Rintis Dunia Usaha karena Ogah ke PNS
Zainuddin ST (32), jebolan Sarjana Arsitektur Universitas Hasanuddin tidak mau seperti kebanyakan orang. banting setir ke usaha tertentu karena mentok menjadi PNS. Bagi bapak dua putera ini, menjadi entrepreneur memang menjadi pilihan hidupnya, walau dorongan maupun peluang menjadi PNS sebenarnya sangat terbuka. ‘’Ada tawaran dari orang-orang penting di Untad menjadi dosen tapi saya belum bersedia. Orang tua juga ingin saya jadi PNS tapi belum ada pemikiran kea rah sana,’’ ujar Zainuddin yang ditemui di tempat kerjanya CV Tinta Kaili di Jalan Raja Moili – Palu Timur beberapa waktu lalu. Kepada Radar Sulteng, Zainuddin bersedia berbagi kiat memimpin sebuah unit usaha yang kini melayani order hingga di daerah tetangga - Sulbar. Menurutnya, usaha yang dirintis sejak 2004 itu memang selalu mempertimbangkan kualitas. Semua jenis usaha untuk bisa survive memang harus mempertimbangkan kualitas demikian pula usaha yang dijalankannya. Terlebih kata dia, saat ini usaha sejenis tumbuh di mana-mana. Bahkan pada saat Pemilu atau Pilkada usaha sejenis banyak bermunculan. Olehnya agar tidak ketinggalan dengan kompetitor ada dua hal yang selalu mendapat perhatian. Kualitas dan ketepatan waktu. ‘’Saya kira dua hal inilah yang membuat Tinta Kaili tetap bertahan sebagai salah satu pemain di bisnis ini yang terus bertahan,’’ katanya.
Sebelum terjun di bisnis ini, ia mengaku pernah mencoba beberapa pekerjaan misalnya dengan menjadi konsultan beberapa saat, sebelum akhirnya terjun di bisnis ini. Seolah mencoba berbagi kiat, Zainuddin mengaku, memang dibutuhkan mental yang tangguh untuk menjadi pebisnis, kemampuan membaca peluang pasar serta permodalan. Untuk modal katanya bisa dilakukan dengan memanfaatkan lembaga keuangan walau untuk itu, proses yang ditempuh juga tidak mudah. Tapi justru disitulah seninya. Semakin terjal jalan yang dilalui semakin kuat dorongan untuk mencapainya. ‘’Di sinilah mental kuat harus dibutuhkan dan kejelian membaca pasar. Saya saja pada awalnya walau usaha sudah jalan namun akses ke lembaga perbankan cukup susah, tapi kan akhirnya bisa juga,’’ katanya gembira. Kesimpulannya katanya, semua orang harus menciptakan peluang untuk dirinya. Tidak boleh hanya duduk menunggu peluang yang ada, begitu ada peluang tercipta tidak boleh mengabaikannya. Demikian pula saat terbentur masalah seberapun beratnya tidak boleh lari dari masalah itu. ‘’Kita harus mengupayakan mampu menundukan dan memenangkannya. Dari situlah kita teruji, kita menempah diri menuju tangga sukses berikutnya,’’ pungkasnya. (yar)
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar