamaan mereka bisa gelap di jalan,’’ ujar Abi Azid pengelola sekaligus tutor Paket B di Uventumbu.
Di luar waktu belajar, para peserta belajar paket B yang rata-rata berumur 15 - 19 tahun ini mengaku menjadi tulang punggung ekonomi keluarga. Membantu orang tua di kebun. Tidak saja laki-laki, perempuan juga pada saat-saat tertentu ikut berjibaku dengan ganasnya bukit tandus di Uventumbu mengolah kebun keluarga. Hanya Nurfiana yang mengaku tidak ikut membantu orang tua untuk aktivitas di luar rumah. ‘’Saya kan paling kecil, jadi saya di rumah bantu-bantu mama kerja di rumah,’’ ujar dara manis ini tersenyum ramah. Pengakuan Misnawati juga membuat kita miris. Dara berusia 18 tahun adalah anak ke-7 dari 9 bersaudara. Di antara adik dan kakak-kakaknya hanya ia yang mengenyam pendidikan non formal (paket B, red). Lainnya bekerja untuk menopang ekonomi keluarga. Tentang kehadirannya di paket B, Misna demikian ia biasa disapa selain karena keinginan dari diri sendiri juga ada dorongan dari kedua orang tuanya. Apakah adik-adiknya juga ikut Paket B? Mirna terdiam. Itupula yang membuat ia tidak bisa berkata-kata ketika ditanya akan kemana setelah lulus dari paket B.
Bagi Mirna dan kawan-kawan peringatan Hardiknas tentunya akan lebih bermakna jika momentum itu menjadi komitmen dari penyelenggara negeri ini untuk sedikit memberikan perhatian pada nasib pendidikan mereka. Sebuah pesan yang dikirimkan dari balik bebukitan Uventumbu untuk para penyelenggara negeri ini. (yardin hasan)
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar