Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Rabu, 05 Mei 2010

Catatan Perjalanan Gubernur HB Paliudju ke Kabupaten Tojo Una-Una///

Rabu, 05 Mei 2010
f-yardin
AIR BERSIH – Gubernur Paliudju membuka kran air menandai masuknya air bersih di Desa Kabalutan Minggu (15/2)

Desa Kabalutan Setelah 68 tahun Tidak Menikmati Air Bersih

Suasana riang terlihat di wajah ratusan warga Desa Kabalutan Kecamatan Walea Kepulauan Kabupaten Tojo Una Una, sesaat setelah Gubernur Sulawesi Tengah HB Paliudju melakukan gunting pita menandai beroperasinya sebuah penampungan air yang terletak di belakang Balai Desa Kabalutan. Proses pengguntingan pita itu juga menandai berakhirnya usaha warga yang terpaksa mengayuh perahu demi untuk mendapatkan air.


LAPORAN: YARDIN HASAN dan MOH TAUFIK – TOGEAN
Gugusan pulau Togean yang terletak di Teluk Tomini, adalah salah satu kawasan wisata bahari yang dalam beberapa tahun terakhir ini selalu menjadi rujukan wisatawan mancanegara khususnya Italia, Australia dan Jepang.
Disamping namanya yang sudah menginternasional itu, kawasan ini juga menyimpan masalah serius, yakni belum tersedianya fasilitas air bersih. Maklum untuk menghadirkan air bersih yang di kawasan yang dikelilingi laut ini bukan perkara gampang. Dana yang besar serta system perpipaan bawah laut termasuk salah satu kendala yang harus ditaklukan. Selain itu, mencari sumber mata air dengan debit yang cukup untuk dialirkan ke pipa-pipa adalah kendala lain yang menghadang.
Namun, kini masalah yang sudah melilit kawasan ini sejak 68 tahun silam sudah dapat diatasi, setidaknya di beberapa desa di Kecamatan Walea Kepulauan termasuk Desa Kabalutan. Ini setelah pemerintah pusat bersama pemerintah provinsi dan pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una turun tangan. Pemerintah Kabupaten Tojo Una-Una di bawah kepemimpinan Drs Damsik Ladjalani memang memberikan prioritas lebih terhadap pembangunan di kawasan kepulauan ini. Menggandeng CV Persada Nusantara, kontraktor yang mengerjakan proyek tersebut fasilitas ini akhirnya bisa dinikmati hanya dalam empat bulan setelah teken kontrak. Kepala Desa Kabalutan Mahmud Siparante, mengaku ia tidak dapat menyembunyikan kegembiraannya ketika mengetahui rencana pemerintah untuk membangun proyek senilai Rp1,6 miliar lebih, yang merupakan sharing antara pemerintah pusat sebesar Rp220 juta, pemerintah provinsi 480 juta dan Pemkab Touna Rp881 juta lebih.
Sebelum adanya fasilitas air bersih, untuk mendapatkan air, warga Kabalautan harus mengayuh perahu hingga tiga kilometer kemudian berjalan sekitar satu kilometer lagi untuk tiba di sumber air. Bahkan kalau pada musim angin barat (sebutan untuk musim ombak) warga harus mempertaruhkan nyawa demi mendapatkan satu-dua jerigen air. Aris, warga Desa Kabalutan menguraikan masa-masa pahit saat pertama kali menginjakan kakinya di desa yang dihuni 527 kepala keluarga dan 2.069 kepala keluarga itu. Aris sebelumnya adalah warga Ampana yang hijrah ke wilayah kepulauan pada 2005. Di Desa Kabalutan ia mendirikan usaha kios.
Saat menginjakan kaki di Desa Kabalutan dirinya sempat menitikan air mata, karena susahnya memperoleh air bersih untuk memenuhi kebutuhan keluarganya. ‘’Saat itu lagi musim barat. Tiba-tiba ombak besar disertai angin kencang menenggalamkan perahu dan jergen. Saya berenang ke pinggir pantai ternyata jergen saya sudah di bawah ombak ke pantai sebelah,’’ kenang Aris.
Kehadiran proyek air bersih tutur Aris membawa harapan baru bagi warga di desanya. ‘’Setidaknya beban warga kini sedikit berkurang,’’ katanya singkat.
Amirullah, Direktur CV Persada Nusantara, rekanan yang mengerjakan proyek tersebut mengungkapkan, untuk menjangkau sumber mata air, pihaknya membutuhkan sekitar 10 ribu meter lebih pipa khusus yang dibenamkan di dasar laut dengan kedalaman antara 10 – 60 meter di dasar laut. Kapasitas pipa bisa mengalirkan 10 liter perdetik yang dialirkan ke bak penampungan di Desa Kabalutan. Selanjutnya dari bak penampungan didistribusikan di enam hidran umum yang tersebar di permukiman penduduk.
Tingginya investasi dan risiko dalam proyek ini, membuat Gubernur Paliudju merasa perlu untuk mengingatkan, agar warga menjaga fasilitas umum tersebut. Tidak hanya fasilitas yang terdapat di pemukiman penduduk tetapi kesinambungan pasokan air juga harus dijaga. Salah satunya adalah dengan menjaga kelestarian hutan di wilayah sumber mata air.
Komitmen untuk menjaga fasilitas umum tersebut, disanggupi oleh warga setempat. Kepala Desa Kabalutan, Mahmud Siparante, mengungkapkan salah satunya yang dilakukan warga adalah mengawasi lalulintas kapal di wilayah dimana terdapat bentangan pipa, agar tidak berlabuh dan melego jangkar disembarang tempat. ‘’Kami bersyukur ada perhatian pemerintah, sehingga menjadi kewajiban bagi kami untuk menjaga fasilitas ini,’’ katanya singkat. Bupati Tojo Una Una Damsik Ladjalani, setelah Desa Kabalutan menyusul lagi desa-desa lainnya akan mendapatkan fasilitas serupa. Ini semua kata Damsik tidak terlepas dari komitmen pemerintah untuk meningkatkan fasilitas umum di wilayah kepulauan. ‘’Jangan sampai ada anggapan pemerintah berat sebelah terhadap warganya. Tidak ada perbedaan baik yang di darat maupun di kepulauan semua mendapat perhatian yang sama. Tentunya berdasarkan karakteristik daerah masing-masing,’’ demikian Damsik. (***)

0 komentar:

Posting Komentar