Tasriana Learning by Doing, Yuliani Bekali Diri dengan Legal Drafting
Zaman kesetaraan gender mulai berbuah di politik. Itu terlihat dari tingginya partisipasi kalangan perempuan. Dari kalangan ibu rumah tangga mauoun perempuan pensiunan hingga wanita karir, ramai-ramai menjadi caleg.
Sejauhmana persiapan mereka menjadi anggota dewan?
LAPORAN: YARDIN HASAN
Berjuang menjadi wakil rakyat memberikan pengalaman berharga bagi Tasriana SE, caleg PPP di dapil Palu II. Dia harus menghadapi langsung beragam masalah dan tuntutan masyarakat yang kebanyakan sangat pragmatis.
"Akhir-akhir ini, saya makin sibuk melayani masyarakat. Ada banyak hal yang harus saya lakukan. Ya begitulah konsekwensinya jika ingin memilih menjadi caleg,’’ kata Tasriana yang ditemui di kediamannya di Jalan Monginsidi (4/2) kemarin.
Meski begitu, Tasriana menyatakan tidak kaget. Walau tercatat sebagai new comer (pendatang baru), dia memang suka dan menikmati dinamika politik.
Sejumlah keluarganya adalah politisi di PPP, dan atas dorongan suami dan keluarga terdekatnya, Tasriana mengaku akhirnya melabuhkan hatinya di partai berlambang Ka,bah itu.
Sebagai ibu rumah tangga, yang juga mengendalikan beberapa usaha seperti konveksi, developer dan perkayuan, Tasriana yakin bisa berperan sebagai penyambung lidah masyarakat di parlemen kelak. Lantas apa saja persiapannya untuk menjadi wakil rakyat, terkait dengan tiga tugas pokok anggota DPRD di bidang kontrol/pengawasan, budgeting (anggaran) serta regulasi.
Ibu muda dengan dua putra ini mengaku tidak ada persiapan khusus termasuk untuk membekali diri dengan ilmu-ilmu yang berkaitan dengan tugas-tugas pokok anggota dewan. ‘’Sejauh ini belum ada persiapan khusus soal itu. Kan bisa learning by doing. Kalau sudah duduk kan bisa menyesuaikan,’’ imbuh lulusan Fakultas Ekonomi Universitas Muslimin Indonesia (UMI) Makassar-Sulsel ini. Selain itu karena kesibukannya menggeluti bisnis, ia pun tidak menyempatkan diri lagi terjun dalam aktivitas sosial kemasyarakatan. ‘’Tapi tidak perlu ragu, insya Allah kalau terpilih tugas-tugas sebagai wakil rakyat, insya Allah bisa dijalankan dengan baik,’’ yakinnya.
Berbeda dengan Tasriana, Yuliani Alkaf (33) mengaku, sebagai caleg ia terus membekali dirinya dengan berbagai ilmu pengetahuan. Alhasil berbagai literatur pun dilahapnya. Terlebih yang berkaitan dengan sosial kemasyarakatan, pemerintahan hingga tata cara pembuatan sebuah perda alias legal drafting. Olehnya jika kelak terpilih sebagai wakil perempuan dirinya ingin menghapus stigma bahwa kehadiran perempuan dalam berbagai forum termasuk forujm dewan hanya sebagai pemanis. ‘’Insya Allah perempuan bukan lagi sekadar gincu atau sekadar pemanis ruangan. Tapi yang kita hadirkan adalah kualitas bukan sekadar memenuhi rasio kecukupan caleg perempuan di DPRD,’’ tandas Ketua PDIP Palu Timur itu, yang sehari-hari disibukan sebagai Direktur PT Wyna Travel ini.
Kebetulan kata dia, standarisasi caleg perempuan di PDIP tidak semata-mata didasarkan pada pertimbangan sekadar memenuhi kuota 30 persen, tapi tetap mengedepankan pertimbangan kualitatif. Tak heran jika di mejanya bertumpuk sejumlah undang-undang kepemiluan. ‘’iya lagi baca-baca,’’ katanya singkat.
New comer lainnya adalah Feibe Corazon Mandagie (23). Putri pasangan Jhoni Mandagie dan Victoria Mandagie ini, di kalangan sejawatnya dianggap mengambil langkah berani. Dalam usianya yang masih belia, Feibe sudah menceburkan dirinya ke dunia politik praktis. ‘’Kebetulan rumah saya pernah menjadi Sekretariat PDS Kota Palu. Bapak saya khan juga pendiri PDS di Kota Palu. Dari situ saya tertarik. Awalnya hanya simpatisan, lalu menjadi pengurus dan sekarang menjadi caleg,’’ cerocos Feibe sambil tersenyum.
Apakah ini merupakan pilihan atau karena ‘’dipaksa’’ oleh lingkungan? Ditanya demikian, Feibe yang bekerja di salah satu dealer mobil ini langsung menggeleng. Kebetulan PDS walau bukan partai agama namun komitmennya terhadap nilai-nilai kemanusiaan cukup kuat. ‘’Ini juga yang membuat saya jatuh hati dengan partai ini,’’ ujar dara berkacamata minus ini.
Walau umur belia namun pemikiran-pemikirannya sangat visioner. Jika kelak terpilih menjadi anggota dewan dari dapil Palu Selatan, Feibe mengaku akan memperjuangkan aspirasi konstituennya di bilangan Maesa yang memimpikan berdirinya Kelurahan Maesa, terpisah dari kelurahan induk Lolu Selatan. Menurutnya, ini agenda yang harus diperjuangkan. Bahkan ia menitip pesan kepada caleg-caleg dari dapil Palu Selatan untuk memperjuangkan aspirasi yang sudah lama mengendap itu.
Sebagai caleg pendatang baru, apa saja yang sudah disiapkan jika kelak terpilih menjadi wakil rakyat. Sebelum menjawab, Febie tertegun sesaat.
Konsekwensi sebagai wakil rakyat adalah mengemban amanat rakyat dan itu harus dilakukan dan diperjuangkan. Secara tegas ia pun mengatakan, jika kelak terpilih kehadirannya di gedung dewan tidak dianggap sebagai pemanis ruangan. Artinya datang dengan dandanan terbaik lalu duduk diam, tapi tidak bisa berbuat apa-apa. Walaupun mengaku masih awam dengan tugas-tugas dewan, dirinya tetap yakin bisa mengemban pekerjaan mulia itu.
Senada dengan Tasriyana, soal tugas-tugas sebagai anggota dewan katanya bisa learning by doing. ‘’Kan bisa menyesuaikan sambil belajar. Kan di sana ada komisi-komisinya dari situ kan bisa diketahui fokus kerjanya kemana,’’ katanya diplomatis.
Soal umurnya yang masih ‘’hijau’’ di kancah politik, menurut Febie pilihan politiknya itu bukan sekadar latah, atau diplot partainya sekadar memenuhi kuota perempuan. Pilihannya tersebut katanya merupakan bagian dari proses pembelajaran diri. Karenanya, walaupun dengan umur yang masih belia, ia mengaku bisa enjoy merasakan dunia politik yang sangat dinamis.(***)
Rabu, 05 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar