Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Rabu, 12 Mei 2010

Distanak Parimo dan Obsesi Menuju Kabupaten Terdepan Pada 2020 (1)

Rabu, 12 Mei 2010
Di Bidang Pertanian, Parimo Sudah Terdepan di Sulteng

Trend positif terus dicatat oleh Dinas Pertanian dan Peternakan Kabupaten Parigi Moutong (Parimo). Dari tahun ke tahun instansi yang dinahkodai Nahyun Biantong ini, terus mencatat prestasi gemilang. Apa dan bagaimana kiatnya, berikut laporannya.


YARDIN HASAN – PARIGI MOUTONG
‘’Kami bukannya bermaksud menyombongkan diri. Tapi untuk menuju yang terdepan di Sulteng, Dinas Pertanian dan Peternakan telah melakukannya. Ini bukan prestasi perorangan, tapi karena arahan manager (Bupati) dan di-back up oleh middle manager dan staf dengan SDM yang bagus, Parimo terus mencatatkan diri sebagai penghasil beras paling tinggi di Sulteng,’’ ujar Kepala Dinas Pertanian dan Peternakan Ir Nahyun Biantong saat ditemui di kediamannya yang bersebelahan dengan kantornya di Desa Dolago kecamatan Parigi Selatan – Parimo, (18/11) kemarin.

Pernyataan Nahyun ini memang bukan isapan jempol belaka. Sederet prestasi yang dicapai oleh dinas yang membawahkan empat bagian ini merupakan fakta yang tidak terbantahkan. Misalnya, Kabupaten Parigi Moutong berada dideretan 10 besar tepatnya di urutan 6 target tambahan rata-rata produksi beras nasional.
Atas prestasi ini, Bupati Longki Djanggola diganjar dengan penghargaan prestisius dari Presiden SBY di Istana Negara. Target secara nasional 5 persen pertahun, Parimo mencatat 12 persen pertahun. ‘’Kabupaten Parimo malah menembus 50,96 kwintal pertahun,’’ ungkap Nahyun yang sepanjang wawancara didampingi oleh empat kepala bidang di Distanak Parimo.
Bukti lain, Distanak juga menyumbang produk domestik regional bruto (PDRB) sebesar 55,45 persen ke Kabupaten Parimo. Ini menandakan bahwa sektor pertanian masih menjadi sektor andalan untuk menyanggah perekonomian di daerah bekas kabupaten Donggala ini.
Perolehan pencapaian hasil tanaman padi pada rentang waktu 4 tahun terakhir ini memang cukup fantastis. Bahkan pada dua tahun terakhir 2007 – 2008, lonjakannya cukup tinggi. Pada 2007, untuk lahan seluas 51.107 hektar, produktivitasnya mencapai 46,42 kwintal per hektar dengan produksi gabah kering giling sebanyak 237.239 ton. Terjadi surplus sebesar 101.593 ton. Pada 2008 capaian ini meningkat tajam. Dengan luas lahan panen yang hanya 46.047 hektar (lebih luas pada 2007), produktivitasnya mencapai 51,90 per kwintal per hektar, sedangkan produksi gabah kering giling sebesar 241.587 dan surplusnya menembus angka 104.419 ton.
Ia mengelak saat ditanya bahwa daerah Parigi Moutong sebagai daerah ‘’jadi’’ sehingga tanpa kerja keras pun daerah ini akan maju dengan sendirinya. Fakta ini tidak terlepas dari SDM petaninya yang di atas rata-rata dari petani lainnya di Sulawesi Tengah. Anggapan itu katanya sah-sah saja, tapi tidak sepenuhnya benar. ‘’Kalau seperti itu, kenapa waktu daerah ini masih bergabung dengan Donggala, tidak cukup mengemuka baik di Sulteng apalagi di level nasional, bahkan sampai mengalahkan daerah seperti Maros atau Subang,’’ tanyanya. Kuncinya ungkap Nahyun terletak pada leadhearshif seorang pimpinan daerah untuk mensinergikannya dengan instansi terkait, lalu kemudian ditopang oleh SDM yang mumpuni.
Lantas apa yang dilakukan untuk mendapatkan capaian gemilang itu? Nahyun Biantong mengungkapkan, selain kepemimpinan yang kuat, ditataran teknis dilakukan berbagai pembinaan yang menyentuh langsung kepada petani.
Tidak saja memberikan pengetahuan soal cocok tanam kepada petani, tetapi juga pemerintah harus pro aktif. Tidak cukup dengan imbauan, berkoar-koar pada setiap penyuluhan atau penyebaran pamflet yang isinya sangat teoritis. Tetapi yang dilakukan harus riil dan menyentuh kebutuhan petani di lapangan. Salah satunya adalah dengan merealisasikan program peningkatan produksi beras nasional (P2BN). Dari 63.469 alokasi P2BN di Sulteng, Distanak Parimo memperoleh bantuan alokasi seluas 18.526 hektar atau bantuan benih unggul sebanyak 463.155 kilogram benih. Realisasi bantuan P2BN ini ungkap Nahyun meliputi 14 kecamatan di Kabupaten Parimo. Berikutnya pada 2008, alokasi P2BN Parimo mendapatkan 10 ribu hektar dari total 40 ribu hektar alokasi untuk Provinsi Sulawesi Tengah. Bantuan ini terdiri dari bantuan benih padi non hibrida dan jagung hibrida.
Dengan adanya program P2BN ini menurutnya maka luas panen, produksi dan produktivitas jauh lebih meningkat dibanding tahun-tahun sebelumnya. Pencapaian hasil yang maksimal ini dapat terlaksana karena dorongan semua pihak yang memiliki komitmen tinggi terhadap kesejahteraan petani maupun komitmen terhadap jaminan ketahanan pangan nasional. Secara khusus ia memberikan respek kepada koleganya di Dinas Pekerjaan Umum yang senantias memperhatikan irigasi. ‘’Kita juga tidak bisa apa-apa kalau jalan-jalan atau irigasi tidak mendapat perhatian lebih dari dinas terkait,’’ ujarnya menambahkan.

Lebih jauh Nahyun mengungkapkan, ada fenomena lain yang membuat jajaran Distanak miris di balik pencapaian swasembada beras itu. Yakni, bagaimana memberdayakan para buruh (buruh tanam dan buruh panen) agar secara ekonomi, kelompok ini juga mengalami peningkatan kesejahteraan yang memadai. ‘’Saya melihat, ada kecenderungan yang mendapat keuntungan besar dengan panen berlimpah adalah para empunya sawah. Lantas bagaimana dengan buruhnya. Padahal mereka adalah sasaran utama yang mestinya diberdayakan,’’ katanya.
Pihaknya juga tidak punya kuasa untuk menentukan agar upah para buruh ini harus di atas UMP (upah minimum provinsi). Pernah katanya, ia membagikan mesin perontok pada kelompok petani. Namun setelah diamati tetapi saja kelompok buruh ini tidak mendapat nilai tambah ekonomi dari model bantuan seperti ini. Tetap saja kehidupan mereka sama seperti sebelumnya. Pada 2010 ini, model bantuannya dicoba dimodifikasi. Tidak lagi melalui kelompok, tetapi bantuan langsung kepada buruh yang bersangkutan. Mereka akan diberikan caping, rantang hingga kaus tangan. Barang-barang tersebut merupakan kebutuhan dasar mereka. Dengan demikian, buruh-buruh itu tidak perlu menyisihkan pendapatannya untuk membeli barang-barang tersebut. ‘’Mudah-mudahan pola ini bisa mengerek kehidupan mereka, setidaknya menjadi lebih baik dari kondisi sebelumnya,’’ demikian Nahyun. (bersambung)

0 komentar:

Posting Komentar