f-dok
Adhyaksa Dault
Adhyaksa Dault, Menteri Tolare Kebanggaan Daerah
PALU - Menteri Tolare julukannya. 45 tahun yang lalu, anak emas dan kebanggan propinsi Sulawesi Tengah ini dilahirkan di Donggala, tanpa merasa malu dan kerdil menyatakan diri sebagai anak yang lahir dari rahim Tanah-Kaili, satu-satunya putra daerah (To-Kaili) yang menjadi menteri memasuki 64 tahun Indonesia Merdeka. Diusia 44 tahun propinsi Sulawesi Tengah terbentuk.
Melewati masa kecil di Palu kampung halaman yang memberikan beliau spirit untuk tetap berkarya dan menyuarakan kepentingan rakyat jelata. Terlahir dari keluarga sederhana. Putra Sulung dari Enam bersaudara pasangan Suami Istri HM. Dault Khan (Mandar/Kaili) Dan Hj. Mariam Hadju (Gorontalo/Parigi), Seorang ibu rumah tangga yang sangat tekun mengasuh dan membesarkan putra/putrinya, sementara Alm. Aba Dault adalah seorang yang sangat sederhana dalam hidup, sangat bermasyarakat, jujur, disiplin, keras sekeras kehidupan yang dijalaninya dan tegas dalam prinsip yang kemudian menjadi karakter diri ‘Yuyu’ panggilan kesayangan kedua orang tuanya, demikian itu adalah hal yang ditanamkan orang tuanya sejak kecil dan terbangun dari lingkungan masyarakat kaili.
Adhyaksa kecil sering diajak orang tuanya untuk melihat dari dekat lingkungan sosial kemasyarakatan. Bahkan masih lekat dibenaknya sampai saat ini, dalam sholat tahajudnya maupun perenungan disela-sela kesendiriannya mengingat masa kecil yang bahagia walaupun serba kekurangan beliau menikmati berkeliling kampung naik ‘Dokar’ sambil melihat lebih dekat realitas kehidupan rakyat jelata, yang demikian itu menyadarkan beliau peka terhadap masalah kemanusian, keberpihakan pada wong cilik dan ke’umatan serta bersyukur atas setiap nikmat yang telah diraih walaupun hanya sebesar zarah.
Banyak pengalaman masa kecil yang tak lekang oleh zaman, menyadarkan dirinya terpanggil untuk turut membangun daerah secara nyata. Baginya berbuat untuk masyarakat di tanah kelahirannya adalah sebuah keharusan dan tanggungjawab moral yang siap dipikulnya bersama-sama dengan tokoh dan para pemimpin seniornya di daerah ini. Prinsipnya bekerja untuk masyarakat harus membagi peran dan diperlukan tokoh yang berjuang di jantung kekuasaan agar aspirasi masyarakat Sulawesi Tengah dapat tersalurkan.
Harapannya. kedepan untuk berdiri satu saf, bergandengan tangan, menghilangkan primordialisme dan SARA sehingga tidak terjadi lagi dimasa akan datang konflik dibumi Tadulako. Keinginannya menyatukan para tokoh dan pemimpin di propinsi yang dia cintai, untuk bersama-sama berjuang secara nasional mengangkat martabat propinsi Sulawesi Tengah. Agar masyarakat berani bertepuk dada dan berbangga sebagai putra daerah didalam pergaulan nasional.
Adhyaksa kecil hijrah ke Ibukota, melewati pendidikan SMP sampai dengan perguruan tinggi, di Jakarta. Didikan orang tua yang keras dan sarat dengan tantangan serta sangat religius-agamis, yang dikemudian hari membentuk watak dan mental Adhyaksa.
Mengawali karier sejak bangku SMP sampai Perguruan Tinggi. Memimpin berbagai organisasi dilingkungan sekolah sampai organisasi kemahasiswaan dijamannya dan pada akhirnya menghantarkan beliau dipercaya memimpin Dewan Pengurus Pusat Komite Nasional Pemuda Indonesia (DPP-KNPI) periode 1999-2002 dan Ketua DPP-MPI 2003-2006, kedua jabatan penting yang mencuatkan namanya.
Dikenal sangat kritis, pribadi yang kuat, memiliki jiwa kepemimpinan sejak belia. Baik sebagai mahasiswa maupun saat menjadi ketua dalam berbagai organisasi profesi bidang Hukum, mengawali karier sebagai pengacara mengikuti jejak orang tuanya sebagai seorang tokoh yang memiliki integritas nurani dalam menegakkan hukum dan kebenaran. Adhyaksa dikenal sebagai orang bersahaja dalam kesehariannya. Kesederhanaannya tidak berubah sampai saat ini.
Muda dalam usia, tetapi mempunyai segudang pengalaman dan karier cemerlang, untuk kemudian menjadi pertimbangan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono mempercayakan kementrian Pemuda dan Olahraga di bawah kepemimpinan beliau.
Pemuda fenomenal dan multitalenta ini tidak hanya bicara dan berteori. Memasuki usia lima tahun kepemimpinannya banyak langkah dan kebijakan pada kementrian pemuda dan olahraga yang telah ditorehkan dengan tinta emas oleh beliau. Semua pihak mengakui kepemimpinannya baik organisasi kepemudaaan, atlit, pelaku/pemerhati olahraga bahkan masyarakat umum. Adhyaksa sesungguhnya ingin membuktikan janjinya didepan pusara makam Alm. Ayahandanya sesaat setelah beliau dilantik. Beberapa langkahnya tak terduga dan tak jarang mengundang pro-kontra dilakukan dengan gagah berani.
Dinobatkan sebagai Tokoh Pemuda Paling Populer berdasarkan survey yang dilakukan sepanjang tahun 2008 oleh Institute Reform dan Menteri yang tergolong paling baik kinerjanya pada Kabinet SBY, mendapat gelar kanjeng pangeran Adhyaksa Negoro dari Kerathon Solo, sebuah gelar kehormatan kerajaan yang tidak mungkin diberikan bagi orang biasa, keturunan yang bukan berdarah biru terlebih lagi bukan keturunan Jawa, kecuali orang itu mempunyai prestasi maha dahsyat dan luarbiasa, namun kesemua hal itu tak membuat beliau silau dengan berbagai penghargaan yang disandangnya.
Baginya kepemimpinan adalah amanah dan setiap pemimpin akan dimintai pertanggungjawaban di hari kemudian. Hidupnya bagai air mengalir, tak pernah merencanakan karier, dalam pandangannya sesungguhnya Allah SWT telah mengatur jalan hidupnya hingga seperti ini bahkan baginya bukan mustahil untuk menjadi orang nomor satu dinegeri ini jika Alllah SWT menghendaki.
Sosok pemuda sangat menjaga akidahnya dan pribadi yang sangat menghargai orang tua dalam berbagai hal, mempunyai komitmen yang tinggi terhadap nasionalisme dan keagamaan. Tak pernah meninggalkan sholat lima waktu dan amalan puasa sering dilakukan, beristri Drg. Hj. Mira Arismunandar (Putri Jend. Purn. Wismoyo Arismunandar) wanita yang sangat sabar, lembut hatinya dan pendiam dipersuntingnya 15 tahun yang lalu dan dikarunia buah hati 2 (dua) Orang anak yaitu Umar Adiputra Adhyaksa (13 Thn) dan Fahira Mariam Putri Adhyaksa (9 Thn).
Sikap yang teguh terhadap keislaman dan keimanan tak membuat dirinya kaku dalam bermasyarakat, beliau sangat toleran dengan pemeluk agama lain. Potret dirinya adalah cerminan pemuda Indonesia modern.
Peraih gelar Doktor ilmu kelautan ini, Berani mengambil resiko, cerdas dalam berpikir, cakap dalam berbicara, matang dan cekatan dalam bertindak menjadikan beliau di segani kawan maupun lawan. Pengalaman spiritual yang dilaluinya menjadikan beliau hanya takut pada murka Sang Maha Pencipta melanda dirinya, keluarganya dan negeri. Miris menengok nasib bangsa yang sering ditimpa musibah membuat sajadahnya basah bersimbah airmata dalam sujud dan do’anya.
Banyak persoalan yang melanda negeri ini membuat menegpora tak henti-hentinya menuntut pemuda untuk berperan menjadi katalisator bagi persatuan bangsa.
Pria flamboyan, yang memiliki suara emas dan senang melantunkan lagu-lagu nostalgia ini, tanpa rasa sungkan bergaul dengan semua kalangan dari tukang sapu sampai Pejabat Negara, dari artis sampai alim ulama, hingga menjadi idola banyak kalangan. Saat ini menjadi sosok penting dalam percaturan politik nasional bukan karena jabatannya, namun karena pemikiran dan gagasannya yang cemerlang.
Memilih bernaung dibawah Partai Keadilan Sejahtera (PKS) karena ideologi dan kesamaan pandangan beliau dengan platform partai yang bersih, peduli dan profesional dalam memecahkan persoalan bangsa dan umat. (yar)
Kamis, 06 Mei 2010
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar