Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Selasa, 04 Mei 2010

Ketika Keluarga Ramai-ramai Menjadi Caleg ///

Selasa, 04 Mei 2010
Ketika Keluarga Ramai-ramai Menjadi Caleg ///
Kompetisi Politik Tidak Pengaruhi Kualitas Hubungan Kekerabatan

Tahun 2009 adalah tahun pertarungan kepentingan. Lawan-lawan politik bukan lagi orang lain yang mungkin masih asing dalam keseharian kita. Tetapi lawan politik yang dihadapi justru berasal dari dalam keluarga sendiri. Entah itu paman versus kemanakan, ayah versus anak atau menantu atau kakak versus adik. Kepentingan politik yang berbeda, memaksa mereka harus berhadap-hadapan.

LAPORAN: YARDIN HASAN

Garis-garis ketuaan terlihat jelas dari wajahnya. Intonasi suaranya juga terdengar lembut walau tidak bisa dikatakan lemah. ‘’Hari-hari saya, saya habiskan untuk memikirkan bagaimana mengembangkan Panti Asuhan Putri Aisyiah, mengembangkan Kompontren Khairunisa dan juga Partai Matahari Bangsa,’’ sahut Hj Khadijah Toana Bsc kepada Radar Sulteng yang bertandang di kediamannya di kompleks Panti Asuhan Putri Aisyiah Jalan Hang Tuah, Kamis (22/1) kemarin. Khadijah Toana atau yang di kalangan santrinya akrab disapa Bibi Ijah ini memang tercatat sebagai caleg Partai Matahari Bangsa (PMB) untuk DPRD Provinsi dari dapil Sulteng I – Kota Palu, sekaligus sebagai Ketua DPW PMB Sulteng. Dalam pemilu legislatif nanti, selain menghadapi caleg lain sebagai kompetitor memperebutkan kursi di DPRD Sulteng, Bibi Ijah juga harus menghadapi perlawanan dari saingan politiknya yang tak lain kemanakannya sendiri R Masita Toana S.Sos putri kandung almarhum H Rusdi Toana, yang diusung PAN. Bibi Ijah sendiri adalah adik kandung almarhum pendiri Universitas Muhammadiyah Palu itu.
Saat ditanya apakah sudah siap fight (melawan) kemanakannya sendiri, Bibi Ijah tampak tertawa lepas. ‘’Kalau bisa saya jangan pakai istilah itu (fight) kedengarannya kok seram sekali. Lagi pula sebagai caleg kita tidak perlu menempatkan seseorang sebagai lawan, apalagi sama Mimi (Masita,red) dia itu anak saya. Toh yang yang memilih kita adalah rakyat. Biarlah rakyat yang menentukan,’’ ujarnya diplomatis. Namun ia mengakui, dalam politik dukungan keluarga termasuk salah satu mesin politik yang bisa menjadi kendaraan untuk membantu hingga sampai ditujuan. Dengan adanya caleg dari kalangan keluarga sendiri yang ikut berkompetisi otomatis dukungan keluarga akan bias. ‘’Ini bisa saja terjadi. Tapi kan dukungan keluarga seberapa sih. Kita ini wakil rakyat bukan wakil keluarga,’’ katanya tertawa. Tampilnya Masita Toana dalam kancah politik praktis dinilainya sebagai sesuatu yang positif. Selain sebagai regenerasi juga sebagai pembelajaran. Ia mengakui awalnya ia sempat mengajak kemanakannya itu untuk bersama-sama dirinya membesarkan PMB. Namun menurutnya Mimi lebih sreg ke PAN, karena ada aspek historisnya. Dimana almarhum ayahnya adalah pendiri PAN di Sulteng. ‘’Mungkin karena ikatan emosional dan ada juga romantisme historis sehingga Mimi memilih bertahan di PAN,’’ duganya.
Dalam penggalangan massa alias kampanye juga tidak ada pembagian area kampanye. Misalnya karena PAN dan PMB punya akar kuat di Muhammadiyah lantas berbagi untuk menjadikan ormas keagamaan itu untuk kepentingan politik. ‘’Saya adalah orang yang besar dalam kultur Muhammadiyah. Sama sekali tidak ada niat untuk menjadikan Muhammadiyah untuk hal-hal semacam ini. Saya kira anak saya Mimi punya pendapat yang sama dengan saya,’’ ujarnya menambahkan.
Walau sedang terlibat dalam rivalitas politik, namun hubungan layaknya keluarga dekat tetap terjalin. Dirinya aku Bibi Ijah kerap menyambangi Masita Toana di kediamannya.
Pandangan yang kurang lebih sama juga dikemukakan oleh Masita Toana yang dicalonkan partainya untuk DPRD Provinsi dari dapil Kota Palu. Baginya tidak ada masalah walau realitas politik harus memaksa ia dan bibinya mengambil posisi berhadap-hadapan. Terlebih katanya motivasinya terjun dalam dunia politik praktis lebih karena untuk meneruskan jejak sang ayah dan dorongan keluarga khususnya suami dan adik bungsunya dari pada pilihan sendiri. ‘’Saya masih merasa terlalu muda untuk terjun dalam dunia politik. Tapi karena ada keinginan untuk meneruskan jejak ayah saya dan dorongan adik dan suami maka saya putuskan untuk maju,’’ rincinya.
Kebetulan katanya adik dan kakak-kakaknya tidak ada yang memilih politik praktis. Mereka memilih menjadi mengabdi di birokrasi dan dunia usaha. Inilah yang kemudian membuat dirinya semakin bulat terjun di kancah politik praktis. Menghadapi pesaing-pesaing khususnya bibinya sendiri, Mimi mengaku tidak terbebani. Karena sebagai caleg, kapasitas individu sang caleg adalah poin pertama yang akan dilihat oleh masyarakat. ‘’Jadi masyarakat akan menjatuhkan pilihannya berdasarkan pertimbangan kualitatif bukan karena dia anaknya si ini. Dari aspek ini maka munculnya caleg-caleg yang masih ada hubungan keluarga dekat tidak masalah ,’’ ulasnya panjang lebar.
Soal pecahnya konsentrasi dukungan keluarga juga dianggap Mimi bukan problem besar. Kebetulan kata ibu dengan tiga anak, dirinya tidak menjadikan keluarga sebagai basis politik. Semuanya tergantung masyarakat. Sebagai new comer (pendatang baru) dalam kancah politik, Mimi juga merasa tidak terbebani jika kelak tidak terpilih. ‘’Kalau toh tidak terpilih juga tidak apa-apa, mungkin waktunya belum tiba. Yang pasti saya telah menunaikan keinginan almarhum ayah saya. Bahwa harus ada salah satu anaknya yang meneruskan langkah bapak,’’ pungkasnya. (***)

0 komentar:

Posting Komentar