Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Kamis, 06 Mei 2010

Dispora Tidak Punya Konsep Penanganan Atlet Berprestasi

Kamis, 06 Mei 2010
Dispora Tidak Punya Konsep Penanganan Atlet Berprestasi
PALU – Tidak heran jika banyak atlet asal daerah ini yang mencatat prestasi mengilap lalu tiba-tiba dibajak oleh daerah lain. Ini terlihat dari pengakuan institusi yang menangani keolahragaan di daerah ini ternyata tak punya konsep penanganan atlet berprestasi khususnya menyangkut jaminan masa depan atlet. Kepala Dispora Sulteng Drs Darwis Yakama yang didampingi salah satu pejabatnya Drs H Husen Habibu saat memaparkan program 2009, tidak merinci langkah teknis maupun kebijakan apa yang perlu diambil agar atlet berprestasi tidak dibajak atau hengkang ke daerah lain. Keduanya berkilah kewenangan dan tanggungjawab yang diukur dari anggaran tersedia hanya sebatas saat SD dan SMP ketika masih dalam naungan PLPP. Namun ketika sudah menjadi atlet tanggungjawabnya sudah ada di KONI yang didalamnya ada pejabat dan pengusaha yang menjadi pengurusnya. Keduanya seolah melupakan bahwa KONI yang mestinya membina altet untuk berprestasi bukan untuk urusan menjamin masa depan atlet. Setelah didesak terkait langkah dan kebijakan yang diambil, Darwis pun tidak bisa menjelaskan secara rinci. ‘’Kami akan berusaha untuk menyiapkan bibit atlet. Kami juga berusaha agar mereka betah dan tidak mudah dibajak oleh daerah lain,’’ ujar Darwis sekenanya.
Husen Habibu yang menambahkan penjelasan atasannya juga tidak merinci langkah teknis yang diambil terkait masa depan atlet berprestasi. Ia mengemukakan, selama ini sudah kesepakatan antar Pengprov untuk saling memproteksi atletnya dan disepakati pula untuk tidak saling mengambil atlet dengan iming-iming bayaran yang besar. Namun penjelasan itu tak juga menjawab akar permasalahan atlet yang hengkang ke daerah lain, yakni rendahnya perhatian Pemda terhadap masa depan atlet berprestasi.
Pada 2009, Dispora memperoleh alokasi dana APBD sebesar Rp3 miliar termasuk belanja langsung dan tidak langsung. Sedangkan APBN sebesar Rp2 miliar yang diperuntukan bagi pembinaan olah raga di daerah ini. Total Rp7 miliar lebih. Menurut Darwis Yakama, dengan dana sebesar itu tentu saja tidak mencukup untuk pembinaan olah raga. Namun demikian kendala tersebut coba disiasati dengan berbagai terobosan salah satunya dengan menggandeng pihak swasta yang ujung tombaknya ada di KONI. Kelemahan lainnya adalah birokrasi antarlembaga olahraga yang masih perlu di tingkatkan, Kemudian, kurangnya pemberian penghargaan kepada atlit yang berprestasi. Serta kurangnya kesempatan atlit berprestasi untuk mendapatkan kesejahtraan. Dengan berbagai kendala itu katanya, pihaknya mencoba memaksimalkan peluang yang ada seperti memberikan kesempatan kerja bagi atlit berprestasi, dan membentuk klub-klub olahraga di kalangan pemuda dan masyarakat. (yar)

0 komentar:

Posting Komentar