Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Sabtu, 08 Mei 2010

Bank Sulteng, Menunggu Dirut Baru

Sabtu, 08 Mei 2010
f-yardin
LAYANI NASABAH – Para karyawan PT Bank Sulteng melayani nasabah tanpa merasa terganggu oleh gonjang-ganjing penggantian jajaran Direksi. Terlihat aktivitas bank pada 16/6 kemarin

Bank Sulteng, Menunggu Dirut Baru
Pelayanan Nasabah Terus Berjalan, Jajaran Direksi Rapat Maraton

Dalam beberapa tahun terakhir ini, PT Bank Sulteng yang sahamnya dimiliki oleh pemerintah daerah se Provinsi Sulteng terus menyita perhatian publik. Sayangnya, moncernya nama PT Bank Sulteng bukan karena prestasi yang dicapai oleh bank pelat merah itu, melainkan kinerjanya yang terus merosot. Bahkan dalam bank yang berada di kawasan jantung kota Palu itu, kini berada di dasar jurang. Menurut Gubernur Sulteng HB Paliudju, peringkatnya berada di urutan 33 dari 33 bank daerah yang ada di Indonesia. Untuk naik satu trip di atasnya, Bank Sulteng harus menyusuri jalan terjal. Ini karena baik dari sarana pendukung mulai dari IT (informasi teknologi), SDM hingga modal posisinya adalah paling rendah di Indonesia. Bahkan bank yang kini sedang menunggu Dirut baru itu, kalah dari dua provinsi paling bungsu di Sulawesi yakni, Provinsi Gorontalo dan Sulawesi Barat (Sulbar). Alih-alih menyamai bank di dua daerah ini, managemen PT Bank Sulteng malah harus berkutat dengan kredit bermasalah yang berjumlah Rp44 miliar, warisan sejumlah Direksi lama yang diproduk oleh rezim tempo dulu. Bahkan Paliudju yang ditemui seusai menghadiri rapat paripurna di DPRD Sulteng (15/6) lalu menyebutkan, ada sebagian kredit itu sudah ada sejak rezim Gubernur Aziz Lamadjido.

Masalah sepertinya tidak pernah lepas melilit bank yang satu ini. Di tengah ancaman turun peringkat menjadi bank perkreditan rakyat karena tidak mampu memenuhi kecukupan modal sebagaimana yang ditentukan oleh Arsitektur Perbankan Indonesia (API), bank milik rakyat Sulteng itu harus disibukan dengan persoalan internal. Walau terus dibayang-bayangi ketidakpastian, Bank Sulteng masih terus berusaha menjalankan kewajibannya melayani nasabah, yang umumnya para bendahara gaji di setiap SKPD dan para kontraktor.

Radar Sulteng yang mencoba melongok sebentar aktivitas karyawan bank yang saat ini sedang merencanakan membangun gedung baru itu, menyaksikan para karyawan khususnya di bagian front line melayani nasabahnya yang rata-rata berseragam PNS. Di ruangan yang sebenarnya sangat sempit untuk ukuran bank pemerintah yang berkedudukan di ibukota provinsi itu terlihat kesibukan cukup tinggi. Para karyawan dengann menggunakan seragam kebanggaan warna biru muda tampak ramah melayani nasabahnya. Masih di bagian yang menyatu dengan front line terlihat papan nama ruang Dirut. Untuk sementara ruangan tersebut memang tidak berpenghuni. Yudson Ranonto yang 10 bulan terakhir menempati ruangan itu, sudah mengepak semua barang pribadinya. Ia bersiap bergabung dengan keluarga besarnya di kota metropolitan Jakarta. ‘’Dalam beberapa hari kedepan saya sudah ke Jakarta. Saya bersyukur pada Tuhan pernah bergabung dalam managemen PT Bank Sulteng, walau harus mengakhiri masa pengabdian seperti ini,’’ ujar Yudson tersenyum.
Kembali ke soal aktivitas PT Bank Sulteng, salah seorang karyawan bernama Sauzan yang ditemui Radar Sulteng untuk menanyakan bagian humas atau pejabat lainnya yang berkompeten menyampaikan statemen ke pers mengarahkan Radar Sulteng ke bagian dalam ruangan. ‘’Coba Anda ke bagian dalam,’’ katanya ramah. Sayangnya sejumlah pejabat yang ditemui enggan memberikan komentar. ‘’Tunggu saja para Direksi. Mereka sedang ada rapat di dalam,’’ ujar pejabat tersebut. Ibu Mulyati ada, apakah beliau yang memimpin rapat? Tanya Radar Sulteng. ‘’Saya tidak tahu, tapi beliau ada di dalam tunggu saja ya,’’ kata pejabat itu lagi. Hj Mulyati adalah Direktur Operasional yang diplot untuk menjalankan roda perusahaan sembari menunggu calon Dirut baru setelah dilakukan fit and profertes oleh Bank Indonesia.
Pejabat tersebut juga menjamin bahwa proses pelayanan terus berjalan, tanpa harus merasa terganggu oleh kosongnya kursi Dirut. (yardin hasan).

0 komentar:

Posting Komentar