Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Kamis, 06 Mei 2010

Firman Pimpin Waria Sulteng

Kamis, 06 Mei 2010
f-yardin
DIRIKAN ORGANISASI – Ratusan waria yang mengikuti jalannya Muswil perdana Waria untuk memilih kepengurusan waria periode 2009-2011.

Firman Pimpin Waria Sulteng

Tepis Anggapan
Sebagai Warga Kelas Dua
PALU – Satu lagi wadah organisasi terbentuk. Namanya Ikatan Waria Sulawesi Tengah (IWST) yang dalam musyawarah wilayah (Muswil) pertamanya berhasil memilih Firman sebagai ketuanya. Dalam pemilihan dengan system voting tertutup itu, Firman menyisihkan dua saingan terkuatnya dengan perolehan 37 suara. Rekannya, Fegi yang memperoleh 27 suara dan Upik mendapat 19 suara. Oleh Firman dua saingannya itu diplot masing-masing menjadi wakil ketua dan bendahara. Menurut sang penggagas IWST, Nirwan, saat ini perlu ada sebuah organisasi sebagai wadah berhimpun para waria di Sulawesi Tengah. Setidaknya kata Nirwan dengan adanya organisasi tersebut maka potensi yang ada dalam diri setiap waria bisa disalurkan untuk berkontribusi tidak saja kepada dirinya melainkan kepada masyarakat sekitarnya bahkan bangsa dan negara ini. Menurut Nirwan dengan organisasi yang kelak melahirkan kreatifitas kalangan waria sebagai ajang untuk menunjukan eksistensi kalangan transgender di Sulteng yang dalam realitasnya masih dipandang sebagai warga kelas dua. ‘’Realitas sosial memang belum sepenuhnya bisa menerima kalangan transgender sebagai salah satu bagian dalam komunitas sosial masyarakat,’’ keluh Nirwan. Banyak stigma negatif yang dilekatkan oleh kalangan masyarakat umum kepada kelompoknya, padahal kompetensi seseorang tidak bisa diukur hanya karena apakah dia waria atau bukan.
Tapi satu fakta sosial yang tidak bisa dibantah ulas Nirwan adalah bahwa keberadaan para waria yang terus mengasah kreativitasnya sehingga ia tidak hanya menjadi ‘’sampah’’ sosial yang menjadi beban keluarga dan pemerintah. Melalui skill yang dimilikinya, katanya, para waria mampu membuka lapangan pekerjaan baik itu melalui usaha konveksi maupun salon kecantikan. ‘’Ini adalah fakta yang tidak bisa dibantah, bahwa waria ikut membantu pemerintah karena mampu membuka lapangan pekerjaan. Jadi dari aspek ini kita jangan menilai orang dari pandangan sempit, mengukur orang harus dari kompetensinya,’’ tandasnya.
Sebagai penggagas berdirinya waria Sulteng, maka yang pertama dilakukan oleh organisasi ini adalah penguatan struktur kelembagaan. Membentuk kepengurusan di kabupaten/kota sehingga hirarki kepengurusan bisa berjenjang mulai dari daerah hingga provinsi. Secara nasional katanya belum ada organisasi yang menaungi para waria. Di Indonesia organisasi serupa baru ada di Sulsel. Di daerah tetangga katanya struktur organisasinya sudah sangat kuat hingga ke daerah. Menyusul di Sulteng yang baru terbentuk. Diharapkan dengan adanya dua organisasi ini menjadi embrio untuk lahirnya organisasi waria tingkat nasional.
Firman dalam sambutan singkatnya sesaat setelah terpilih di aula SMK 1 Jalan RA Kartini – Palu Selatan Minggu (17/5) lalu, mengatakan pihaknya akan mencoba menjawab kepercayaan teman-temannya sebagai Ketua Waria Sulteng untuk periode 2009-2011. Saat ini yang dilakukan adalah melakukan pendataan waria se Sulteng. Saat ini belum ada data yang akurat berapa sebenarnya jumlah waria di daerah ini. ‘’Pendataan ini akan mengetahui potensi kekuatan waria yang di daerah ini. Sejaligus memudahkan koordinasi dengan rekan-rekan di daerah,’’ ujar peraih juara I kontes waria beberapa tahun silam ini. Saat ini yang baru terdata adalah waria yang ada di kota Palu dan sekitarnya sekitar 250 orang.
Muswil waria perdana yang dipimpin oleh Rian Suparlan dihadiri oleh sejumlah tokoh perempuan maupun tokoh kampus. Mereka di antaranya Hj Rachma Petalolo M.Sc dan Nani Lalusu sekaligus sebagai Pembina waria Sulteng, Indar Parawansyah dan Hasan Haris SE. (yar)

0 komentar:

Posting Komentar