Para Saksi Parpol Pengawal Suara Partai
Tinggalkan Anak, ingin Menjadi bagian dari Terwujudnya Demokrasi
Menjadi saksi parpol yang diberi amanah untuk mengawal perolehan suara partai dan caleg di tiap TPS memang bukan perkara mudah. Keberadaan saksi parpol itu tidak saja mencatat data suara yang direkap dari berbagai TPS, tetapi juga harus mempunyai keberanian adu argument jika ternyata parpol dan caleg yang diwakilinya dirugikan oleh kesalahan pencatatan di tingkat PPS
JAM dinding sudah menunjukan pukul 16.00, seorang ibu muda terlihat keletihan setelah empat hari mulai pagi hingga malam hari duduk di bangku untuk mencatat setiap suara partai yang dibacakan oleh petugas PPK melalui pengeras suara. Sesekali ia berdiri lalu mendongakan kepalanya kearah jam dinding memastikan waktu rehat sore sebelum disambung lagi pada malam harinya. Walau terlihat letih, namun perhatiannya tetap tertuju pada lembar C2 plano yang terpampang di depan – tempat perolehan suara di TPS dicatat. Jika ada kejanggalan antara jumlah suara yang terdapat dalam berita acara dengan yang terdapat dalam lembaran C2 plano maka dia tidak segan-segan memprotes untuk dilakukan pengecekan ulang. Alhasil sejak hari pertama sedikitnya ada sejumlah kotak suara yang terpaksa dihitung ulang. Dialah Nova – ibu muda berjilbab ini mengantongi mandat sebagai saksi dari PKNU. ‘’Keberadaan saya disini untuk memastikan suara caleg saya tidak dikadali, oleh partai tertentu yang memang punya pengalaman di bidang itu,’’ ujar Nova ramah kepada Radar Sulteng yang menemuinya saat rehat siang kemarin.
Apa yang menjadi motivasi perempuan berkulit kuning langsat ini betah berjam-jam menjadi saksi parpol? Nova yang mengaku sudah punya dua jagoan ini mengaku, motivasinya ingin menjadi bagian kecil dari upaya terwujudnya demokrasi di negeri ini. ‘’Saya memang diberi uang lelah oleh partai sebesar Rp75 ribu perhari plus uang makan tiga kali sehari. Tapi bukan itu yang membuat saya ada di sini. Saya ingin menyaksikan sekaligus menjadi bagian dari sejarah terwujudnya demokrasi di negeri ini,’’ katanya diplomatis. Saat ini katanya banyak caleg yang berjuang untuk mendapatkan suara dengan menafikan nilai-nilai demokrasi itu sendiri. Cukuplah itu terjadi di arena kampanye, tidak perlu di bawah lagi ke dalam perhitungan suara seperti ini. ‘’Makanya itu, kenapa saya ada di sini,’’ katanya menambahkan. Namun pilihannya itu harus dibayar mahal. Dua anaknya untuk sementara ditinggalkan bersama sang nenek. ‘’Tidak apa-apa toh hanya beberapa hari. Insya Allah besok sudah kelar,’’ kata perempuan berjilbab ini. (yardin hasan)
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar