f-yardin
PENCITRAAN INSTAN – Baliho para caleg yang dipasang di sudut-sudut Kota Palu sangat mengganggu pemandangan.
Fungsi Baliho, Pencitraan atau Penampakan (1) ///sub
Antara Popularitas Instan Versus Sinisme Publik
Menjadi anggota legislatif, sepertinya telah menjadi pilihan hidup. Karenanya menjadi anggota DPRD pun tak lagi dimaknai sebagai tempat pengabdian melainkan pekerjaan atau profesi. Memperkenalkan diri kepada publik secara lebih terbuka dan buka-bukaan kini tak terbatas ruang dan waktu. Tempat-tempat yang dulunya bukan wilayah politik pun menjadi arena pentas figur untuk memburu kekuasaan. Tidak hanya itu, rakyat miskin dan kekumuhan pun menjadi media berpromosi yang ampuh. Selain itu, momentum ritual keagamaan mulai dari tempat ibadah atau momen-momen religius yang mestinya diwarnai kekhusyukan dan ketulusan, berubah menjadi arena tebar pesona.
Namun di mata sebagian kalangan popularitas instan yang dibangun dengan pendekatan baliho, spanduk dan kalender serta pamflet, sebenarnya tidak sepenuhnya mengandung nilai kejujuran. Karena pesan yang ditampilkan kadang tidak berbanding lurus dengan track record caleg yang bersangkutan.
LAPORAN: YARDIN HASAN
BALIHO, kalender dan spanduk serta pamflet yang belakangan marak memuat gambar para caleg peserta pemilu 2009 memberikan isyarat kuat kepada publik, tingginya kehendak untuk berkuasa. Hampir di setiap pojokan Kota Palu, juga kota-kota lainnya di Sulawesi Tengah, banyak dijumpai spanduk besar yang diusung partai politik (parpol) tertentu dengan wajah pengurus partai terpampang, memberikan ucapan selamat Hari Raya Idul Adha, Natal dan Tahun Baru. Warga kota tampaknya telah terbiasa dengan geliat aktivitas yang menebarkan aura politik. Sehingga, carut marut persaingan politik melalui berbagai pemasangan spanduk secara sporadis (serampangan/tak beraturan), bahkan telah menjadi pemandangan biasa. Pemasangan baliho yang serampangan diberbagai sudut kota, juga mengundang sikap sinis publik. Ini karena klaim-klaim dalam baliho kadang tidak sesuai dengan track record sang calon selama ini.
Pengiklanan diri melalui spanduk dan baliho itu kini terkesan lazim sebagai upaya pencitraan politik. Slamet Riadi Cante dan Irwan Waris, keduanya dari Universitas Tadulako, mengingatkan agar publik tidak terbuai dengan kata-kata yang terangkai indah dalam bingkai baliho. Menurut Drs H Slamet Riady Cante, M.Si, klaim lewat baliho cenderung tidak realistis. Sebab pada umumnya, hanya mencerminkan keberpihakan kepada rakyat yang terkesan hanya slogan atau jargon yang tidak bisa dilakukan jika kelak terpilih. Ia menilai, karena komunikasi politik disederhanakan sebagai political marketing, maka kehadiran sang calon di tengah-tengah masyarakat untuk merekam kebutuhan dasar dari akar rumput bukan lagi menjadi pilihan yang prioritas. Kemasan dipandang jauh lebih penting dibanding pesan. ‘’Maka pilihannya adalah penyampaian pesan melalui baliho,’’ tukas Slamet.
Kebersamaan kandidat dan warga harus sudah terbangun lewat kerja-kerja penanganan masalah warga. Dengan demikian pemimpin akan terlahir dari tengah-tengah warga. Dari sisi efektivitasnya, kehadiran baliho patut dipertanyakan. Baliho tidak dibuat berdasarkan rekaman lengkap emosi dan preferensi calon pemilih. Baliho lahir dari sudut pandang fotografer, atau kesukaan kandidat itu sendiri. Oleh karena itu, baliho bisa menampilkan sosok kandidat sedang tersenyum meski publik yang melihatnya tengah dilanda kekesalan luar biasa. Foto-foto yang ditampilkan juga telah melalui rekayasa digital (fotoshop) sehingga tak seindah wajah aslinya. ‘’Baliho lebih mengekspresikan apa yang diinginkan kandidat, ketimbang menangkap apa yang dipikirkan calon pemilih. Kandidat lebih menampakkan hasrat berkuasa, ketimbang secara arif menimbang kecemasan dan harapan warga,’’ ujar Slamet menambahkan.
Dikatakannya, substansi kampanye mengharuskan para kandidat menangkap emosi, memahami pikiran, harapan, kecemasan, dan ketakutan calon pemilihnya. Melakukan penyesuaian diri dengan keadaan calon pemilih menjadi langkah penting bagi setiap kandidat, dalam memenangkan hati pemilih lewat kehadirannya.
Slamet menyarankan kepada warga, bahwa rekam jejak pengalaman caleg tertentu akan sangat menolong calon pemilih untuk menentukan sikapnya. Pemimpin yang tidak dikenal, bahkan tidak membangkitkan harapan, hanya akan menyulitkan pemilih ketika ia harus menentukan pilihannya.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Irwan Waris. Dosen Fisip Untad ini mengingatkan, bahwa pencitraan instan melalui baliho berpotensi mengandung penyesatan imaginasi rakyat. Pasalnya, tampilan para kandidat di baliho atau spanduk melebihi kapasitas atau karakter asli sang calon (hyper reality of media).
Pencitraan instan yang marak dilakukan menurut Irwan Waris bisa dikatakan sebagai langkah pragmatis yang dilakukan oleh para kandidat, karena merasa tak ada jalan lain yang lebih efektif yang dapat dilakukan untuk mempengaruhi pemilih secara faktual. ‘’Ini karena mereka sendiri belum memiliki peran yang menyentuh mayoritas rakyat,’’ katanya.
Masih menurut Irwan, model konsep ini terbawa hingga era sekarang. Kondisi budaya politik yang masih mengandalkan pamor pemimpin atau pencitraan secara besar-besaran. Iklim politik saat ini belum memberikan ruang para kandidat untuk lebih mengandalkan kualitasnya. Kemunculannya yang tiba-tiba membuat jejak pengalaman mereka dalam penanganan masalah sosial relatif kalah bersaing dan tergerus oleh penyapaan lewat ucapan selamat atau mohon doa restu lewat spanduk yang dianggap lebih ampuh dalam sosialisasi. Namun, dunia politik saat ini lebih didominasi oleh pencitraan yang justru diciptakan para aktivis politik itu sendiri. Mereka berusaha keras untuk mengondisikan "penampakan" politisi dan parpol agar terekam dalam benak khalayak. Baik Irwan maupun Slamet tampaknya sepakat bahwa ajang tebar pesona secara instan ini hanyalah panggung sandiwara dan semu. Ketika target politik terlewatkan, propaganda ini hanya menjadi mimpi. Rakyat yang telanjur menelan janji manis pun ditinggalkan seiring dengan datangnya nikmat kekuasaan.(bersambung)
Selasa, 04 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar