Pemilu dan Kepemimpinan Pemuda
Kepemimpinan Kaum Muda, Antara Wacana dan Realitas
DI TENGAH kuatnya tuntutan kepemimpinan kaum muda, hasil Pilpres Juli nanti, diharapkan memberikan kesempatan kepada kaum muda di Indonesia . Seolah menemukan momentumnya, even lima tahunan itu juga menjadi taruhan bagi kaum muda di daerah ini seberapa jauh, Pemilu kali ini memberikan kesempatan bagi kaum muda untuk meringsek ke panggung kekuasaan.
Berikut keterangan Ketua DPD KNPI Sulteng Idhamsyah Tompo, yang mengharapkan para pemimpin nasional yang terpilih pada Pilpres nanti akan memberikan kesempatan kepada kaum muda Indonesia.
=======================
Pemilu Pilpres tinggal dalam hitungan hari, menurut Anda bagaimana respons Pemuda dalam pesta demokrasi kali ini?
Keterlibatan pemuda dalam momentum kali ini cukup bagus. Kualitasnya juga cukup bagus. Indikasinya, terlihat dari banyaknya teman-teman pemuda yang sadar akan tanggungjawab politiknya ikut ambil bagian di dalamnya.
Ini menunjukkan adanya kesadaran yang tinggi dari Pemuda itu sendiri. Di tengah kuatnya desakan kepemimpinan kaum muda, fenomena ini cukup bagus. Tapi saya melihat ada juga sebagian yang masih terbawa eufhoria demokrasi. Walau ada juga masih sekadar demokkrasi procedural misalnya ikut terlibat pesta demokrasi baik Pileg maupun Pilpres bukan karena kesadaran ideologis tetapi karena ingin menyaksikan artis dangdut.
Anda mengatakan perlunya kepemimpinan kaum muda, apakah ini perlu kita melakukan dikotomi kepemimpinan kaum muda dan tua?
Memang tidak perlu. Soal kepemimpinan tua dan muda, KNPI juga tidak ingin terjebak dalam dikotomi hitam putih, dan memang tidak bisa seperti itu. Tapi yang saya maksud, sirkulasi kepemimpinan bangsa ini maupun di daerah memang perlu. Persoalannya selama ini ada stigma yang sengaja dilekatkan kepada pemuda, bahwa pemuda belum mampu, belum siap, belum matang dan segudang stereotif lainnya. saya kira persoalannya bukan pada belum matang atau tidak siapnya pemuda tampil tetapi karena pemuda tidak diberi kesempatan untuk tampil. Makanya kita berharap hasil Pilpres 2009 nanti, potensi kaum muda dari Sabang sampai Merauke termanfaatkan dengan baik.
Anda terlihat yakin dengan kepemimpinan kaum muda, apakah ini sebagai koreksi kritis terhadap kepemimpinan kaum tua karena dianggap gagal?
Sama sekali tidak. Insya Allah tidak ada anggapan seperti itu. Bahkan pada saat-saat tertentu, senior-senior ini masih kita butuhkan. Tapi bukan berarti kesempatan untuk kaum muda ditutup sama sekali, apalagi opini yang dibangun cenderung tidak sehat, dengan mengatakan pemuda belum bisa tampil karena belum matang, belum siap dan cenderung tidak tegas. Ini yang saya tidak setuju dan harus ditentang.
Bagaimana komposisi kaum muda yang tampil menjadi pemimpin publik di Sulteng?
Sudah ada beberapa pemuda yang tampil dan saya berharap ini bisa membangunkan alam bawah sadar kaum muda di Sulteng untuk tampil menjadi pemimpin
Siapa diantaranya?
Banyak contohnya, coba lihat saja, ada Pak Anwar Hafid di Morowali, ada Pak Amran di Buol dan Pak Longky di Parimo. Tapi Pak Longki itu kaum muda yang agak senior..ha..ha..ha..
Sepertinya KNPI sangat terobsesi dengan kepemimpinan kaum muda, sebenarnya apa kepentingan KNPI untuk mengegolkan ide tersebut?
Terus terang saja kepentingan KNPI adalah kesinambungan estafet kepemimpinan. Berbicara soal kesinambungan maka tentu ada pengkaderan. Makanya memberikan kesempatan kepada kaum muda untuk tampil menjadi sangat perlu untuk kepentingan pengkaderan. Selain itu, sejarah perjalanan bangsa ini juga telah memberikan pelajaran bagi kita, betapa peran pemuda adalah bagian yang tak terpisahkan dalam menjaga tegaknya NKRI
Atau apakah ada kepentingan Anda atau KNPI untuk menjagokan figur pemuda dalam kepemimpinan?
Oh sama sekali tidak ada seperti itu. Ide ini sama sekali bukan didorong oleh kepentingan pragmatis untuk memuluskan orang perorang. Seperti yang saya katakan tadi, ini untuk pengkaderan. Lagi pula kan banyak teman-teman pemuda yang mampu. Jadi ini bukan order, tapi realitas bangsa ini memang butuh kaum muda. Itu saja.
Dalam penilaian selama ini, seperti apa peran kaum muda dalam panggung kekuasaan?
Memang sudah ada yang mampu mengakses ke panggung kekuasaan tapi prosentasenya masih sangat sedikit. Bahkan dalam hal-hal tertentu, pemuda itu masih sekadar menjadi kayu bakar atau pendorong mobil mogok. Mereka hanya dibutuhkan pada saat kampanye, tapi giliran dalam distribusi kekuasaan, pemuda di tinggalkan. Pemuda ibarat mendorong mobil mogok, giliran mobilnya jalan, pendorongnya malah ditinggalkan.
Institusi apa yang paling berperan agar kepentingan pemuda di panggung kekuasaan bisa terakomodir?
Ya terus terang masih parpol yang berperan. Sistem ketatanegaraan kita masih memberikan peran ini kepada parpol. Sirkulasi kepemimpinan baik di eksekutif maupun legislative ada di sana. Makanya kita dorong teman-teman yang sudah merasa matang dari berbagai aspek untuk masuk dalam gerbong parpol.
Apa harapan KNPI dalam Pilpres nanti?
Salah satunya adalah seperti yang saya katakan pada awal tadi, soal keterakomodiran pemuda dalam distribusi kekuasaan. Toh banyak pemuda-pemuda yang dinilai sudah mampu.
Apakah pasangan capres/cawapres yang ada saat ini masih tergolong muda?
Dari aspek usia mungkin tidak. Tapi paling tidak mereka mempunyai itikad baik untuk mengakomodir potensi kaum muda yang ada saat ini.
Apakah slogan Pak JK lebih cepat lebih baik menggambarkan semangat muda, pasalnya hanya kaum muda bisa lebih gesit dalam bertindak?
Tidak ada komentar soal itu, nanti dibilang KNPI sudah terjebak pada dukung mendukung figure. Biarlah publik yang menilai makna yang tersirat di balik slogan itu.
Terakhir. Sekilas terlihat kepemimpinan kaum muda hanya sekadar wacana ketimbang realitas. Komentar Anda?
Tidak juga. Sudah ada koq teman-teman pemuda yang mengakses ke panggung kekuasaan. Di kementerian Kabinet Indonesia Bersatu (KIB) ada figure muda yang tampil. Ada Bung Adhyaksa di Kemenegpora. Terus ada lagi Bung M Lutfhi di BKPM dan beberapa tokoh lain yang muda-muda. Kemudian di parlemen ada Pak Muhaimin Iskandar menjadi wakil ketua dewan. Mereka-mereka ini adalah sosok pemuda yang cukup berhasil. Di level lokal juga ada bupati dan birokrat dan pimpinan dewan yang berasal dari kaum muda. Dari aspek kuantitas memang masih kecil, tapi paling tidak mereka-mereka itu sudah memulainya. Perjuangan kan baru dimulai.(***)
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar