PALU – Pemerintah Provinsi Sulteng selama sehari penuh menggelar rapat kerja daerah (Raker) yang menyertakan para bupati dan walikota se Sulteng. Raker tersebut seperti yang dikemukakann oleh Kepala Biro Administrasi Pemerintahan Umum Setdaprov Drs Wim Umboh Zoenoko maksud Rakerda tersebut sebagai penguatan ekonomi daerah melalui optimalisasi penyelenggaraan pemerintah daerah dan mempertajam strategi kebijakan penanggulangan kemiskinan melalui pendekatan program nasional dan pemberdayaan masyarakat serta sinergitas pembangunan nasional dan daerah untuk meningkatkan kesejahteraan rakyat. Menurut Wimboh ini bertujuan untuk mensinkronkan penyelenggaraan pemerintah daerah dan pelaksanaan pembangunan antara pemerintah daerah/kota melalui optimalisasi penyelenggaraan pemerintahan serta aspek evaluasi kinerja penyelenggaraan pemerintahan.
Wimboh mengatakan, raker yang mengambil tema optimalisasi penyelenggaraan pemerintahan guna efektivitas pelaksanaan pembangunan daerah di Provinsi Sulteng itu berlangsung di Swiss Belhotel dan diikuti oleh para bupati/walikota serta ketua DPRD, KPU, Panwaslu dan asisten bidang pemerintahan hingga para kepala Bappeda se Sulteng itu. Para pembicara yang hadir dari PT Askes, Depdagri dan Kementerian Kesra serta dari Bappenas.
Ada sejumlah hal penting yang akan dibahas pada raker yang berlangsung sehari ini. Salah satunya adala upaya untuk terus menekan angka kemiskinan dimana sebelumnya pemerintah telah berhasil menurunkannya 557.400 jiwa (22,42 persen) pada 2007 menjadi 524.700 (20,47 ) persen pada 2008. Diharapkan pada 2009 hingga 2011, pemerintah akan kembali menurunkan angka kemiskinan menjadi 2 hingga 5 persen.
Selain upaya untuk menekan angka kemiskinan, raker ini mencoba untuk terus memacu kinerja ekonomi yang pada 2008 mengalami pertumbuhan 7 persen. Pertumbuhan ini dilihat dari produksi yang terus mengalami pertumbuhan. Sektor pertanian dan industri pengolahan mengalami pertumbuhan 4,61 persen. Sedangkan di sisi pengeluaran, pembentukan modal tetap bruto (PMTB) telah tumbuh 9,47 persen.
Dibidang pemerintahan, raker yang dihadiri seratusan peserta dari kabupaten/kota itu, juga melaporkan pembentukan tim evaluasi penyelenggaraan pemerintahan daerah (EPPD) kabupaten/kota se Sulteng. Tim ini bahkan telah bekerja melaksanakan kegiatan penilaian berupa hasil evaluasi sementara (LHE-S) kinerja pemerintahan penyelenggaraan pemerintah daerah, pada 2007 hingga 2008. Saat ini sedang berlangsung penialian yang sama di Kabupaten Sigi. Dari hasil penilaian itu, Kabupaten Donggala menempati peringkat pertama dengan skor 2,530 sedangkan peringkat terendah di tempati kabupaten Banggai Kepulauan dengan skor 1,427.
Menurunnya angka kemiskinan juga berbanding lurus dengan jumlah angkatan kerja yang dapat diserap. Pada 2006 jumlah angkatan kerja 1.154.948 orang, dengan persentase pengangguran terbuka sebesar 8,39 orang. Jumlah tersebut bertambah menjadi 1.196.988 orang dengan persentase jumlah pengangguran terbuka terhadap jumlah angkatan kerja sebesar 5,45 persen. Demikian halnya dengan invenstasi yang menunjukkan jumlah penanaman modal asing (PMA) yang terealisir terus bertambah. Pada 2006 investasi PMA di Sulteng senilai 18.279 US$, jumlah ini naik pada 2007 menjadi 18.327 US$ dan naik lagi menjadi 18.565 UU$. Sayangnya dari data yang diperoleh Radar Sulteng di forum Raker, tren positif ini tidak diikuti dengan penanaman modal dalam negeri (PMDN). Pada 2007 realisasi PMDN hanya Rp498, juta lebih. Jumlah ini turun dari tahun sebelumnya yang mencapai Rp600 juta lebih. Sedangkan pada 2008 hanya terealisasi Rp504 juta lebih. Dibidang pendidikan pemerintah mengklaim ada perbaikan. Ini dilihat dari angka melek huruf, angka partisipasi murni (APM) dari tingkat SD hingga SLTA. Progress di bidang pendidikan ini, masih meninggalkan sejumlah masalah. Karena pada saat yang bersamaan kualitas pendidikan masih diperhadapkan dengan jumlah penduduk yang tidak sekolah dan tidak tamat sekolah. Sementara di bidang kesehatan, pencapaian yang telah dilakukan adalah capaian usia harapan hidup yang pada 2008 mencapai 66,6 persen. Sedangkan angka kematian bayi hingga 2008 mencapai 15 kematian per 1.000 kehidupan. Ini diikuti dengan turunnya angka kematian ibu maupun prevelansi gizi di masyarakat. (yar)
Rabu, 12 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar