Home | Looking for something? Sign In | New here? Sign Up | Log out

Kamis, 06 Mei 2010

Melihat TPS Unik di RW 02 – Kelurahan Lolu Utara

Kamis, 06 Mei 2010
Melihat TPS Unik di RW 02 – Kelurahan Lolu Utara
Tampil Beda untuk Rangsang Warga datangi TPS

Di tengah apatisme warga terhadap pelaksanaan Pemilu, warga di RW 02 Kelurahan Lolu Utara berusaha untuk tampil beda. Mereka mendandani tempat pemungutan suara (TPS) nya secantik mungkin. Motivasinya untuk memancing antusiasme warga mendatangi TPS

LAPORAN: YARDIN HASAN

KESIBUKAN di rumah kediaman Abdul Gafar Ketua RW 02 Kelurahan Lolu, tiba-tiba meningkat drastis. Matahari senja yang membuat suasana di Jalan Gatot Subroto itu menjadi agak gelap, tidak membuat sejumlah warga menghentikan aktivitasnya. Mereka terlihat sibuk. Ada yang menyetel sound system, mengangkat meja, memasang dekorasi di bagian langit-langit tenda hingga mengatur kursi untuk para tamu. Sekilas tenda dan yang dilengkapi dengan dekorasi berwarna kuning keemasan mirip pesta perkawinan. Namun seperti yang dikemukakan, oleh Ketua RW 02, Abdul Gafar, mereka ingin membuat Pemilu kali ini tidak sekadar rutinitas lima tahunan tetapi harus meninggalkan kesan mendalam bagi warga khususnya di sekitar RW 02.

Orang-orang yang kebetulan lewat di TPS tersebut terpaksa harus menolah untuk sekadar memastikan adanya perubahan suasana yang sangat mencolok di tempat tersebut. Mereka lebih melihat-lihat sekeliling halaman yang banyak bertebaran asesoris layaknya hiasan pesta. Pada bagian pintu masuk yang hanya berjarak 2 meter dari jalan, berjuntai kain panjang warna kuning merah. Suasana pesta memang sangat terasa. Bahkan salah satu petugas yang sedang menyetel sound system berkelakar, seandainya mala mini (tadi malam, red) ada pengantin yang menikah, pihaknya bersedia meminjamkan tenda yang sudah lengkap dengan sound system itu untuk kepentingan pesta.

Menurut Gafar di TPS yang kelak menjadi tempat Gubernur HB Paliudju untuk mencoblos tersebut itu, para petugas PPS (panitia pemungutan suara) akan menggunakan pakaian adat Kaili. Ide untuk mendandani petugas PPS dengan busana adat tersebut, bukan karena TPS akan disinggahi Gubernur dan keluarga untuk menjalankan hak pilihnya. ‘’Sama sekali bukan karena Pak Gub memilih di sini lalu kami menggunakan pakaian adat. Kami hanya ingin agar suasana pesta demokrasi lebih meriah. Namanya kan pesta jadi harus lebih meriah,’’ beber Gafar.

Tak hanya mendandani TPS dengan warna ngejreng, Gafar mengaku menyiapkan makanan untuk para KPPS. Dananya ditanggung renteng oleh sesama warga RW 02. Sebenarnya katanya, pihak KPU sudah memberikan dana untuk biaya pembuatan TPS sebesar Rp500 ribu per TPS. Namun dengan adanya aksesoris tambahan seperti itu, biayanya membengkak hingga Rp2,5 juta rupiah.

Penampilan TPS 03 yang lain dari biasanya direspons positif oleh warga setempat. Hari Aziz, warga Jalan Nusa Indah termasuk salah satu warga yang memuji langkah kreatif ketua RW –nya tersebut. Menurut professional muda ini, ide kreatif tersebut perlu diapresiasi tidak saja oleh warga namun para penyelenggara Pemilu dalam hal ini KPU. Ide kreatif ini setidaknya akan merangsang warga untuk berpartisipasi menyukseskan Pemilu dengan mendatangi TPS untuk menggunakan hak pilihnya. Apalagi sebelum-sebelum ini imbuh Hari Aziz, apatis warga semakin meningkat karena Pemilu legislative diyakini belum mampu memberikan perubahan signifikan terhadap kehidupan masyarakat. Apalagi dengan banyaknya skandal-skandal anggota dewan selama ini semakin membuat rakyat kurang antusias menggunakan hak pilihnya. Selain itu, urainya, pelaksanaan Pemilu 2009 yang banyak menyisakan masalah setidaknya bisa mengurangi kredbilitas Pemilu 2009. ‘’Namun dengan adanya ide-ide kreatif yang dilakukan warga di tingkat akar rumput seperti mendandani TPS, ini bisa memancing warga untuk datang ke TPS. Mestinya KPU memberikan award kepada Ketua RW seperti ini,’’ kata alumni Unhas ini.

Pemandangan mengesankan di TPS 03 tersebut kontras dengan sejumlah TPS di sejumlah wilayah kota Palu. Pantauan Koran ini, TPS-TPS tersebut terkesan dibuat seadanya. Sekilas mirip tenda kedukaan di kampung-kampung. TPS-TPS itu didirikan di halaman rumah penduduk lalu dipasangi tenda. Di dalamnya berjejer kursi-kursi plastik dan meja biro yang sudah terkelupas. Kondisi tenda-tenda tersebut tidak menggambarkan sebuah hajatan pesta rakyat yang dirayakan secara massif oleh seluruh warga di negeri ini. Atau bisa saja, gambaran tenda-tenda seadanya itu sebagai refleksi dari hajatan demokrasi yang masih menyisakan bengkalai DPT yang hingga hari ini terus disorot.

Lepas dari keterbatasannya, kreativitas oleh sebagian warga tadi tentu perlu diapresiasi lebih yang lain. Dengan dana yang sangat terbatas, ternyata sebagian PPS bisa berkreasi demi lebih suksesnya Pemilu. Tentu pada masa yang akan datang, mudah-mudahan keunikan-keunikan hari ini menjadi inspirasi bagi TPS lain untuk menampilkan sesuatu yang lebih baik dan produktif lagi. Dan kepada penyelenggara Pemilu di atas KPPS, mudah-mudahan bisa memberi apresiasi lebih atas upaya pengurangan Golput ini. (***)

0 komentar:

Posting Komentar