Menandai Era Baru Telekomunikasi Pedesaan
Telepon Selular masuk di Sulawesi Tengah, kota Palu khususnya pada pertengahan era 90-an. Ketika itu, telepon selular masih menjadi barang mewah dan hanya bisa dijangkau oleh kalangan menengah keatas. Seiring dengan kehadiran sejumlah vendor kelas dunia, pasar telepon selular di Palu pun mulai menyesuaikan dengan pasar menengah kebawah. Harga pun semakin bersaing. Hingga akhir 90-an telepon selular menjadi begitu familiar mulai dari pekerja kantoran hingga pegawai rendahan, dari eksekutif papan atas hingga pedagang sayur dan buruh bangunan akrab dengan piranti telekomunikasi nirkabel ini.
LAPORAN: BABUL JANNAH SRIHAFSA
Kehadiran telekomunikasi nirkabel telah membawa revolusi peradaban yang cukup signifikan. Interaksi antarmanusia menjadi begitu mudah. Tak perlu lagi berkirim surat atau paling tidak ngantre di wartel untuk sekadar berbicara dengan keluarga jauh. Koneksi antar individu menjadi begitu mudah semudah membalik telapak tangan.
Menengok kebelakang, pada era 90-an ketika pola interaksi antar manusia masih sangat konvensional, gaya hidup juga masih sekadarnya. Seperti fashion maupun aktivitas lainnya masih dilakukan untuk sekadar memenuhi tuntutan dasar manusia.
Tatkala teknologi informasi masuk ke kota seperti Palu dan kota-kota lainnya di Sulawesi Tengah gaya hidup perlahan namun pasti mulai berubah. Kehadiran vendor kelas dunia dan operator selular dalam hal ini Telkomsel telah membawa perubahan gaya hidup yang cukup signifikan tidak saja di kota tetapi juga di pelosok-pelosok desa. Hal ini seiring dengan komitmen Telkomsel yang akan menjangkau seluruh ibukota kecamatan di Indonesia.
Untuk memotret seperti apa perubahan gaya hidup masyarakat, Media Alkhairaat melakukan reportase kepada sejumlah warga di perdesaan. Komentarnya beragam, tapi muaranya sama, mengakui bahwa keberadaan telepon selular dengan operatornya Telkomsel telah mengubah cara pandang dan gaya hidup dari primitif ke sedikit moderen. Paling tidak masuknya Telkomsel hingga ibukota kecamatan bahkan desa membuat masyarakat menjadi melek teknologi informasi.
Ade Kalapot warga Lamala Kapupaten Banggai mengaku, berkat masuknya Telkomsel di desanya, ia pun semakin intens berkomunikasi dengan anaknya yang kini berada di Manado. Sebelumnya, satu-satunya media komunikasi yang bisa diandalkan adalah melalui surat. Untuk mengirim surat, ia harus ke ibukota kecamatan yang jaraknya sembilan kilo dari desanya. Kini kendala itu bisa teratasi. ‘’Sekarang biar sementara kerja kita bisa kontak dengan anak-anak di Manado,’’ kata Ade yang mengaku mengantongi dua nomor, Simpati dan AS.
Di desanya yang dihuni tak kurang dari 200-an kepala keluarga, memang tak semua warganya menenteng Hand phone (HP). Sebagian remaja dan dewasa tampak akrab dengan piranti canggih ini. Seiring dengan itu, gaya hidup perlahan pun mulai berubah. Demam facebook yang saat ini lagi digandrungi remaja kota juga merambah di kalangan remaja desa. Untuk yang satu ini, Asti dan Umar serta tiga rekannya, harus meluangkan waktu tiga hari ke kota Luwuk mencari warnet untuk membuat akun sebelum masuk dalam komunitas jaringan global facebook. Melalui HP yang mereka miliki, remaja-remaja yang beberapa di antaranya harus putus sekolah karena keterbatasan ekonomi bisa berinteraksi dengan teman-temannya di luar dunia mereka. Kondisi ekonomi keluarga yang tidak menunjang membuat kelima remaja ini tidak bisa menggantungkan pemenuhan pulsanya pada orang tuanya. ‘’Kami kerja harian. Sehari bisa dapat Rp30 ribu hingga Rp35 ribu. Tidak semua kami belikan pulsa. Selain untuk kebutuhan sendiri juga untuk bantu papa,’’ sela Umar salah satu yang tertua di antara ABG ini. Bahkan pernah katanya, orderan kerja tidak ada. Sementara ada banyak status teman-teman di Kalimantan dan Manado yang harus dikomentari. Umar mengaku tak kehabisan akal. Dua HP digunakan bergantian. Uangnya berasal dari patungan ia dan temannya. ‘’Kita ba fesbuk sampe puas. Pulsa Rp50 ribu kita pake abis,’’ sela Asti.
Di desanya mereka menggunakan operator Telkomsel. Kebetulan katanya operator yang satu ini menawarkan fitur beragam dan terjangkau. ‘’Kami rata-rata punya dua nomor simpati dan AS. Sedangkan untuk Hand Phone mereka mengaku berburu HP second hasil dari tabungan beberapa bulan.
Ibu Hanimah salah satu warga desa mengatakan, sebelumnya para ABG di desanya setelah bekerja membantu orang tuanya, sisa waktunya dihabiskan dengan bermain gitar hingga larut malam. Kini kebiasaan nongkrong sambil main gitar itu sudah tergantikan dengan aktivitas facebook. Cara pandang mereka juga perlahan mulai berubah, tidak lagi kaku terhadap nilai-nilai yang berasal dari luar. (bersambung)
///////////
Sabtu, 08 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar