Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Kamis, 06 Mei 2010

Caleg Rentan Stress

Kamis, 06 Mei 2010
Caleg Rentan Terkena Stress
PALU – Ongkos mahal menuju gedung parlemen menyebabkan para caleg harus memutar otak mencari objekan alternative untuk membiayai kampanye yang menyita anggaran tidak sedikit. Akibatnya, banyak di antara caleg yang menggadaikan rumah, mobil atau perhiasan sang istri atau menjual tanah warisan demi memenuhi ambisi menuju kursi parlemen. Sayangnya dorongan yang begitu kuat untuk menjadi anggota legislatif tidak dibarengi dengan sikap mau menerima realitas politik jika sewaktu-waktu ambisinya menjadi wakil rakyat gagal terpenuhi. Kondisi inilah yang memicu seorang caleg rentan terserang stress yang kemudian diikuti dengan penyakit lainnya, seperti tekanan darah naik, hipertensi dan aneka penyakit bawaan lainnya. dr Ellen Mentang DHSM, mengatakan hal itu sebagai dampak dari adanya hasrat yang tidak bisa terpenuhi. Menurut caleg DPR RI dari Partai Patriot ini, caleg-caleg memang sangat rentan terserang penyakit ini. Apa sebab. Kata Ellen, dalam diri seseorang terdapat pikiran, perasaan dan kehendak. Tiga komponen ini katanya harus berjalan seiring. Jika salah satunya timpang maka akan ada yang terganggu. Ia pun berbagi resep kepada sesama caleg, untuk terhindar dari penyakit ini. Salah satunya yang harus disiapkan katanya adalah menata mental. Mental harus stabil. Bagi caleg-caleg yang sudah telanjur menjual harta bendanya ia menyarankan agar sedini mungkin menyiapkan mental untuk bisa menerima kekalahan. ‘’Kalau dipikiran kita seolah-olah sudah berhasil, lalu kemudian tidak berhasil maka bisa dipastikan orang tersebut akan kolaps,’’ katanya tertawa. Sebagai seorang caleg dengan latarbekakang caleg, pihaknya aku Ellen tidak merasa khawatir akan terserang stress, apalagi sampai masuk rumah sakit jiwa. Kuncinya katanya adalah berusaha menyeimbangkan antara harapan dan kenyataan. Caleg PAN Suprapto Dg Situru mengaku tidak merasa khawatir akan terserang stress jika pada 9 April nanti dirinya tidak terpilih sebagai wakil rakyat dari dapil Poso, Touna dan Morowali. Walaupun sudah mengeluarkan uang sekitar Rp600 juta sejak 2007 – 2009 untuk kepentingan pencitraan, namun ia mengaku punya kiat agar terhindar dari penyakit yang identik menyerang masyarakat kota itu. ‘’Kita harus punya sandaran vertikal (Allah, red) yang kuat agar terhindar dari stress karena memikirkan banyak harta melayang untuk kepentingan kampanye,’’ katanya. Memang kata dia, di tengah himpitan ekonomi yang sulit ditambah dengan tertutupnya peluang untuk mendapatkan sesuatu yang diharapkan, akan membuat orang mudah goyah dan kehilangan kontrol. Namun katanya ini bisa diatasi dengan mudah dengan senantiasa mendekatkan diri pada Allah SWT. Ia mengatakan, dirinya sudah sangat siap menghadapi kemungkinan terburuk termasuk tidak terpilih. Jika itu yang terjadi katanya, maka uang yang selama ini digunakan untuk kepentingan kampanye anggap saja sebagai amal sedekah kepada masyarakat yang kurang beruntung. Namun jika kelak terpilih, dirinya aku Suprapto tidak lantas menjadikan kesempatan itu untuk mengembalikan dana yang sudah terpakai ke kantongnya. ‘’Insya Allah niat saya tidak sejauh itu. Kita berbakti untuk rakyat karena motivasi ibadah bukan untuk mengejar statua sosial apalagi untuk mengembalikan dana kampanye,’’ demikian Suprapto.
Sedangkan Caleg PDIP Matindas J Rumambi mengaku, dirinya tidak merasa dibayang-bayangi stress jika seandainya dirinya tidak terpilih. ‘’Kata orang, setelah Pemilu nanti akan banyak Caleg yang tendang kaleng, tidak bisa membedakan lampu merah dan lampu hijau atau menggunakan lampu petromak di siang bolong. Saya rasa tidak sejauh itu,’’ katanya sembari tertawa. Berbeda jika seorang caleg menjadikan motivasi sebagai wakil rakyat sebagai mata pencaharian. ‘’Yang seperti itu pasti stress. Karena kalau keinginannya tidak terpenuhi dia akan kehilangan keseimbangan,’’ kata Janus yang mengaku sudah menghabiskan sekitar Rp150 juta untuk cost politiknya. Baginya, menjadi wakil rakyat adalah sebuah pengabdian, bukan sebuah profesi atau pekerjaan tempat menggantungkan harapan hidup. ‘’Kalau motivasi seperti ini yang dibangun dipastikan kita tidak terkena stress,’’ katanya menambahkan. Kekhawatiran adanya caleg yang mengalami goncangan jiwa karena tidak berhasil duduk di gedung dewan, menurut Janus sebagai wacana yang agak berlebihan. Contohnya katanya, Pemilu 2004, tidak ada caleg yang terpaksa harus masuk rumah sakit karena terkena stress berat. (yar)

0 komentar:

Posting Komentar