Demokrat Mulai Rebutan Pimpinan Dewan
PALU – Suasana tidak harmonis mulai menyeruak di internal Partai Demokrat. Ini dipicu oleh perdebatan siapa yang paling berhak dicalonkan menjadi unsur pimpinan dewan. Mengemukanya wacana tersebut tidak terlepas dari mulai disebut-sebutnya nama Mustar Labolo dan Nawawi Sang Kilat sebagai kandidat pimpinan dewan.
Sekretaris Partai Demokrat Henri Kawulur memberikan reaksi keras terhadap mencuatnya wacana tersebut. Terlebih kata Henri, ukuran yang digunakan adalah senioritas dalam partai dan kapabilitas. Menurut Henri, saat ini mulai ada oknum-oknum tertentu yang mencoba melakukan manuver membentuk opini publik bahwa yang berhak dan paling layak menjadi pimpinan dewan adalah oknum-oknum itu, yang mengklaim dirinya senior dan kapabel. ‘’Memangnya yang dimaksud senior itu yang bagaimana,’’ sergahnya.
Mestinya kata caleg dari dapil Poso – Touna dan Morowali ini, ukuran senior tidak bisa dilihat dari aspek jabatannya di struktur partai. Padahal semua orang juga tahu keterlibatan mereka-mereka itu dalam partai baru seumur jagung. ‘’Jadi janganlah ada klaim-klaim seperti itu,’’ katanya dengan nada tinggi.
Masih menurut Henri, di Partai Demokrat jabatan senior hanya ada dua, ketua dan sekretaris. Bahkan dirinya sebagai sekretaris DPD Partai Demokrat Sulteng sekarang ini juga senior dari segi pengabdian di partai. Ia mengatakan, dirinya dan beberapa teman-teman terdahulu adalah peletak dasar pondasi Partai Demokrat di Sulteng. ‘’Jika demikian saya senior di struktur partai maupun senior dari sisi pengabdian di partai,’’ ujarnya dengan nada tinggi.
Lalu soal kapabilitas, Henri mengatakan, dirinya adalah lulusan terbaik tingkat nasional dalam sebuah pelatihan yang digelar Pimpinan Pusat Partai Demokrat. Berarti Mustard dan Nawawi tidak termasuk senior? ‘’Sudahlah biar yang menilai,’’ tegasnya.
Mustar Labolo yang dikonfirmasi terpisah terkait ‘’serangan’’ telak dari koleganya itu mengaku saat dirinya sama sekali tidak memikirkan akan mendapatkan jabatan apa di dewan kelak. Justru yang ada dibenaknya saat ini imbuh Mustar setelah hampir dipastikan lolos, adalah bagaimana menjaga kepercayaan rakyat yang telah memilih dirinya. ‘’Saya sama sekali tidak pernah berpikir bakal mendapat jabatan apa pun. Semua saya serahkan pada pimpinan partai. Saya justru sedang berpikir bagaimana menjaga konsistensi diri saya agar mampu memberikan yang terbaik buat rakyat yang telah memberikan kepercayaan kepada kita,’’ kata Mustar.
Menurut Mustar, jangankan berambisi, berangan-angan untuk mendapat jabatan seperti itu saja belum ada. Dirinya aku Mustar yang memperoleh 11.467 dari 30.957 suara Partai Demokrat di dapil Sulteng V ini, baru sebatas bersyukur karena mendapat kepercayaan yang tinggi dari masyarakat. ‘’Saya kira di sinilah tantangannya bagaimana bisa menjaga amanah rakyat yang dibebankan kepada kita, bukan berebut kedudukan,’’ ujar Mustar.
Saat ditanya peluangnya ke pimpinan dewan, Mustar mengaku dirinya sama sekali tidak pernah memosisikan diri sebagai figure yang layak dipilih. Sebagai partai besar, Demokrat katanya mempunyai mekanisme baku untuk membahas jabatan-jabatan seperti itu. Tidak ditentukan sekadar pembicaraan di warung kopi. ‘’Ibarat orang order krans bunga, dipesan langsung jadi,’’ ujar Mustar lagi.
‘’Saya kira Pak Henri dengan kemampuan dan pengalamannya juga mampu, banyak koq yang bisa,’’ katanya tersenyum.
Namun ia mengingatkan, para kader-kader Demokrat untuk tidak cepat-cepat mengedepankan politik kepentingan. Prosesnya juga masih lama, KPU juga belum memutuskan siapa-siapa yang terpilih. Ini menyedihkan karena kurang pas dengan pesan Ketua Dewan Penasehat Partai Demokrat Susilo Bambang Yudhoyono, untuk selalu mengedepankan kepentingan rakyat di atas kepentingan golongan. Ini juga agak memalukan karena rakyat akan menilai bahwa caleg-caleg itu hanya memperjuangkan kepentingan partainya, hanya sibuk bagi-bagi kekuasaan dan tidak pernah memikirkan kepentingan rakyat. (yar)
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar