Mantan Guru Besar Trisakti Wafat
PALU – Dunia pendidikan di Sulawesi Tengah berduka. Salah satu putra terbaiknya Prof H Ishak Aref SE, meninggal malam tadi di kediamannya Jalan Suprapto – Palu Timur. Ishak Aref lahir di Desa Pangiang Sulbar 15 Desember 1923 dan meninggal 3 Mei 2010 pukul 20.00 wita, malam tadi. Almarhum meninggalkan seorang istri Hj Anawiah Andi Mairikaleleng dan 8 putra-putri dari 16 bersaudara, 43 cucu serta 20 cicit.
Menurut Mualim, kerabat almarhum yang ikut mendampingi hingga detik-detik terakhir, terakhir almarhum masuk rumah sakit pada 2009 lalu, selepas Idul Fitri. Menurut dokter, sakit yang diderita almarhum salah satunya adalah empedu yang tidak berfungsi. ‘’Tapi sejak saat itu beliau tidak pernah lagi masuk rumah sakit hingga meninggal pukul 08.00 tadi,’’ kata Mualim. Selama hidupnya, almarhum banyak menghabiskan hidupnya di bidang pendidikan dan keagamaan. Karir PNS nya ia habiskan di Universitas Tadulako dan menjadi Guru Besar Ekonomi hingga awal 90-an. Ia juga pernah tercatat sebagai dosen ekonomi di sejumlah universitas swasta, di antaranya adalah STIE PB Palu dan Unismuh Palu. Selepas di Untad, ia hijrah ke Jakarta tepatnya Universitas Trisakti dan menjadi Guru Besar di universitas swasta terkemuka itu. Sepulang dari pengabdiannya di Universitas Trisakti, ia masih sesekali mengisi khutbah jumat di Masjid Al Haq.
Sebagai intelektual, almarhum juga menulis buku yang salah satu bukunya berjudul Pengantar Managemen menjadi referensi wajib mahasiswa ekonomi. Selain berkarir sebagai dosen, pada 1971 almarhum mendirikan Yayasan Nurul Fallah. Yayasan inilah yang kemudian membidani lahirnya Pesantren Nurul Fallah di Bukit Kawatuna. Di mata sejumlah mantan mahasiswanya salah satunya Prof Dr Patta Tope, almarhum dikenal tegas dan tepat waktu. Sekalipun katanya mahasiswa yang hadir di ruang kuliah hanya satu orang, proses kuliah langsung berjalan dan yang terlambat tidak boleh masuk. ‘’Selama mengajar beliau membawakan mata kuliah pengantar managemen. Ini mata kuliah spesialisnya,’’ kata Patta Tope seusai melayat di rumah duka Jalan Suprapto malam tadi. Untuk lingkungan Untad kata Patta Tope sudah ada lima mantan mahasiswanya yang meraih gelar profesor.
Salah satu mahasiswa yang mempunyai kenangan manis dengan almarhum adalah wartawan Tempo Darlis Muhamad. Saat itu kenang Darlis, dirinya masih menjadi mahasiswa yang berencana menikah dengan gadis asal Palu drg Lutfiah Sahabuddin yang saat itu sedang menempuh kuliah di Fakultas Kedokteran Gigi Universitas Indonesia. ‘’Karena beliau orang Palu, jadi saya minta tolong beliau untuk melamar. Alhmadulilah diterima,’’ kata Darlis yang ikut melayat di rumah duka malam tadi.
Sejumlah mantan muridnya yang saat ini sudah menjabat di pemerintahan, datang melayat. Di antaranya Rahman Aziz Kepala Balitbangda Sulteng, Prof Dr Patta Tope Guru Besar Fakultas Ekonomi Untad dan sejumlah pejabat. Rencananya jenazah akan dikebumikan di kompleks Pesantren Kawatuna – Palu Selatan. (yar)
Selasa, 04 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar