Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Kamis, 06 Mei 2010

Pengalaman Para Relawan Kampanye Pemilu 2009

Kamis, 06 Mei 2010
Pengalaman Para Relawan Kampanye Pemilu 2009
Order Kampanye Sepi Berharap Partai Besar
Selama kampanye di luar ruang, komponen biaya terbesar jatuh pada dana untuk memobilisasi massa. Tingginya biaya mobilisasi massa itulah yang membuat para ‘’relawan’’ kampanye sepi order. Di banding Pemilu 2004, order kampanye tahun ini yang sudah memasuki putaran kedua justru masih sepi. Berikut penuturan beberapa komunitas yang kerap menjadi langganan pengisi kampanye sejumlah parpol besar.
=========================
Pada Pemilu 2004, muncul ungkapan-ungkapan spontan dari masyarakat, jika Anda butuh uang dalam waktu cepat, tidak perlu repot. Apalagi sampai harus meminjam dari teman atau orang tua. Saat itu ada cara yang paling mudah, cukup mendaftarkan diri sebagai penggembira dalam kampanye partai politik. Dijamin Anda akan mendapatkan uang dengan nominal tertentu. Meski jumlahnya tidak terlalu besar, tetapi kalau dipakai untuk membeli rokok, atau mentraktir teman lebih dari cukup. Kala itu, besarnya dana yang diterima para penggembira cukup bervariasi, namun tergantung sepenuhnya pada partai yang akan berkampanye.
Berdasarkan pengakuan dari beberapa pengendara becak yang ditemui di Pasar Inpres, Jumat (27/3) kemarin mengungkapkan besar uang yang diterima pada musim kampanye Pemilu 20004, berkisar antara Rp 50 ribu hingga Rp 100 ribu. Lantas bagaimana dengan kampanye terbuka pada Pemilu 2004 yang tinggal menyisakan beberapa hari lagi? Samad pengendara becak yang ditemui di Jalan Sapiri kemarin mengaku, musim kampanye tahun terasa sepi. Bahkan sejak kampanye terbuka digelar pada 16 Maret 2009, pihaknya baru mendapat order sekali, ketika ada kampanye Partai Keadilan Sejahtera (PKS) beberapa waktu lalu. ‘’Waktu itu kita diberikan kaos dan uang Rp30 ribu perorang. Setelah itu tidak ada lagi partai lain,’’ kata Samad menambahkan.
Sepinya order menjadi relawan kampanye juga diakui oleh Iskandar yang ditemui seputar Pasar Inpres tepatnya di Jalan Bayam – Palu Barat. Iskandar mengemukakan, berdasarkan pengalaman tahun-tahun sebelumnya, dalam seminggu ia bisa meraup Rp200 ribu untuk beberapa kali kampanye. Namun tahun ini sama sekali tidak ada partai yang memangggil untuk menjadi peserta kampanye. Iskandar yang mengaku pernah berkampanye dengan PPP dan Demokrat pada 2004 mengemukakan, beberapa waktu lalu sempat ada partai yang mendatangi teman-temannya yang mengendarai dokar untuk ikut kampanye Partai Golkar. Namun itupun tidak semua tukang becak dan dokar ikut menjadi peserta kampanye.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Jami. Pada musim kampanye tahun ini katanya ia berharap akan mendapatkan order kampanye seperti pengalaman pemilu 2004. Bahkan untuk keperluan itu, ia sudah mempermak becaknya menjadi lebihb heboh. Bodinya dicat warna-warni, beberapa onderdilnya diganti. Di bagian depan dipasang tiang kecil untuk dipasangi bendera parpol. Sayangnya, persiapan yang sudah matang itu, tidak tersahuti seiring dengan sepinya parpol berkampanye terbuka. Ketiganya juga mengaku, saat kampanye Partai Gerindra yang berlangsungdi Lapangan Vatulemo kemarin, mereka juga tidak mendapat ‘’undangan’’ untuk sekadar meramaikan kampanye partai pimpinan Prabowo Subianto itu. Di sisa hari kampanye ini, pihaknya berharap ada partai besar yang menggunakan jasa mereka dalam kampanyenya.
Apa yang menyebabkan partai-partai besar enggan berkampanye terbuka? Salah satu partai besar yang tidak akan menggelar kampanye terbuka dengan mendatangkan ribuan massa adalah PDIP Sulteng. Menurut Ketua Bappilu PDIP Kota Palu, Janus Matindas Rumambi, model kampanye terbuka adalah bagian dari masa lalu PDIP, dan pada musim kampanye tahun ini PDIP tidak akan menggelar kampanye terbuka. Pihaknya lebih memilih kampanye dialogis untuk meyakinkan konstituen dari pada kampanye terbuka. ‘’PDIP lebih memilih demokrasi substansial dari pada demokrasi dangdutan,’’ katanya tertawa. Dengan kampanye dialogis katanya, pesan partai akan sampai di masyarakat dari pada kampanye di lapangan terbuka. Masyarakat lebih suka mendengar dangdut dari pada program partai. (yar)

0 komentar:

Posting Komentar