Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Kamis, 06 Mei 2010

Masuk ke Politik setelah Sukses ‘’Berguru’’ pada Dua Tokoh

Kamis, 06 Mei 2010
Masuk ke Politik setelah Sukses ‘’Berguru’’ pada Dua Tokoh
Prihatin dengan Masalah Sampah dan Rendahnya Kualitas Pendidikan

PALU - Ikhsan Kalbi merasa sangat beruntung pernah dekat dengan dua sosok yang menurutnya sangat memberikan pengaruh besar dalam hidupnya. Keduanya mempunyai andil dalam membentuk mind set (pola pikir) nya terhadap masalah-masalah sosial kemasyarakat, masalah politik termasuk bagaimana melakukan komunikasi massa secara efektif hingga mengambil keputusan penting yang menyangkut kemaslahatan masyarakat banyak. Dua orang tersebut adalah Gubernur HB Paliudju dan Bupati Parimo – Longki Djanggola. ‘’Beliau berdua ini sangat memberikan andil dalam mengubah pandangan-pandangan saya dalam menyikapi berbagai persoalan sosial dan politik,’’ ujar Ikhsan yang ditemui di Sekretariat Tiger Fans Club (TFC) di Jalan Basuki Rahmat – Palu Selatan, Minggu (30/5) lalu.
Bersama Paliudju, Ikhsan menghabiskan waktunya selama 4 tahun dengan menjadi ajudan. Posisi ajudan yang bertugas mendampingi Gubernur dalam setiap kesempatan, membuat dirinya secara perlahan belajar soal banyak hal, khususnya yang terkait dengan pemerintahan dan komunikasi politik dengan dewan. Di era kepemimpinan Paliudju, awal 2000-an, ketika supremasi politik Orde Baru masih dominan, posisi pemerintah katanya memang masih cukup kuat termasuk terhadap parlemen. Ia mengalami dan menyaksikan langsung, bagaimana pola kepemimpinan yang dijalankan Paliudju dalam menjalankan roda pemerintahan.
Dirinya aku Ikhsan sangat beruntung karena bisa berada di dekat panggung kekuasaan di dua era yang berbeda. Bersama Gubernur Paliudju di era Orde Baru dan bersama Longki Djanggola di orde reformasi. Dua tipe kepemimpinan yang berbeda tipikal, dari generasi yang berbeda dalam ituasi politik nasional yang berbeda pula. Ini benar-benar membuat dirinya memetik pelajaran berharga. Paliudju seorang tentara dan basic intelijen dan Longki Djanggola basic birokrat yang juga besar dan matang di organisasi kepemudaan.
Dengan segala kelebihan dan kekurangan dari dua sosok ‘’gurunya’’ itu, ada satu hal yang bisa dipetik dari dua pemimpin tersebut. Bahwa dibutuhkan totalitas seorang pemimpin dalam mengabdikan seluruh potensi dirinya bahkan termasuk kepentingan keluarga untuk kemaslahan rakyat yang dipimpinnya. ‘’Berbekal pengetahuan-pengetahuan itulah saya merasa mantap maju dalam pencalonan pada Pemilu Legislatif 9 April 2009 lalu. Dan Alhamdulilah berhasil,’’ kata Ikhsan. Sebenarnya, pada Pemilu Legislatif 2004 sudah ada tawaran dari PBB untuk menjadi caleg, bahkan dukungan dari keluarga, teman-teman dan masyarakat di Palu Selatan sudah dikantongi . Namun saat itu katanya dirinya merasa belum siap, masih banyak hal yang perlu dibenahi. Selain itu Bupati Parimo Longki Djanggola menyarankan untuk tidak mencalonkan diri dulu. Pada Pemilu 2009, ia pun mantap maju bersamaan dengan tingginya dukungan kerabat yang sebenarnya sudah mengendap sejak lima tahun silam.

Lantas apa yang menjadin obsesinya menjadi caleg termasuk harapan warga di Palu Selatan yang menggantungkan harapannya pada mantan Polisi ini? Ikhsan mengungkapkan, di kota Palu khususnya Palu Selatan yang menjadi dapilnya, ada beberapa permasalahan mendasar yang sepertinya dari tahun ke tahun tidak bisa diselesaikan atau minimal ditekan pada titik terendah. Yaitu, persoalan sampah dan pendidikan. Padahal katanya, pemerintah terus melakukan pungutan retribusi sampah yang disediakan di setiap loket pembayaran listrik di kantor PLN. Namun pungutan retribusi sampah itu tidak berbanding lurus dengan keyataaan di lapangan. Sampah masih berserakan bahkan terkesan tidak bisa diatasi. Dalam konteks ini katanya tidak perlu menyalahkan pemerintah atau pihak-pihak tertentu. Namun demikian bukan berarti masalah itu tidak dicarikan solusinya. Mungkin perlu dilihat dimana masalahnya. Apakah armada angkutan sampah yang kurang memadai atau honor pekerja yang tidak optimal atau juga tenaga pengangkut sampah yang kurang. ‘’Saya yakin ada mata rantai yang putus dalam system ini sehingga permasalahan ini tidak pernah tuntas,’’ duganya.
Demikian juga masalah pendidikan. Ini juga tak kalah memprihatinkan. Fasilitas pendidikan dan sarana pendukung lainnya belum memadai untuk terselenggaranya tujuan pendidikan yang diharapkan.

Sadar kekuatan politiknya lemah karena PBB hanya satu kursi di DPRD Kota Palu, Ikhsan mengungkapkan, posisi minoritas dalam parlemen tidak boleh menjadi alat justifikasi (pembenar) untuk tidak berbuat sama sekali atau merasa kalah dalam memperjuangkan persoalan kerakyatan. ‘’Semua itu bisa dikomunikasikan dengan teman-teman anggota dewan yang lain. Saya kira kalau menyangkut kepentingan rakyat banyak, Insyah Allah akan didukung,’’ ujar Ikhsan yang mengaku belum tahu akan bergabung dengan fraksi mana. Selain itu soal penataan kawasan sudah saatnya mendapat perhatian lebih. Di Palu Selatan pertumbuhan kawasan berkembang pesat seiring dengan munculnya kawasan-kawasan ekonomi. Paling mencolok katanya adalah di Jalan I Gusti Ngurah Rai, seiring dengan hadirnya pasar modern menjadikan ruas jalan ini menjadi zona ekonomi baru. Ini perlu segera mendapat perhatian serius dari pemerintah sebelum akhirnya warga membangun pemukiman yang pada akhirnya membuat pemerintah kerepotan melakukan penataan. ‘’Saya tidak anti terhadap pedagang kecil, justru mereka perlu diberi ruang untuk tumbuh. Tapi supaya bagus perlu ditata. Supaya mereka bisa berjualan dengan aman tanpa dibayang-bayangi penggusuran,’’ katanya menyarankan.

Dalam pembicaraan yang juga didampingi dengan koleganya di komunitas pencinta motor yang tergabung dalam TFC Palu, Ikhsan juga mengaku telah mendapat tawaran dari sejumlah parpol untuk bergabung, untuk menghadapi Pemilu 2014. Ia mengaku sangat menghargai tawaran dari teman-temannya itu. Namun untuk saat ini dirinya belum berfikir soal proyeksi politik kedepan. Saat ini masih berkosentrasi untuk mengawal aspirasi masyarakat yang sudah memberikan kepercayaan menjadi wakilnya di dewan. Ia mengaku memahami tawaran posisi politik yang datang kepadanya. Pasalnya PBB sendiri dipastikan tidak akan menjadi peserta Pemilu 2014, karena mencapai parliament threshold (ambang batas). ‘’Tawaran itu memang cukup karena PBB kan tidak lolos PT. Tapi saya belum ada proyeksi politik untuk lima tahun kedepan. Saya konsentrasi dulu menjadi wakil rakyat. Dilantik saja belum. Soal itu nanti dipikirkan lagi,’’ pungkasnya. (yar)

0 komentar:

Posting Komentar