f-yardin
UNTUK PENGABDIAN –Abi Azid memberikan arahan kepada peserta didik Paket B di SDN Kecil Uventumbu-Kawatuna Selasa (2 Mei 2009)
Abi Azid dan Nur Iradah, Tutor Paket B yang Mengabdi Demi Anak-Anak di Uventumbu
Honor Rapelan Tak Mampu Menopang Hidup Setahun
Menjadi Tutor di paket B (setingkat) SMP di pedesaan membutuhkan pengorbanan lebih. Selain keikhlasan untuk mengabdi, mereka juga harus mempunyai objekan lain untuk membuat asap dapur terus mengepul. Berikut pengakuan Abi Azid Penyelenggara Paket B dan Nur Iradah Tutor Paket B di Dusun Uventumbu-Kawatuna
LAPORAN: YARDIN HASAN
Udara sore di Kawasan Pegunungan Kawatuna terasa sejuk. Angin semilir berhembus disertai matahari senja merona merah mengiringi langkah para peternak menggiring ternaknya ke kandang. Suasana tenang dalam terpaan matahari sore membuat pemandangan bukit-bukit tandus menjadi sungguh indah. Tak heran jika kemudian pemerintah kota Palu menjadikan wilayah ini sebagai kawasan wisata alam.
Tak jauh dari tempat aktivitas peternak di bagian punggung bukit tandus berdiri sebuah bangunan permanen – satu-satunya bangunan permanen milik pemerintah yang ada di tempat itu.
Radar Sulteng mencoba bertanya kepada salah seorang peternak sekadar memastikan letak SDN kecil – sebutan warga Kawatuna untuk sekolah yang jaraknya sekitar 3 kilometer dari Kelurahan Kawatuna. Agak menurun ke punggung bukit, di situlah letak bangunan permanen yang dalam tiga hari seminggu menyelenggarakan belajar paket B untuk anak-anak usia sekolah di kawasan Dusun Uventumbu – Kawatuna.
Setelah masuk dalam ruangan, Abi Azid (32) tutor paket B yang sebelumnya memandu Radar Sulteng melalui telepon menyambut dengan ramah. Sekilas para peserta paket B yang umurnya belasan tahun itu, memandang kearah Radar Sulteng, seolah memastikan jika mereka akan mendapat tutor (guru) baru. Kebetulan Abi Azid tidak sedang membawakan mata pelajara tertentu. Pria yang sudah mengabdi di paket B sejak 2008 ini menjelaskan tata cara pengisian soal ujian paket B yang sebentar lagi harus dilalui.
‘’Mengajar di PKBM sangat berbeda dengan menghadapi murid di sekolah formal. Tidak saja karena kondisi siswa/siswi di sekolah kesetaraan yang butuh banyak perhatian, kesiapan mental harus ditempa setiap hari,’’ kata Abi Azid mengawali pembicaraan.
Keterikatan dengan warga belajar harus banyak diperhatikan, karena kebanyakan anak-anak program paket itu tidak sebanyak pengalaman anak-anak formal. Satu hal yang cukup terasa kata Abi Azid yang mengantongi SK sebagai guru di SDN kecil sejak 2003 ini, adalah daya serap para peserta didik. Daya serap yang lemah membuat proses belajar mengajar harus dilakukan secara telaten namun tetap fokus dan terarah. Agar pelajaran lebih mudah diterima turur Abi Azid, tutor harus menggunakan bahasa pengantar Kaili dialek Ledo.
Misalnya, jika mau membawakan pelajaran matematika maka warga belajar terlebih dahulu diingatkan dengan materi pelajaran yang sudah diajarkan terdahulu. ‘’Biasanya untuk mengingatkan dengan pelajaran sebelumnya, digunakan dengan pengantar bahasa Kaili. Setelah itu baru masuk ke pelajaran selanjutnya,’’ bebernya.
Hal yang sama juga dikemukakan oleh Nur Iradah tutor untuk pelajaran Bahasa Inggris. Berbeda dengan mengajar di sekolah formal, di pendidikan non formal kata Nur Iradah harus dilakukan secara kreatif. Misalnya untuk pelajaran Bahasa Inggris tidak cukup hanya dengan berdiri di kelas lalu menerangkan. Misalnya jika menyebutkan nama – nama hewan maka terlebih dahulu ia harus mencari gambar hewan dulu. Demikian juga kalau nama tumbuh-tumbuhan maka terlebih dahulu ia harus menyiapkan gambar tumbuhan yang dimaksud. ‘’Kalau diantar dengan alat peraga mereka lebih cepat tanggap,’’ jelasnya.
Dalam beberapa kali pengalamannya, ia tidak lagi menggunakan bahasa Indonesia sebagai pengantar. ‘’Supaya cepat nyambungnya dari bahasa Kaili langsung ke bahasa Inggris,’’ katanya tersenyum. Untuk bahan mengajar, mereka dibekali dengan kurikulum Pendidikan Luar Sekolah yang dikeluarkan oleh Departemen Pendidikan Nasional. Namun dalam tataran aksi baik Abi Azid maupun Nur Iradah mengaku metode yang dilakukan harus diolah sendiri sesuai kondisi dan karakteristik peserta didik pada saat itu. Keduanya juga mengaku, mengajar di Paket B memang mempunyai tantangan tersendiri. Selain harus sabar dan telaten, kompensasi dari jerih payah itu juga tidak sepadan dengan tenaga dan waktu yang dikorbankan. Kendala serius yang kerap dihadapi adalah jika ada peserta didik malas sekolah, maka sebagai penyelenggara Paket B, Abi Azid mengambil inisiatif mendatangi mereka di pemukiman untuk diajak agar mau ke sekolah. Atau yang paling gampang, seusai salat Jumat, orang tua diimbau agar menyuruh anak-anaknya ke sekolah. Memang katanya jarak antara sekolah dan Dusun Uventumbu relative jauh antara 2 hingga 4 kilometer apalagi jika harus ditempuh dengan jalan kaki.
Abi Azid mengaku sebagai orang yang hidup dan dibesarkan di lingkungannya, ia bertekad untuk menerima tantangan itu, dengan harapan tidak ada lagi anak-anak usia sekolah di Kawatuna yang tidak bisa baca tulis hanya karena alasan-alasan klise yang sebenarnya mudah dicarikan jalan keluarnya. ‘’Jangan karena jarak yang jauh atau karena factor ekonomi anak-anak lantas dibiarkan buta huruf,’’ katanya prihatin. Alasan itulah yang tidak membuatnya mundur walau hanya mendapat honor Rp220 ribu perbulan. Walau pun belum mempunyai momongan namun dengan honor Rp220 ribu perbulan jelas saja tidak cukup. Nur Iradah yang ditanyai soal honornya juga mengaku tidak menjadikan honor sebagai kendala terjun di medan pengabdian ini. ‘’Saya ingin berbagi ilmu dengan saudara-saudara saya yang mungkin belum beruntung. Saya tidak punya uang untuk dibagi tapi saya punya ilmu untuk diberikan kepada mereka. Kalau ada diantara saudara-saudara saya yang buta huruf, maka kita-kita inilah yang mesti bertanggungjawab,’’ kata Nur Iradah sembari menghela napas panjang.
Jika harus mengharapkan honor tutor jelas tidak bisa membuat asap dapur terus mengepul. Apalagi honor-honor itu diterima rapelan. Abi Azid mengaku karena tuntutan kondisi, walaupun sudah terdaftar sebagai PNS dirinya masih menyempatkan diri untuk membuka kebun kacang dan jagung di daerah seputar Bandara Mutiara. ‘’Hasilnya lumayan,’’ katanya tertawa.
Kepada teman-teman sesama tutor, Abi Azid mencoba menyemangati mereka. ‘’Kita harus terus mengajar anak-anak. Kalau bukan kita, lantas kita berharap pada siapa lagi. Soal honor hitung-hitung sebagai tabungan yang diterima akhir tahun,’’ ucap Abi Azid mencoba menyemangati teman-temannya.
Semangat inilah yang terus memotivasi ia dan teman-temannya sehingga proses belajar mengajar di Paket B yang kini tinggal menyisakan 10 orang itu terus berlangsung hingga kini. ***
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

0 komentar:
Posting Komentar