PALU – Seiring dengan semakin dekatnya masa tugas DPRD Sulteng periode 2004-2009, komitmen eksekutif untuk menghadiri rapat-rapat dengan legislatif perlahan mulai tergerus. Para pejabat khususnya level eselon II sepertinya menganggap pertemuan dengan DPRD Sulteng yang usia pengabdiannya tinggal sebulan lagi sebagai sesuatu yang tidak terlalu penting. Asumsi itu setidaknya terlihat pada dua kali rapat dengar pendapat yang berlangsung di DPRD Sulteng pada dua hari mulai 28 – 29 Juli 2009. Seolah tidak memedulikan surat Ketua DPRD Sulteng yang mengundang pejabat eselon II, para pejabat kepala dinas itu, malah hanya mengutus pejabat eselon III bahkan ada yang cukup mengutus pejabat eselon IV atau setingkat kepala sub bagian. Sikap pejabat-pejabat inilah yang mengundang para anggota dewan uring-uringan.
Seperti yang terlihat pada rapat komisi IV dengan Dinas Pariwisata Seni dan Budaya yang berlangsung di ruang paripurna DPRD Sulteng pada 92/7 lalu. Ketua Komisi IV Armin Latjangki, Syafrun Abdullan dan Busta Kamindang dibuat jengkel karena tiga pejabat dari Dinas Pariwisata dan Budaya tidak bisa menyampaikan program-program dinas itu secara keseluruhan. Pejabat yang diutus hanya 3 orang itupun pejabat teknis yang hanya menguasai administrasi. Beberapa kali ketiga anggota dewan ini meminta penjelasan yang gamblang tapi tetap saja jawaban dari tiga pejabat tersebut tidak mengena, bahkan cenderung keluar dari konteks masalah. ‘’He..he..maaf bapak-bapak saya dibagian administrasi jadi tidak bisa memberikan jawaban yang tuntas soal itu,’’ celoteh salah satu pejabat mengomentari kekesalan para anggota dewan dari komisi kesejahteraan rakyat itu.
Menurut Busta Kamindang, kehadiran para kepala dinas sangat dibutuhkan. Dengan demikian akan diketahui bagaimana ploting anggaran untuk setiap dinas. ‘’Misalnya, Dinas Kebudayaan akan menggelar Festival Danau Poso, kalau laporannya lengkap maka akan diketahui berapa besar plot anggarannya. Tapi kalau seperti ini, yang hadir hanya pejabat yang hanya tahu surat masuk dan surat keluar, tentu tidak bisa,’’ cerocos wakil rakyat yang sudah menghabiskan waktunya selama 10 tahun di gedung dewan ini. Busta mendesak agar sehari setelah rapat tersebut komisi IV sudah mendapat bahan-bahan yang diperlukan untuk kunjungan koordinasi dan komunikasi dalam daerah yang akan digelar pekan ini.
Pemandangan yang sama terjadi kembali pada rapat Komisi I dengan mitra yang berlangsung di ruang Baruga DPRD Sulteng. Kali giliran Ketua Komisi I Yus Mangun dibuat berang. Sejak rapat dibuka, Yus Mangun sudah mencak-mencak. Pasalnya dari 13 yang menjadi mitra komisi yang membidangi pemerintahan ini, hanya Biro Humas dan Protokol yang mengutus pejabat eselon II. Selebihnya dua belas dinas dan badan lainnya hanya mengutus pejabat eselon III bahkan ada yang eselon IV. Yus Mangun semakin bertambah kekesalannya karena nyaris tidak ada respons yang memadai dari para pejabat terhadap jawaban yang disampaikan. Ini bisa dimaklumi karena rata-rata yang hadir bukan pengambil kebijakan.
Kepala Biro Humas dan Protokol Irwan Lahace termasuk yang selamat dari ‘’amukan’’ komisi I tersebut. Ditemui seusai sidang, Irwan mengaku memang telah mempersiapkan diri dengan baik untuk menghadiri rapat dengan komisi I tersebut. Hal itu dibuktikannya dengan memboyong tiga pejabat eselon III (kabag) dan dua eselon IV (kasubag).
Terkait soal sikap ogah-ogahan para pejabat untuk menghadiri undangan dewan, menurut IIrwan Lahace sama sekali tidak ada unsure kesengajaan apalagi menganggap bahwa undangan dewan tidak penting lagi karena usia pengabdiannya tinggal satu lagi. Menurut Irwan ada kegiatan dinas yang sudah terjadwal sebelumnya dan berbenturan dengan jadwal pertemuan di dewan. ‘’Saya kira tidak ada anggapan seperti itu, buktinya ada pejabat yang diutus mewakili. Ini soal teknis saja. Soal jadwal yang berbenturan,’’ pungkas Irwan. (yar)
p
Sabtu, 08 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar