Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Sabtu, 08 Mei 2010

Orasi ilmiah Dr Sance Lipu ST M.Eng pada Puncak Harteknas Balibtangda Provinsi Sulteng

Sabtu, 08 Mei 2010
Peran Teknologi dalam Peningkatan Daya Saing Daerah

Umat manusia yang hidup di era sekarang ini, pasti bersinggungan dengan teknologi. Nyaris tidak ada sektor kehidupan yang tidak tersentuh oleh teknologi. Mengingat perannya yang sangat strategis dalam memajukan kualitas hidup manusia, maka sangat wajar jika pemerintah harus memanfaatkannya untuk kemajuan rakyatnya?.

YARDIN HASAN – RADAR SULTENG

DAYA saing daerah tidak mungkin berdiri sendiri. Daya saing daerah merupakan keadaan dan kenyataan yang bersifat dinamis dan cenderung subyektif, tergantung pihak mana yang menilai dan faktor mana saja yang menjadi argumen penilaian itu. Dr Sance Lipu ST M.Eng staf pengajar Fakultas Tekhik Untad saat membawakan orasi ilmiah pada puncak peringatan Hari Teknologi Nasional (Harteknas) Balitbangda Provinsi Sulteng memaparkan hal tersebut dan banyak hal menarik yang bisa menjadi masukan buat para pengambil kebijakan di daerah ini, bahwa teknologi sebagai salah satu komponen yang strategis memegang peran penting untuk meningkatkan daya saing daerah.

Daya saing imbuh Sance Lipu adalah tingkatan dimana suatu daerah dalam kondisi pasar yang bebas dan adil dapat menghasilkan nilai tambah (barang dan jasa) dalam pasar lokal, nasional maupun internasional secara lebih baik (dibanding dengan yang dilakukan pesaingnya) serta saat yang bersamaan mampu memelihara dan memperluas pendapatan riil masyarakat untuk periode jangka panjang. Secara spesifik daya saing merupakan pertumbuhan produktivitas secara berkelanjutan yang membawa kepada peningkatan standar hidup yang didorong oleh kualitas dari strategi dan pengoperasian bisnis, kualitas lingkungan ekonomi makro di daerah yang bersangkutan.

Berangkat dari pengertian tersebut,lantas dimana peluang daerah Sulawesi Tengah dalam menjadikan teknologi sebagai instrumen memajukan daya saingnya? Sance Lipu mengatakan, di Sulawesi Tengah ada beberapa bidang teknologi yang dapat diterapkan untuk meningkatkan daya saingnya. Pertama bioteknologi dapat digunakan untuk peningkatan daya saing dalam hal ini teknologi pangan. Contohnya adalah penemuan varietas baru tanaman pangan seperti padi, jagung dan tanaman keras salah satunya kakao yang tahan hama. Kemudian, rekayasa biomedis yang mengaplikasikan teknik dan prinsip teknik dalam bidang medis. Bidang ini menggabungkan kemampuan desain dan pemecahan masalah seorang insinyur dengan ilmu medis biologis. ‘’Hasil penggabungan ini membantu meningkatkan kesehatan pasien dan kualitas hidup individu,’’ tandas Sance.

Pada peringatan puncak Harteknas yang dihadiri oleh pimpinan SKPD se Sulteng, Perguruan Tinggi dan siswa SMA se kota Palu itu, Sance juga menyarankan saatnya pemerintah daerah melalui lembaga penelitian daerah melakukan rekayasa listrik. Misalnya, system penyediaan, distribusi dan menyimpan listrik baik dengan skala mikro maupun skala besar (ribuan megawatt). Rekayasa listrik ini tutur Sance Lipu, sangat dibutuhkan oleh Sulawesi Tengah yang sejak 20 tahun terakhir ini mengalami krisis listrik. Hal ini katanya dapat menjamin system penyediaan dan distribusi listrik yang dibutuhkan di Sulawesi Tengah, sehingga bisa menjamin system penyediaan dan distribusi (misalnya interkoneksi dan on grid system) serta penyimpanan listrik khususnya untuk daerah terpencil. Hal ini kata dia akan menggairahkan industri dan investor untuk masuk ke daerah ini.
Kemudian rekayasa lalu lintas ini dibutuhkan untuk perbaikan system lalu lintas dalam kota/kabupaten maupun konstruksi jalan antarkabupaten dan provinsi. Selain itu teknologi informasi adalah salah satu teknologi yang saat ini menjadi primadona. Dengan adanya teknologi informasi yang memadai mampu memberikan nilai yang signifikan untuk meningkatkan daya saing daerah, karena bisa memberikan data yang lengkap soal pertambahan penduduk, peringkat daya saing daerah, kondisi sumber daya alam dan SDM, infrastruktur serta system administrasi dan pemerintahan di Sulawesi Tengah.
Masih menurut Sance, yang tak kalah pentingnya adalah teknologi penyimpanan energy juga sangat bermanfaat bagi pemerintah daerah mengingat sebagian besar wilayah provinsi Sulawesi Tengah yang berbukit dan bergunung menyebabkan distribusi penduduk yang akan menggunakan teknologi juga sulit untuk dijangkau.

Sebagai daerah yang belum mempunyai industri memadai seperti daerah lainnya di Indonesia, Sance Lipu memandang perlunya pemerintah daerah tetap menggalakan teknologi tepat guna yang dapat dilakukan oleh masyarakat desa. Karena teknologi model ini katanya sangat bermanfaat untuk meningkatkan taraf hidup masyarakat Sulawesi Tengah.

Orasi ilmiah yang berlangsung di halaman Balitbangda Provinsi Sulteng itu secara keseluruhan merekomendasikan 15 buah teknologi yang bisa diaplikasikan untuk meningkatkan daya saing daerah. Namun untuk mengaplikasikan rekomendasi tersebut pemerintah dalam hal ini Balitbangda mempunyai keterbatasan. Salah satunya adalah dukungan dana. Untuk tahun anggaran 2009, lembaga yang dipimpin oleh Rahman Azis ini hanya kebagian jatah APBD sebesar Rp4 miliar lebih. dari jumlah tersebut sebagian besar tersedot ke gaji pegawai dan belanja rutin lainnya.
Menurut Ir Sri Purwaningsih MT salah satu pejabat di Balitbangda Sulteng, sesuai peraturan pemerintah, bahwa dana penelitian minimal 1 persen dari total APBD Sulteng. Rendahnya alokaasi dana untuk lembaga think thank Pemda ini tentunya berpengaruh pula pada kualitas penelitian yang dihasilkan. Namun seperti yang diungkapkan oleh Sri Purwaningsih, masalah ini tidak bisa menjadi kendala. Paling tidak semangat untuk menjadikan Balitbangda sebagai lembaga pemikir yang handal senantiasa terus digelorakan. (***)

0 komentar:

Posting Komentar