Kemandirian Bangsa Tidak Cukup dengan Pidato
PALU – Wapres Jusuf Kalla mengingatkan kepada ratusan pemuda Indonesia yang menghadiri pembukaan Rakernas I KNPI di Swiss BellHotel Palu-Sulawesi Tengah bahwa kemandirian bangsa harus diwujudkan dalam aksi nyata. Tidak cukup hanya dengan rapat dan pidato di atas mimbar. Wapres yang mengenakan lengan panjang putih dipadu dengan celana hitam, mengawali sambutannya soal pentingnya bangsa ini menjaga kemandirian. Tema ini dipilih selain menyesuaikan dengan tema Rakernas, Kalla ingin mengaitkannya dengan pelanggaran kedaulatan RI oleh kapal Diraja Malaysia yang terus melakukan provokasi di perairan Indonesia khususnya Ambalat. Ia mengatakan, sebagai bangsa yang besar, Indonesia harus tegas apalagi ini masalah pelanggaran serius. Tegas yang dimaksudkannya adanya adalah tidak boleh bimbang, ragu dan lambat dalam mengambil keputusan. ‘’Pemuda Indonesia tidak boleh ragu, lamban dan tidak tegas. Kalau kita selalu lambat maka kita akan ketinggalan padahal negara kita terus diremehkan,’’ tegas Jusuf Kalla yang disambut aplaus panjang para pejabat dan utusan KNPI se Indonesia. Menurut JK, jangan seperti martabak yang bisanya hanya dibanting kanan kiri. Kedaulatan dilanggar, harga diri sebagai bangsa dilecehkan namun hanya diam saja. Bangsa ini harus berbuat dan bertindak dengan caranya sendiri, tidak boleh disetir oleh kepentingan dari luar. Untuk menuju kearah itu, maka Indonesia perlu memperkuat sektor ekonomi. Sebenarnya hal ini mudah saja, karena Indonesia mempunyai kekayaan alam melimpah yang tidak ada di negara lain. Dengan memaksimalkan potensi sumber daya alam maka ekonomi masyarakat akan tumbuh. Dengan demikian kita bisa bermartabat baik secara ekonomi, budaya maupun politik. ‘’Kalau sudah seperti ini maka bangsa lain seperti Malaysia tidak akan berani mengganggu kita. Jadi ini memang tergantung dengan kepemimpinan,’’ tandas JK.
Selain itu ketergantungan dengan pihak asing juga perlu dikoreksi secara kritis. Buktinya Bandara Hasanuddin – Sulses dan beberapa infrastruktur di Sumatera dan Nusa Tenggara Barat dikerjakan oleh tenaga ahli dalam negeri. Hasilnya, lebih efektif, lebih murah dan cepat selesai. ‘’Hasilnya memang terlihat. Untuk melakukan itu tidak perlu rapat maraton atau teleconference dari luar negeri,’’ katanya menambahkan.
Sebagai bangsa yang besar, sudah saatnya bangsa ini menentukan nasibnya sendiri. Tidak boleh lagi bergantung pada kepentingan asing. Selama ini kekayaan alam digadaikan kepada bangsa asing. Kasus Papua menjadi pelajaran penting untuk pemerintah dan semua warga Indonesia, kekayaannya dikuras habis setelah itu ditinggalkan. Warga setempat justru hanya mendapat kerusakan lingkungan yang hebat. Memang kata dia, masih ada juga yang harus mendatangkan tenaga ahli dari luar. Salah satunya adalah soal mesin listrik bertenaga besar. Untuk yang satu ini, Indonesia harus menggunakan produksi luar negeri, karena tenaga ahli Indonesia belum mampu membuatnya. ‘’Namun untuk hal-hal yang remeh temah cukuplah tenaga kita saja tidak usah panggil tenaga asing,’’ ujar Kalla.
Kalla juga yakin pertumbuhan ekonomi bisa digenjot hingga 8 persen seperti janjinya sebelumnya. Bahkan bisa menyamai pertumbuhan India dan China. Caranya kata pewaris kerajaan bisnis dari sang ayah Haji Kalla ini, misalnya pada 2008 sudah 6,4 persen jadi tinggal donaikan 1,5 persen saja. Ini tidak sulit karena pada 2010 program diluncurkan seperti pengurangan subsidi listrik dan konversi elpiji mampu menghemat Rp150 triliun atau Rp200 triliun. Infrastruktur lain juga sudah jalan. (yar)
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar