f-yardin
KE PERISTRAHATAN TERAKHIR – Jenazah Almarhum Drs H Taufik Tiangso MSc dipikul oleh petugas dari Satpol PP Pemprov menuju ke peristrahatan terakhir
Menelusuri Jejak Panjang Sang Birokrat Sejati
Pengalaman Organisasi Menempanya Menjadi Birokrat Ulung
Sepak terjang almarhum Taufik R Tiangso di dunia birokrasi cukup diakui oleh koleganya. Tak kurang dari Gubernur HB Paliudju sendiri dalam sambutan pelepasan jenazah di rumah duka memberikan pengakuan soal kapasitas almarhum. Seperti yang pernah diakuinya dalam perbincangan dengan Radar Sulteng menjelang pensiun, beberapa tahun silam, bahwa pengalaman organisasi yang sangat beragam telah memberikan andil hingga mengantarkannya menjadi seorang birokrat mumpuni.
LAPORAN: YARDIN HASAN
Duabelas Maret 2009, adalah akhir perjalanan panjang seorang Taufik Tiangso. Seorang tokoh birokrat yang sejak 8 Desember 1973 telah mengabdikan dirinya sebagai abdi Negara melalui Surat Keputusan Menteri Dalam Negeri Nomor: Up.1976 diangkat menjadi CPNS. Perjalanan panjang di dunia birokrasi itu, diakhirinya saat memasuki pensiun pada 2006 dengan pangkat golongan IV e. Pangkat tertinggi dalam karir seorang PNS itu pun dilaluinya dengan mulus. Perjalanan panjang berkarir di birokrasi dengan durasi cukup lama sekitar 31 tahun, mengantarkannya menjadi salah satu pejabat yang malang melintang di dunia birokrasi. Mengawali karir PNS-nya dalam pangkat pengatur muda tingkat I Golongan II/b, karir dari suami Mulyani Ladwan Taufik Tiangso ini terus menanjak. Pada tahun yang sama, Taufik yang kala itu baru berumur 25 tahun diserahi amanah menjadi Kepala Seksi Latihan Kerja dan UDKP pada PMD Provinsi Sulawesi Tengah. Jabatannya kemudian terus menanjak. Setahun berikutnya mulai 1974 – hingga 1977 ia memegang beberapa kotak jabatan di Badan PMD Dati I Sulteng.
Pada 3 Oktober 1977, ia kemudian diangkat sebagai Kasubdin PMD Dati II Buol-Tolitoli. Kelak di daerah penghasil cengkeh inilah, Taufik muda bertemu dengan gadis pujaannya yang kemudian kelak diperistrinya, Mulyani Ladwan. Dari hasil perkawinannya, Taufik-Mulyani dikaruniai 4 orang anak. Rentang waktu 1973 hingga 2006 total Taufik mengoleksi 9 kotak jabatan. Beberapa di antaranya adalah jabatan prestisius. Sebut misalnya, Asisten Administrasi Sekwilda yang dijabatnya sejak 21 Januari 1997, selang dua tahun kemudian Taufik mendapat amanah menjadi koordinator dinas dan badan di lingkungan pemerintah Provinsi Sulawesi Tengah dengan menjadi Ketua Bappeda Provinsi Sulteng. Menyusul kemudian pada 25 April 2005, sang user, Gubernur Aminuddin Ponulele, memercayakan peraih 4 penghargaan dan tanda jasa dari pemerintah Republik Indonesia, itu jabatan Kepala Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Nakertrans) Provinsi Sulawesi Tengah. Seiring dengan perjalanan waktu, almarhum Taufik Tiangso pun mengakhiri tugas pengabdiannya kepada bangsa dan Negara di instansi yang mengurusi buruh dan transmigrasi ini.
Atas dedikasinya itu, Almarhum diganjar dengan sejumlah penghargaan dari pemerintah RI, berupa penghargaan dalam pemenangan Pemilu 1982, Satyalencana Karya Satya Kesetiaan XX tahun pada 1997 dan Satyalencana Karya Satya XXX tahun pada 2005. Ia juga mendapat penghargaan DAN III Kehormatan Taekwondo Indonesia dari PBTI Oleh Letjen (Purn) Marinir Suharto pada 2002.
Dalam kesempatan bincang-bincang dengan Radar Sulteng menjelang akhir masa jabatannya di ruang kerjanya di Dinas Nakertrans Jalan Kartini beberapa tahun silam, Almarhum Taufik mengaku, dirinya matang setelah ditempa dalam berbagai institusi non formal. Taufik mengatakan ia pernah ditempa pada organisasi yang keras dengan prinsipnya ideologisnya seperti Pelajar Islam Indonesia (PII) hingga organisasi moderat seperti HMI hingga organisasi kepemudaan seperti KNPI. ‘’Saya dulu kan pernah jadi aktivis PII, waktu itu saya sangat terobsesi dengan pemikiran Hasan Albana (Pendiri Ikhwanul Muslimin di Mesir, red),’’ katanya kepada Radar Sulteng dalam perbincangan itu.
Almarhum juga mengikuti perkembangan dunia dakwah di Indonesia. Salah satu referensinya agar tidak tertinggal dari perkembangan dakwah modern adalah dengan berlangganan Majalah Suara Muhammdiyah. Tak heran di rumahnya, setiap terbitan terbaru majalan bulanan milik PP Muhammadiyah Pusat ini, ia tak ketinggalan. Sejumlah organisasi lain yang pernah diikutinya adalah HMI pada 1967 dan Ketua Bidang Organisasi Golkar pada 1979 di Kabupaten Buol-Tolitoli dan sejumlah organisasi lainnya. Ia mengatakan dengan menempah diri di organisasi, seseorang menjadi matang.
Selepas dari panggung birokrasi, ia pun tak lepas dari kehidupan publik. Walaupun hari-harinya banyak dihabiskan bercengkarama dengan cucu-cucunya, ia masih menyempatkan diri untuk berinteraksi dengan dunia luar, walau dalam skala yang terbatas. Salah satunya mengawal prestasi olah raga di daerah ini, dengan menjadi Wakil Ketua KONI Sulteng.
Di mata orang-orang terdekatnya, almarhum juga dikenal sebagai suami, ayah dan kakek yang baik. Mulyani Tiangso sang istri, mengaku jika suaminya itu adalah sosok dengan emosi yang matang. Ia mencontohkan, saat suaminya masih aktif sebagai Kadis Nakertrans – kerap mendapat kritikan tajam tidak saja dari masyarakat tetapi juga dari mitranya di dewan. Mulyani yang menyebut suaminya dengan Kak Taufik, mengatakan walau mendapat kritikan tajam termasuk dewan melalui media massa, namun ia tidak terpengaruh apalagi sampai membalas statemen statemen itu.
Selain itu ada pula sisi unik dalam rentang waktu menjalani biduk rumah tangga. Pada 2006, keduanya tercatat menjadi kandidat kepala daerah di wilayah berbeda. Sang istri menjadi kandidat wakil bupati di tanah kelahirannya Kabupaten Toli-Toli, sedangkan, Almarhum Taufik Tiangso menjadi kandidat walikota kota Palu berpasangan dengan Arena JR Parampasi. Keduanya memang sama-sama gagal. Dalam salah satu kesempatan makan siang bersama Radar Sulteng di salah satu rumah makan favoritnya di bilangan Palu Barat, Almarhum Taufik Tiangso mengatakan, ada hikmah yang berhasil dipetiknya saat mengikuti even tersebut. ‘’Bahwa tidak semua niat baik itu harus berhasil dicapai. Padahal sebagai kandidat Walikota saya bertekad menjadikan tanah kelahiran saya lebih baik dari yang sudah ada. Ternyata niat baik belum kesampaian. Mungkin dalam pandangan Allah, saya bukan orang yang tepat untuk itu. Jadi kita terima saja, takdir ini,’’ katanya tertawa.
Kepergian Almarhum meninggalkan kesan bagi sejumlah koleganya. Salah satunya seperti yang dikemukakan oleh Direktur Utama PT Radar Sulteng Membangun– perusahaan yang menerbitkan Harian Radar Sulteng, H Kamil Badrun SE M.Si.
Kini perjalanan panjang sang birokrat ulung itu akhirnya harus berakhir di ujung takdir. Semoga darma baktimu kepada agama bangsa dan negara mendapat balasan setimpal dari-Nya. (***)
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar