Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Sabtu, 08 Mei 2010

Ir Mintarto Gunawan Melanglang Buana, Menebar Karya

Sabtu, 08 Mei 2010
MINTARTO Gunawan, Direktur PT Palu Indo Konstruksi Pratama (PIKP), tak menyangka jika dirinya bakal ‘’terdampar ‘’ di kota kecil Palu. Sempat melalanglang buana ke berbagai wilayah di Indonesia, mulai dari kota Kelahirannya, Blitar, Malang, Dumai, Batam, Pulau Galang di Tanjung Pinang ke Sulawesi Tengah tepatnya kota Palu pada 1988.
Bahkan di kota kecil ini, ia merasa enjoy, hingga tak terasa Mintarto sudah menghabiskan waktunya selama 21 tahun. Rentang waktu itu, dijalaninya dengan penuh dinamika.
Mintarto mengaku, walau mempunyai disiplin ilmu tekhnik sipil namun sama sekali tidak bercita-cita menjadi kontraktor. Namun pilihan untuk menjadi kontraktor bukan karena ‘’kecelakaan’’ nasib sehingga harus menjalani profesi sebagai kontraktor. ‘’Mungkin jalan-jalannya sudah seperti itu. Kadang-kadang realitas hidup memang tidak seperti apa yang kita cita-cita sejak awal,’’ imbuh Mintarto mengomentari soal profesinya kini. Masuk ke Palu pada 1988 melalui bendera PT Cahaya Lestari Sentosa (CLS) anak perusahaan BII. Di bawah bendera PT CLS, Mintarto membangun sejumlah gedung prestisius di Sulawesi Tengah, di antaranya Stadion Gawalise, Palu Plaza, kantor Gubernur dan kantor PMI Sulawesi Tengah.
Salah satu proyek kebanggaannya adalah membangun kantor Cabang Honda Balindo dan Gedung Graha Pena Radar Sulteng. Kebanggaannya pada dua proyek tersebut, bukan semata-mata karena bangunan gedungnya yang mewah. Tetapi dua proyek itu merupakan sebagai simbol sebuah daerah yang terus bergerak maju. Honda Balindo sebagai simbol ekonomi dan Graha Pena Radar Sulteng sebagai simbol demokrasi. ‘’Ini adalah dua pilar yang sangat menentukan hitam putihnya perjalanan sebuah daerah. ‘’Saya bangga karena turut andil di dua bidang ini, walaupun sekadar membangun sarananya,’’ kata Mintarto yang mengaku menolak ajakan perusahaannya untuk berkarir di Jakarta.

Soal perjalanan hidupnya yang sempat lalu lalang nyaris ke seantero negeri, menurut Mintarto, adalah sebuah perjalanan hidup yang harus dilaluinya. ‘’Mungkin tanpa itu, saya tidak akan sampai kesini,’’ kisahnya. Kini walaupun merasa mapan dengan pekerjaan yang dijalaninya sekarang, Mintarto mengaku masih mempunyai obsesi yang belum kesampaian. Obsesi itu katanya tidak muluk-muluk. Melalui profesi yang dilakoninya saat ini ia ingin berbuat sesuatu yang bermanfaat untuk orang banyak. Ia merasa apa yang dilakukannya saat ini belum seberapa. ‘’Kalau diberikan umur yang panjang dan kesehatan, saya ingin berbuat lebih, tidak sekadar untuk saya dan keluarga tetapi juga untuk orang banyak,’’ ujarnya. (yar)

0 komentar:

Posting Komentar