Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Rabu, 05 Mei 2010

Adu Strategi Caleg Menuju Parlemen

Rabu, 05 Mei 2010
Perkuat Jaringan Keluarga dan Manfaatkan Hubungan Pertemanan

PALU – Berbagai upaya dilakukan oleh para caleg untuk membuat dirinya dikenal oleh masyarakat pemilih. Selain memanfaatkan media baliho, kalender untuk mensosialisasikan diri, mereka juga membentuk jejaring sosial untuk kepentingan kampanye mereka.
Berbeda dengan Pemilu 2004, umumnya caleg-caleg tetap menggunakan partai politik sebagai mesin politiknya. Namunpada pemilu 2009 yang menggunakan system suara terbanyak, peran partai pengusung dianggap kurang signifikan walau tidak bisa dianggap tidak ada sama sekali. Partai politik tetap digunakan sebagai media kampanye tetapi porsinya tidak signifikan, ketimbang mesin politik yang dibangun sendiri. Umumnya mesin politik hasil kreativitas sang caleg mengandalkan jaringan keluarga dan hubungan emosional pertemanan.
Lucy Shanti, caleg Partai Demokrat untuk DPRD Sulteng mengemukakan, sebagai kader partai dirinya tidak begitu saja mengabaikan partai, walau keberadaan parpol sebagai mesin politik tidak seefektif sebagaimana pemilu 2004. Menurutnya, dalam setiap pertemuan dengan konstituen maupun baliho ia tetap menyertakan partai Demokrat maupun Susilo Bambang Yudhoyono sebagai ikon Partai Demokrat. Namun demikian, Lucy merasa perlu untuk menambah mesin politik selain partai yang dengan membentuk tim sukses sendiri. Mayoritas melibatkan jaringan keluarga dan hubungan pertemanan maupun dengan koleganya selama ini. ‘’Kebetulan sebelum menjadi caleg saya banyak terlibat dalam berbagai komunitas lintas agama, lintas ras dan suku. Setidaknya menjadi modal sosial saya untuk menghadapi pemilu 2009,’’ kata Lucy.
Caleg lainnya yang juga memanfaatkan jaringan keluarga dan pertemanan adalah Erman Lakuana Caleg Golkar Kota Palu dari dapil Palu Utara-Timur.
Selain memaksimalkan jaringan konvensional tersebut, Erman mengaku tetap mengefektikan kendaraan partai sebagai salah satu mesin politik. Golkar katanya mempunyai akar yang kuat di masyarakat tradisional maupun masyarakat modern. Sehingga walaupun system pemilu sudah berbeda, namun Partai Golkar tetap relevan sebagai kendaraan politik untuk mendulang suara. Ia mengaku memanfaatkan salah satu organisasi pendukung Partai Golkar dalam hal ini AMPI sebagai media untuk menjangkau pemilih pemula. ‘’Di AMPI banyak bercokol anak-anak muda. Melalui AMPI bisa menjadi sarana untuk menjelaskan visi misi kita sebagai caleg,’’ beber Wakil Sekretaris Golkar Kota Palu ini. Selain dari jalur partai ia juga membentuk mesin politik sendiri, yang diberi nama Stasiun Pemenangan Erman Lakuana, yang didirikan disetiap kelurahan yang ada di Kecamatan Palu Utara dan Timur. Ia mengaku tidak tertarik mengangkat isu kampanye berbasis kesukuan. Memang kata dia ada beberapa caleg yang memainkan isu primordialisme untuk kepentingan politiknya. Erman menilai, mengeksploitasi sentimen primordial untuk memperkuat basis politik sang caleg merupakan bukti kegagalan caleg itu sendiri dalam menegakan politik berbasis kebangsaan. ‘’Golkar sebagai partai terbuka, tidak memberikan ruang tumbuhnya bibit primordialisme. Yang ada adalah kebersamaan semua warga bangsa,’’ ujarnya diplomatis.
Kandidat lainnya yang juga menjadikan jaringan keluarga dan pertemanan sebagai jejaring massa adalah Yuliana Alkaf. Caleg PDIP dari dapil Palu Utara – Timur ini mengaku bukannya tidak mempercayai partai sebagai mesin pendulang suara yang efektif. Namun menurut Yuliana, dengan system pemilu yang baru ini, pihaknya memang mencoba berbagai sarana sebagai upaya menembus gedung parlemen sepanjang cara yang ditempuh itu masih bisa diterima secara hukum maupun moral. Salah satunya memanfaatkan hubungan emosional keluarga dan pertemanan. ‘’Di dua kelompok ini akan menjadi ujian bagi sang caleg. Kalau di kalangan keluarga dan teman saja, sudah tidak laku lantas bagaimana caleg itu bisa diterima dalam skala yang lebih luas,’’ tanyanya.

Selama ini katanya dua kelompok ini memang sangat membantu dirinya sehingga popularitas sebagai caleg tetap terjaga. Dalam saat-saat tertentu katanya kadang ia sendiri yang turun untuk bertemu dengan konstituen. Namun dalam banyak hal keluarga dan teman juga memberikan andil yang cukup besar. ‘’Biasanya mereka yang memobilisasi massa, setelah itu saya tinggal datang untuk bersosialisasi,’’ ungkapnya. (YAR)

Yuliansi Alkaf jaringan yang ada sudah ada ini menjadi investasi social yang kelak menjadi modal social dalam pencalegan ini.
Keluarga dan teman, mesin politik partai. Kadang inisiatif sendiri, kadang teman yang memfasilitasi



Luci, saat setiap bertemu kita coba berikan pendidikan politik, untuk tidak memberikan uang tunai pada rakyat dengan maksud untuk mendapatkan suara. Ini juga tidak bisa. Berarti kalau terpilih maka anda tidak bisa menuntut apa-apa dari caleg itu karena suara anda sudah dibeli. Tapi memang ada cost poliitik ini konteksnya berbeda dengan money politik. Kemudian saya sebelum menjadi caleg banyak berinteraksi dengan masyarakat terlebih saatv menjadi caleg frekkwensi interaksi itu semakin meningkat. Biasanya ditanya apa yang anda bisa berikan jika saya memilih anda. Saya berikan pemahaman bahwa di DPRD lembaganya kolegial. Semua keputusan diambil dengan kolektivitas. Tapi tentunya saya berikan pemahaman untuk mengawal semua aspirasi konstituen dengan sungguh-sungguh.(***)

0 komentar:

Posting Komentar